Kamis, 24 Mei 2018

Hanya Ingin

Terkadang ada pesan yang tak tersampaikan
Ada maaf yang tak mampu terucap
Ada rasa yang membelenggu
Ada salah yang tak terlihat

Terkadang,
Terlintas tatapan itu dimatanya
Entah aku yang terlalu perasa
Atau memang itu yang ia rasa
Aku tak mengerti

Entah maaf ini bermakna
Atau hanya sekedar kata yang tak dianggap
Aku hanya ingin menyampaikan

Kepada engkau yang terluka
Kepada engkau yang merasa terbebani
Kepada engkau,
Yang mungkin menyembunyikan benci

Maaf jika kata ini menyayat hatimu
Maaf jika kata ini merusak harimu
Maaf jika tingkah ini mengganggu dirimu

Kadang aku tak tahu
Apakah yang kulakukan salah atau benar
Aku hanya ingin menjadi diriku
Menjadi seperti apa  yang aku mau

Terkadang aku memang egois
Terkadang aku memang tak dewasa
Bersikap semauku
Memilih sesukaku

Bukan tak ingin disalahkan
Bukan tak ingin menjadi dewasa
Bukan ingin menutup diri
Tapi aku hanya ingin menjadi diriku sendiri

Sabtu, 19 Mei 2018

Bukan Pangeran

Aku berjalan menyusuri koridor kampus, memperhatikan setiap langkah mahasiswa yang berlalu lalang. Langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang kukenal. Aku berlari menghampirinya dan berjalan disampingnya.

"Selamat pagi pangeran kuda putih," Aku tersenyum menyapanya.

"Pagi juga tuan putri," ia membalas sapaanku.

"Aku bukan seorang putri, aku adalah penyihir cantik," aku selalu tidak mau dipanggil tuan putri, dari dulu aku ingin menjadi pendekar atau penyihir yang mempunyai senjata andalan.

"Ya ya nenek sihir," ia tertawa menatapku.

"Memangnya aku sudah kelihatan tua seperti nenek-nenek?" aku cemberut mendengar kata-kata Maulana.

"Iya kelihatan tua kalau marah-marah terus," ia mengusap kepalaku seperti anak kecil.

Sifat Maulana yang lembut dan baik hati bak pangeran itu membuat siapa saja luluh padanya. Aku salah satunya, aku mengagumi sifatnya, disaat orang lain pergi menjauhiku, dia hadir mendekat dan membuatku tidak merasa sendiri. Saat aku membutuhkan bantuan dia selalu datang padakau, seperti sosok pangeran berkuda putih.

"Oh ya, happy birthday pangeran kuda putih," aku mengeluarkan sebuah bingkisan berisi hadiah untuk Maulana.

"Ini apa? untukku?" tanyanya mencoba meyakinkan.

"Iyalah buat kamu, masa iya buat Triya aku kasih ke kamu," 

"Wahh aku ngga nyangka kamu kasih hadiah ke aku, wahh," ia menatapku tak percaya.

Aku tersenyum melihat Maulana menerima hadiah dariku. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa gelisah sendiri.

"Terimakasih Lia, tunggu pesan dari aku ya, dah Lia aku pergi duluan ya," Maulana tersenyum menatapku sambil melangkah pergi.

Aku terpaku menatapnya, dadaku terasa sesak, rasanya sulit untuk bernafas. Pesan apa yang akan ia kirim padaku?

"Wah! Lia kamu kasih hadiah ke Maulana, wah ada apa nih? padahal kamu tidak pernah kasih hadiah ke siapapun, apalagi laki-laki, wah pasti ada apa-apanya nih," tiba-tiba salah seorang teman sekelasku lewat.
Aku terdiam mendengar perkataanya. Waduh, bisa jadi gosip ini, gawat, nanti Maulana marah gimana dong. Aku panik sendiri. Awalnya aku memang tidak berniat memberikan hadiah pada Maulana, tapi ketika aku berjalan-jalan ditoko aksesoris aku melihat sebuah kotak musik berbentuk gitar dengan motif kuda putih, saat melihatnya tiba-tiba saja aku teringat pada Maulana, dan akhirnya aku membeli kotak musik itu.

Sesampainya di kelas aku melihat kado yang kuberikan pada Maulana tadi diperebutkan oleh teman-teman sekelasku. Maulana mengejar mereka untuk mengambil kado tersebut.

"Eh kembalikan dong," Maulana merebut kado itu dan menyimpannya didalam tasnya.

Aku diam saja dibangku paling pojok, aku tidak berani melihat kearah mereka. tiba-tiba Triya datang menghampiriku, ia menuliskan sebuah kalimat di selembar kertas.

'Kamu kasih kado apa ke Maulana?'

Aku membalas pertanyaannya dikertas tersebut.
'Kepo ya' (kepo=banyak tanya/ingin tahu).

'Kamu suka Maulana?'

'Ngga tahu'

'Kalau cewek, ngga tahu=iya'

'Tadi dia bilang mau kirim pesan ke aku, kok aku jadi deg-degan ya' 

'Cieee, tunggu aja, siapa tahu dia nembak kamu'

'Ngga mungkin lah'

'Bisa jadi, semangat Lia!'

'Aku takut digosipin'

'ini bukan gosip tapi fakta'

'Tapi aku ngga niat kasih dia kado, tadi tuh aku lihat sebuah benda dan ketika lihat benda itu aku teringat Maulana, makanya aku beli benda itu dan kasih ke dia'

'Ya udah kita tunggu aja pesan dari dia nanti, selamat penasaran ya :)'

Aku dan Triya memang sering membicarakan hal-hal pribadi atau rahasia melalui kertas, agar tidak ketahuan oleh teman yang lain.

Malam harinya aku melihat ada notifikasi di instagramku. Ternyata itu storygram dari Maulana.

'Terimakasih ya hadiahnya, terbaiklah temanku satu ini @lia01'

Aku tersenyum melihatnya, tapi ada sedikit rasa kecewa, ternyata pesan yang ia kirim hanya ucapan terimkasih di storygram. Aku kira ia akan mengirimkan personal chat yang panjang tentang ucapan terimakasih, atau ucapan permintaan maaf karena salah paham dengan pemberianku, atau dia mengira aku suka padanya. ternyata khayalanku terlalu tinggi.

Sejak hari itu aku resmi menjadi orang yang suka terhadap Maulana. Bukan aku yang mengatakan itu, tapi semua teman-temanku. Aku hanya diam, heran dengan mereka yang terlalu cepat menyimpulkan, sementara aku masih belum tahu apakah aku suka pada Maulana atau tidak. Tapi sejak hari itu ada sedikit rasa canggung antara aku dan Maulana. Kalau tahu begini kemarin aku tidak usah memberikan hadiah untuk Maulana, tapi aku tidak boleh menyesal juga, toh aku ikhlas memberi dia hadiah.

Sebisa mungkin aku menghilangkan rasa canggung itu, mencoba bersikap biasa saja. Ingin menghinndar dari Maulana tapi tidak bisa, karena aku selalu satu kelompok dengannya. Sejujurnya aku malu karena ada gosip yang menyebar. Seolah-olah aku yang mengejar Maulana, atau aku meminta Maulana menjadi pacarku. Ya sudahlah semua sudah terlanjur. 

Lama semakin lama, karena seringnya disangka suka kepada Maulana, aku menjadi goyah dengan pendirianku, aku bingung sendiri dengan sikapku, aku berpikir 'jangan-jangan aku memang suka pada Maulana'. Berhari-hari aku memikirkan masalah satu ini. Setiap hari aku memperhatikan Maulana untuk meyakinkan hatiku. Tapi selama itu juga aku belum bisa membuat keputusan.

"Lia, kamu tahu ngga, katanya Maulana itu suka dengan Yulia," Triya tiba-tiba membicarakan Maulana.

"Oh ya? bukannya Kurnia juga suka ya sama Yulia, kasihan dong Maulana kalau gitu," wajar sih kalau banyak yang suka pada Yulia. Dia anak yang cantik dan pintar dikelasku, semua anak laki-laki suka padanya.

"Aku juga bilang gitu ke Maulana, tapi katanya dia tetap mau memperjuangkan Yulia," 

"Baguslah kalau gitu, berarti dia tipe orang yang tidak mudah menyerah," aku menghela nafas.

"Sabar ya Lia, kalau kalian memang jodoh, dan kamu terus berjuang, lama-lama pasti Maulana akan menyadari perasaan kamu ke dia," Triya memberi semangat kepadaku.

"Haha, Iya Triya makasih ya,"

Satu hal yang ku tanyakan pada diriku sendiri setelah mendengar berita dari Triya, 'Kok aku ngga sakit hati ya? kok aku ngga cemburu, padahal kan dia pangeranku?'

Semakin lama berita kedekatan Maulana dan Yulia semakin menyebar, ditambah lagi aku sering melihat Maulana mengantar Yulia pulang atau pergi ke kampus. Aku hanya diam melihat mereka, tidak berani memberikan komentar apapun, karena aku tahu aku sudah dijadikan tokoh penyihir yang berada diantara kisah cinta pangeran dan tuan putri oleh teman-temanku. Tatapan kasihan mereka membuatku merasa tak nyaman, aku tidak mau menjadi penyihir jahat yang menghancurkan hubungan pangeran dan tuan putri.

Hingga suatu hari Maulana mengungkapkan perasaannya pada Yulia dihadapan teman-temanku, termasuk aku. Yulia tidak langsung menjawab, ia mentapku. Aku jadi salah tingkah dengan tatapan Yulia.

"Tapi Maulana, aku tidak bisa menerima cintamu diatas penderitaan orang lain, aku takut menyakiti hati orang lain," 

Kata-kata Yulia sangat mengejutkanku, spontan semua mata yang ada disana tertuju padaku. Aku jadi salah tingkah dan bingung. Aku melihat raut wajah kekecewaan Maulana. Yulia berjalan mendekatiku.

"Maafkan aku Lia," dia menangis.

Aku makin terkejut. Aku menatap mata Yulia dan tersenyum ditengah kegugupanku.

"Jangan meminta maaf Yulia, kamu tidak salah. Aku bukan seorang putri, Maulana tidak pantas bersanding denganku, aku adalah seorang penyihir, aku tidak pernah mau menjadi seorang putri. Sudah sepantasnya seorang pangeran bersama dengan seorang putri, dan putri itu adalah kamu, bukan aku. Aku tidak pernah mengharapkan seorang pangeran, yang aku tunggu selama ini adalah seorang ksatria. Mungkin selama ini semua orang menganggap aku berada diantara cinta kalian berdua, tapi kalian harus tahu, aku tidak pernah ingin menjadi penyihir jahat yang memisahkan pangeran dari sang putri. Jika kamu yakin bahwa Maulana adalah pangeran yang kamu tunggu, maka sambutlah tangannya, terimalah cintanya, dan hiduplah bahagia bersamanya," Aku memeluk Yulia.

Yulia terisak dalam pelukanku. Aku melepaskan pelukanku dan membiarkan Yulia menghampiri Maulana. Aku bisa melihat kebahagiaan terpancar dari mata Maulana, begitupun Yulia. Aku tidak ingin ada keraguan diantara mereka yang disebabkan olehku. Aku merasa lega bisa menyelesaikan masalah ini. Semua yang ada disana bertepuk tangan menyaksikan pangeran dan tuan putri yang sudah bertemu.

Hari berat yang kulalui selama ini sudah berakhir kemarin. Hari ini suasananya berbeda, terasa lebih nyaman dan ringan. Seperti beban berat dipundakku sudah terbuang jauh.

"Selamat ulang tahun penyihir cantik!" aku terkejut ketika Maulana dan Yulia tiba-tiba muncul dihadapanku. 

Kue ulang tahun berbentuk topi sihir dan dihias dengan lilin-lilin cantik tiba-tiba ada dihadapanku. Semua teman-temanku bernyanyi merayakan hari ulang tahunku. Aku sangat terharu sekali, sepertinya pandangan mereka sudah berubah terhadapku.

"Wahhh terimaksih banyak pangeran, tuan putri, dan teman-teman semua," rasanya aku ingin menitikkan airmata.

"Make a wish sebelum meniup lilinnya ya,"

Aku menutup mataku dan memanjatkan sebuah do'a. 
'Semoga aku bisa bertemu dengan ksatriaku yang gagah berani, yang pantang menyerah walau panas, badai, dan jarak memisahkan kami'

Selesai memanjatkan do'a aku meniup lilin-lilin itu. Tak lupa aku mengabadikan moment spesial ini dalam sebuha foto. Aku berlari sambil melompat-lompat kecil ketika pulang, tak henti-hentinya kupandangi foto itu. Aku merasa menjadi penyihir yang paling bahagia.
Tiba-tiba seseorang terjatuh dihadapanku, ia terguling bersama sepeda yang ia kendarai. Aku terkejut dan spontan langsung menghentikan langkahku. Orang tersebut cepat-cepat berdiri dan tersenyum padaku.

"Hai," ia menyapaku dan malambaikan tangannya.

"Selamat ulang tahun," ia memberiku sekuntum bunga berduri, bukan mawar, tapi kaktus.

Aku terpaku menatapnya, aku tidak percaya orang ini ada dihadapanku.

"Kamu tidak suka bunganya?" ia bertanya padaku, karena sejak tadi aku tidak mengambil bunga yang ia berikan padaku.

"Suka, aku sangat suka kaktus," aku mengambil bunga itu dan menatapnya takjub.

"Maaf ya bunganya jelek gara-gara jatuh tadi, hehe," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Aku memukul kepalanya

"Hirsyaaaa, kamu bego! kenapa tiba-tiba kamu muncul dihadapanku seperti itu, kamu mau buat aku jantungan hah?" Aku terkejut melihat anak satu itu tiba-tiba muncul dihadapanku, padahal dia kuliah di Jogja.

"Wahh aku jauh-jauh kesini dari Jogja naik sepeda bukannya disambut dengan pelukan tapi malah dikasih pukulan, tega ya kamu," ia cemberut kearahku.

"Kamu naik sepeda dari Jogja?" Aku makin terkejut.

"Iya," dia menjawab sambil tersenyum.

"Ini sepeda kesayanganku, aku ingin mengajak kamu jalan-jalan keliling bogor menggunakan sepeda. Mungkin aku bukan seperti pangeran-pangeran yang bisa mengajakmu pergi menggunakan kereta kencana atau kuda putih, tapi aku siap membawamu kemanapun kamu mau dengan kendaraan ajaibku ini, sepeda" ia berkata dengan yakin.

Jujur aku terkesima melihat perjuangannya. Bayangkan saja, seberapa jauhnnya ia membawa sepeda dari Jogja ke Bogor.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, ku lihat nama kontak mama Hirsya tertera dilayar ponselku.

"Halo Tante,"

'Lia, apa Hirsya sudah sampai Bogor, tante khawatir karena dia mau ke Bogor naik sepeda. Katanya dia mau menemui calon menantu tante'

"Hah calon menantu?" aku terkejut mendengar kata-kata mamanya Hirsya.

'Oh iya, selamat ulang tahun sayang, mulai sekarang panggil mama ya, jangan panggil tante lagi. Kalau Hirsya macam-macam disana kasih tahu mama aja, apalagi kalau dia lirik-lirik perempuan lain, laporin aja ke mama ya,'

"Haha, siap mama" aku tertawa sendiri, aneh rasanya aku memanggil mamanya Hirsya dengan sebutan mama.

Hirsya tertawa mendengar aku memanggil mamanya dengan sebutan mama.

"Sepertinya orangtuaku sudah setuju kalau kamu jadi pendampingku, kamu siapkan menemani aku mengembara?" Hirsya mengulurkan tangannya, menunggu jawabanku, apakah aku mau menyambut tangannya atau menolaknya.

"Tapi kan kamu belum bilang ke orangtuaku," aku masih belum menyambut tangan Hirsya.

"Haha, aku yakin orangtuamu mengizinkan, tidak mungkin mereka menolak menantu tampan seperti aku," 

Aku tertawa mendengar jawaban Hirsya. Aku menyambut uluran tangannya. Hirsya mengantarku pulang kekontrakan menggunakan sepedanya. Aku bahagia sekali hari ini.

Aku terkejut, inikah ksatriaku, seseorang yang dulu pernah menolakku walaupun aku tidak pernah berkata bahwa aku suka padanya. Aku selalu tertawa jika teringat hal itu.

"Lia, aku memang suka sama kamu, tapi aku tidak mau pacaran, suatu saat nanti aku pasti akan jadikan kamu pendampingku, tapi jangan jatuh cinta padaku sekarang, karena aku tidak bisa membalasnya"

Itu perkataannya dulu waktu kami masih duduk dibangku SMP, aku terkejut waktu itu, karena ditolak sebelum menyatakan. Padahal dulu aku tidak pernah berfikir untuk suka padanya, aku hanya menganggapnya teman. Tapi sekarang dia benar-benar mebuktikan perkataannya, dia berhasil membuatku jatuh cinta dan memilihnya sebagai ksatriaku.

Ya, aku bukan seorang putri yang menantikan pangeran berkuda putih, tapi aku adalah penyihir yang menantikan seorang ksatria yang gagah berani.

 

Benang Terakhir

"Na na na na... lalalalalaaa,"

Suara itu terdengar merdu, senandung lagu yang sangat jarang terdengar dari mulut seorang Thania. Gadis itu bersenandung ria sambil menggerakkan jarum ditangannya. Rajutan itu terlihat begitu indah, seindah jemari-jemarinya yang menari memainkan jarum dan benang.

"Thania, apakah kamu tidak lapar? cepat masuk kerumah dan lanjutkan rajutanmu nanti," Ibu Thania menyuruhnya masuk ke dalam rumah.

"Nanti saja bu, Thania belum lapar, Thania ingin menyelesaikan rajutan Thania dulu," Thania tetap duduk diatas pohon yang berada di depan rumahnya. Pohon rambutan itu memiliki cabang yang banyak sehingga sangat nyaman dijadikan tempat untuk bersantai.

"Thania, nanti akan ada keluarga Pak Rahmat datang berkunjung ke rumah kita bersama anaknya. Kamu harus siap-siap ya, jangan duduk diatas pohon seperti itu," Ibu Thania kembali mengingatkan Thania.

Thania kali ini merasa sangat kesal, tapi ia tidak pernah membantah kata-kata ibunya. Ia lihat benang yang ada di saku bajunya. 

"Tinggal benang terakhir, seharusnya aku bisa menyelesaikan syal ini," Thania memasukkan benang itu ke dalam sakunya, tapi benang itu terjatuh. Thania cepat-cepat menyambar benang yang terurai, tapi sayang ia tidak bisa menggapainya, kini malah tubuhnya yang terhuyung jatuh dari pohon.

Thania tidak bisa mengingat apapun, semuanya terlihat gelap, yang ia rasakan terakhir adalah benturan yang keras di kepalanya. Ibu Thania menangis, ia tidak percaya dengan apa yang menimpa putrinya, ia masih ingat bagaimana putrinya bersenandung dan memainkan jari-jarinya yang indah untuk merajut sebuah syal berwarna merah muda itu. Ibu Thania memeluk syal itu, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Thania.

Seorang pemuda datang menghampiri ibu Thania, ia memandang ibu Thania dengan tatapan sedih. Diraihnya tangan ibu Thania, di peluknya tubuh renta itu hingga terisak dalam pelukannya.

"Ibu jangan menangis, saya yakin Thania baik-baik saja," Pemuda itu mencoba untuk menenangkan ibu Thania.

Sebulan telah berlalu, Thania berhasil melewati masa kritisnya, namun sayang ia harus kehilangan penglihatannya.

"Maafkan Thania bu, karena Thania tidak bisa menjadi anak yang baik untuk ibu," Thania menangis dihadapan ibunya, ia merasa menjadi anak yang tak berguna karena selalu membuat ibunya sedih.

"Tidak nak, kamu adalah anak terbaik yang ibu miliki," Ibu Thania memeluk erat putrinya tersebut.

"Thania, ini Ikhsan, anaknya pak Rahmat yang waktu itu mau berkunjung kerumah kita, kamu masih ingat?" Ibu Thania memperkenalkan pemuda yanng sejak tadi berdiri disamping Thania.

"Oh iya, yang ibu bilang waktu itu mau berkunjung kerumah kita kan?" Thania mencoba mengingat peristiwa sebelum ia terjatuh.

"Iya benar,"

"Thania, sebenarnya saya kemari ingin meyampaikan niat saya yang sempat tertunda sebulan yang lalu," Ikhsan berkata dengan sangat hati-hati.

"Iya, maaf karena saya jadi merepotkan kalian semua," Thania merasa tak enak hati kepada Ikhsan.

Hanya mendengar suaranya saja Thania bisa tahu kalau Ikhsan adalah anak yang baik. Suaranya begitu lembut dan menenangkan hati.

"Tidak, kamu tidak bersalah. Baiklah Thania, dengan mengucap Bismillah saya berniat untuk menjadikan kamu sebagai pendamping saya di dunia dan menjadi bidadari saya di syurga nanti, apakah engkau bersedia?"

Thania terpaku mendengar kata-kata Ikhsan yang begitu tiba-tiba, ia tidak percaya dengan semuanya.

"Tapi, saya sudah tidak sempurna, saya sudah cacat, apakah kamu mau memiliki seorang istri yang buta seperti saya?" Thania terisak disela kalimatnya, ia merasa tidak pantas bersanding dengan Ikhsan.

"Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah, saya sudah yakin dengan pilihan saya bahwa kamulah yang akan menjadi pendamping saya bagaimanapun keadaan kamu, sesungguhnya kita diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi satu sama lain, untuk saling mengingatkan satu sama lain, bukan untuk saling menunjukkan kelebihan masing-masing, saya sebagai kaum Adam tidak akan sempurna tanpa kehadiran kaum Hawa, dan saya ingin kamulah yang melengkapi hidup saya," Ikhsan berkata dengan sangat yakin.

Thania tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis. ia kagum pada Ikhsan yang mau menerima dirinya apa adanya.

Akad pun dilaksanakan, kini Ikhsan dan Thania resmi menjadi sepasang suami istri. Thania duduk dihalaman rumah barunya, rumah yang ia tempati bersama suaminya, Ikhsan. Thania memegang syal yang belum sempat ia selesaikan dulu. ia menghela nafas panjang, ia sedih karena tidak bisa menyelesaikan syal itu, padahal ia berniat memberikan syal tersebut sebagai hadiah untuk suaminya kelak, siapapun itu, dan kini ia sudah mempunyai suami, tapi syal itu tak bisa ia berikan.

Ikhsan datang dari belakang Thania dana memeluknya dengan lembut.

"Kenapa menangis?" ia mengusap airmata Thania.

"Maafkan aku karena tidak bisa memberikan syal ini untukmu, aku tidak bisa merajut benang terakhir ini," Thania terisak dalam pelukan Ikhsan.

"Kamu bisa menyelesaikannya, kita akan menyelesaikan syal ini," Ikhsan meraih tangan Thania yang memegang jarum rajut, ia membimbing tangan Thania menyusun pola pada benang tersebut hingga menjadi syal yang cantik.

"Jika dibuat bersama syal ini lebih istimewa, karena setiap benangnya terikat oleh cinta kita," Ikhsan memasangkan syal tersebut di leher Thania, ia terkagum menatap wajah cantik istrinya tersebut, ia mengecup lembut kening Thania.

Thania tersenyum bahagia, sungguh beruntung dirinya mendapatkan suami seperti ikhsan.

Terimakasih Tuhan karena telah mengirimkan seorang imam seperti Ikhsan, jangan pisahkan kami sampai kapanpun, satukanlah kami hingga di syurga-Mu nanti.

Rabu, 02 Mei 2018

Kata hati

Kepada ikhlas yang menjanjikan ketenangan
Kepada rasa yang menuntut kedamaian
Kepada hati yang mencoba untuk tegar
Kepada lisan yang mencoba menjaga ucapan

Mengapa terkadang hati tak sejalan dengan tindakan?
Mengapa terkadang ikhlas hanya datang di lisan?
Mengapa hati sulit tuk menerima kenyataan?

Terkadang ada rasa yang menggoda
Meluluhlantakkan semua keyakinan
Meretakkan kokohnya pendirian
Dan menyesatkan arah tujuan

Kepada sang maha cinta
Kepada sang maha pengasih
Kepada-Nya diri ini berserah
Atas namanya niat ini terucap

Jagalah hati ini
Utuhkanlah hati ini 
Agar tak ternodai

Ternodai oleh rasa yang hanya datang sementara
Singgah tuk pergi
Ada hanya tuk menyakiti

Kepada Sang Imam yang tersembunyi
Dibalik lembaran hati yang terdalam
Kepada Sang Imam yang menjadi pilihan-Nya

Kucoba tutup hati ini dari sekarang
Hingga tiba saatnya ia kan datang mengetuk hati ini
Membuka lembaran dengan nama-Nya
Merajut asa atas ridho-Nya

Kepada waktu yang menjadi saksi
Kepada sang pencipta yang selalau terjaga
Kuserahkan hati ini padanya
Kuikhlaskan hati ini untuknya

Kan ku tutup hati ini 
Hingga ia datang tuk membukanya


COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...