"Na na na na... lalalalalaaa,"
Suara itu terdengar merdu, senandung lagu yang sangat jarang terdengar dari mulut seorang Thania. Gadis itu bersenandung ria sambil menggerakkan jarum ditangannya. Rajutan itu terlihat begitu indah, seindah jemari-jemarinya yang menari memainkan jarum dan benang.
"Thania, apakah kamu tidak lapar? cepat masuk kerumah dan lanjutkan rajutanmu nanti," Ibu Thania menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
"Nanti saja bu, Thania belum lapar, Thania ingin menyelesaikan rajutan Thania dulu," Thania tetap duduk diatas pohon yang berada di depan rumahnya. Pohon rambutan itu memiliki cabang yang banyak sehingga sangat nyaman dijadikan tempat untuk bersantai.
"Thania, nanti akan ada keluarga Pak Rahmat datang berkunjung ke rumah kita bersama anaknya. Kamu harus siap-siap ya, jangan duduk diatas pohon seperti itu," Ibu Thania kembali mengingatkan Thania.
Thania kali ini merasa sangat kesal, tapi ia tidak pernah membantah kata-kata ibunya. Ia lihat benang yang ada di saku bajunya.
"Tinggal benang terakhir, seharusnya aku bisa menyelesaikan syal ini," Thania memasukkan benang itu ke dalam sakunya, tapi benang itu terjatuh. Thania cepat-cepat menyambar benang yang terurai, tapi sayang ia tidak bisa menggapainya, kini malah tubuhnya yang terhuyung jatuh dari pohon.
Thania tidak bisa mengingat apapun, semuanya terlihat gelap, yang ia rasakan terakhir adalah benturan yang keras di kepalanya. Ibu Thania menangis, ia tidak percaya dengan apa yang menimpa putrinya, ia masih ingat bagaimana putrinya bersenandung dan memainkan jari-jarinya yang indah untuk merajut sebuah syal berwarna merah muda itu. Ibu Thania memeluk syal itu, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Thania.
Seorang pemuda datang menghampiri ibu Thania, ia memandang ibu Thania dengan tatapan sedih. Diraihnya tangan ibu Thania, di peluknya tubuh renta itu hingga terisak dalam pelukannya.
"Ibu jangan menangis, saya yakin Thania baik-baik saja," Pemuda itu mencoba untuk menenangkan ibu Thania.
Sebulan telah berlalu, Thania berhasil melewati masa kritisnya, namun sayang ia harus kehilangan penglihatannya.
"Maafkan Thania bu, karena Thania tidak bisa menjadi anak yang baik untuk ibu," Thania menangis dihadapan ibunya, ia merasa menjadi anak yang tak berguna karena selalu membuat ibunya sedih.
"Tidak nak, kamu adalah anak terbaik yang ibu miliki," Ibu Thania memeluk erat putrinya tersebut.
"Thania, ini Ikhsan, anaknya pak Rahmat yang waktu itu mau berkunjung kerumah kita, kamu masih ingat?" Ibu Thania memperkenalkan pemuda yanng sejak tadi berdiri disamping Thania.
"Oh iya, yang ibu bilang waktu itu mau berkunjung kerumah kita kan?" Thania mencoba mengingat peristiwa sebelum ia terjatuh.
"Iya benar,"
"Thania, sebenarnya saya kemari ingin meyampaikan niat saya yang sempat tertunda sebulan yang lalu," Ikhsan berkata dengan sangat hati-hati.
"Iya, maaf karena saya jadi merepotkan kalian semua," Thania merasa tak enak hati kepada Ikhsan.
Hanya mendengar suaranya saja Thania bisa tahu kalau Ikhsan adalah anak yang baik. Suaranya begitu lembut dan menenangkan hati.
"Tidak, kamu tidak bersalah. Baiklah Thania, dengan mengucap Bismillah saya berniat untuk menjadikan kamu sebagai pendamping saya di dunia dan menjadi bidadari saya di syurga nanti, apakah engkau bersedia?"
Thania terpaku mendengar kata-kata Ikhsan yang begitu tiba-tiba, ia tidak percaya dengan semuanya.
"Tapi, saya sudah tidak sempurna, saya sudah cacat, apakah kamu mau memiliki seorang istri yang buta seperti saya?" Thania terisak disela kalimatnya, ia merasa tidak pantas bersanding dengan Ikhsan.
"Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah, saya sudah yakin dengan pilihan saya bahwa kamulah yang akan menjadi pendamping saya bagaimanapun keadaan kamu, sesungguhnya kita diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi satu sama lain, untuk saling mengingatkan satu sama lain, bukan untuk saling menunjukkan kelebihan masing-masing, saya sebagai kaum Adam tidak akan sempurna tanpa kehadiran kaum Hawa, dan saya ingin kamulah yang melengkapi hidup saya," Ikhsan berkata dengan sangat yakin.
Thania tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis. ia kagum pada Ikhsan yang mau menerima dirinya apa adanya.
Akad pun dilaksanakan, kini Ikhsan dan Thania resmi menjadi sepasang suami istri. Thania duduk dihalaman rumah barunya, rumah yang ia tempati bersama suaminya, Ikhsan. Thania memegang syal yang belum sempat ia selesaikan dulu. ia menghela nafas panjang, ia sedih karena tidak bisa menyelesaikan syal itu, padahal ia berniat memberikan syal tersebut sebagai hadiah untuk suaminya kelak, siapapun itu, dan kini ia sudah mempunyai suami, tapi syal itu tak bisa ia berikan.
Ikhsan datang dari belakang Thania dana memeluknya dengan lembut.
"Kenapa menangis?" ia mengusap airmata Thania.
"Maafkan aku karena tidak bisa memberikan syal ini untukmu, aku tidak bisa merajut benang terakhir ini," Thania terisak dalam pelukan Ikhsan.
"Kamu bisa menyelesaikannya, kita akan menyelesaikan syal ini," Ikhsan meraih tangan Thania yang memegang jarum rajut, ia membimbing tangan Thania menyusun pola pada benang tersebut hingga menjadi syal yang cantik.
"Jika dibuat bersama syal ini lebih istimewa, karena setiap benangnya terikat oleh cinta kita," Ikhsan memasangkan syal tersebut di leher Thania, ia terkagum menatap wajah cantik istrinya tersebut, ia mengecup lembut kening Thania.
Thania tersenyum bahagia, sungguh beruntung dirinya mendapatkan suami seperti ikhsan.
Terimakasih Tuhan karena telah mengirimkan seorang imam seperti Ikhsan, jangan pisahkan kami sampai kapanpun, satukanlah kami hingga di syurga-Mu nanti.
Sebulan telah berlalu, Thania berhasil melewati masa kritisnya, namun sayang ia harus kehilangan penglihatannya.
"Maafkan Thania bu, karena Thania tidak bisa menjadi anak yang baik untuk ibu," Thania menangis dihadapan ibunya, ia merasa menjadi anak yang tak berguna karena selalu membuat ibunya sedih.
"Tidak nak, kamu adalah anak terbaik yang ibu miliki," Ibu Thania memeluk erat putrinya tersebut.
"Thania, ini Ikhsan, anaknya pak Rahmat yang waktu itu mau berkunjung kerumah kita, kamu masih ingat?" Ibu Thania memperkenalkan pemuda yanng sejak tadi berdiri disamping Thania.
"Oh iya, yang ibu bilang waktu itu mau berkunjung kerumah kita kan?" Thania mencoba mengingat peristiwa sebelum ia terjatuh.
"Iya benar,"
"Thania, sebenarnya saya kemari ingin meyampaikan niat saya yang sempat tertunda sebulan yang lalu," Ikhsan berkata dengan sangat hati-hati.
"Iya, maaf karena saya jadi merepotkan kalian semua," Thania merasa tak enak hati kepada Ikhsan.
Hanya mendengar suaranya saja Thania bisa tahu kalau Ikhsan adalah anak yang baik. Suaranya begitu lembut dan menenangkan hati.
"Tidak, kamu tidak bersalah. Baiklah Thania, dengan mengucap Bismillah saya berniat untuk menjadikan kamu sebagai pendamping saya di dunia dan menjadi bidadari saya di syurga nanti, apakah engkau bersedia?"
Thania terpaku mendengar kata-kata Ikhsan yang begitu tiba-tiba, ia tidak percaya dengan semuanya.
"Tapi, saya sudah tidak sempurna, saya sudah cacat, apakah kamu mau memiliki seorang istri yang buta seperti saya?" Thania terisak disela kalimatnya, ia merasa tidak pantas bersanding dengan Ikhsan.
"Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah, saya sudah yakin dengan pilihan saya bahwa kamulah yang akan menjadi pendamping saya bagaimanapun keadaan kamu, sesungguhnya kita diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi satu sama lain, untuk saling mengingatkan satu sama lain, bukan untuk saling menunjukkan kelebihan masing-masing, saya sebagai kaum Adam tidak akan sempurna tanpa kehadiran kaum Hawa, dan saya ingin kamulah yang melengkapi hidup saya," Ikhsan berkata dengan sangat yakin.
Thania tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis. ia kagum pada Ikhsan yang mau menerima dirinya apa adanya.
Akad pun dilaksanakan, kini Ikhsan dan Thania resmi menjadi sepasang suami istri. Thania duduk dihalaman rumah barunya, rumah yang ia tempati bersama suaminya, Ikhsan. Thania memegang syal yang belum sempat ia selesaikan dulu. ia menghela nafas panjang, ia sedih karena tidak bisa menyelesaikan syal itu, padahal ia berniat memberikan syal tersebut sebagai hadiah untuk suaminya kelak, siapapun itu, dan kini ia sudah mempunyai suami, tapi syal itu tak bisa ia berikan.
Ikhsan datang dari belakang Thania dana memeluknya dengan lembut.
"Kenapa menangis?" ia mengusap airmata Thania.
"Maafkan aku karena tidak bisa memberikan syal ini untukmu, aku tidak bisa merajut benang terakhir ini," Thania terisak dalam pelukan Ikhsan.
"Kamu bisa menyelesaikannya, kita akan menyelesaikan syal ini," Ikhsan meraih tangan Thania yang memegang jarum rajut, ia membimbing tangan Thania menyusun pola pada benang tersebut hingga menjadi syal yang cantik.
"Jika dibuat bersama syal ini lebih istimewa, karena setiap benangnya terikat oleh cinta kita," Ikhsan memasangkan syal tersebut di leher Thania, ia terkagum menatap wajah cantik istrinya tersebut, ia mengecup lembut kening Thania.
Thania tersenyum bahagia, sungguh beruntung dirinya mendapatkan suami seperti ikhsan.
Terimakasih Tuhan karena telah mengirimkan seorang imam seperti Ikhsan, jangan pisahkan kami sampai kapanpun, satukanlah kami hingga di syurga-Mu nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar