Jumat, 13 Juli 2018

THANKYOU

            Hai guys!
            Kalian pernah ngga ngerasa sakit hati pake “Bangeettt” karena diputusin pacar. Aku pengen cerita nih, tentang pengalaman aku waktu diputusin pacar ketika aku masih sayang banget sama dia. Alay kah? Yah terserah sih mau dibilang alay atau ngga, soalnya ini kisah nyata, hehe.
            Kisah ini bermula ketika aku masuk ke sekolah Madrasah Tsanawiyah Negri (MTsN) di daerahku. Ketika tes masuk sekolah tersebut aku melihat seseorang yang wajahnya tidak asing, dan ternyata dia adalah temanku waktu kelas 1 SD dulu, dia pindah ke sekolah lain ketika kelas 2 SD, dan sekarang aku bertemu dia lagi di kelas 7. Awal pertemuan tidak ada yang spesial, toh dia juga tidak ingat aku.
            Tak kusangka aku diterima disekolah tersebut, walaupun awalnya aku sudah yakin tidak akan diterima, karena saat menjawab soal “apakah makna kata ‘Allahuakbar’?” aku jawabnya “Maha suci Allah”, subhanallah aku merasa dulu aku sangat bodoh -_-
            Pembagian kelas pun tiba, aku diterima di kelas 7.1. Di sekolahku diberlakukan kelas unggulan, satu kelas terdiri dari 32 anak, karena aku peringkat 13 saat tes masuk maka aku ditempatkan di kelas unggulan tersebut. Aku bertemu lagi dengan teman SD ku tersebut. Kesan pertama ketika aku melihatnya adalah “Wah kok sekarang badannya bisa gede tinggi gitu ya, padahal dulu kurus kecil, rambutnya masih keriting, hihhi”. Aku memang tipe orang yang susah move on dari orang-orang yang spesial, dan entah kenapa orang satu ini masuk ke daftar ingatanku saat SD, padahal kenal dekat dengan dia pun tidak.
            Setelah masuk ajaran baru kami mulai melakukan aktivitas belajar di kelas seperti biasa, pemilihan perangkat kelas, pembagian tempat duduk, dll. Aku bukan salah satu orang yang penting di kelas, karena sifatku yang pendiam dan cuek membuatku susah mendapat teman. Aku mempunyai seorang teman yang sangat cantik, namanya Mahinta. Namanya secantik orangnya dan sebaik hatinya. Belum lama masuk sekolah dia sudah mengundang perhatian kaum adam di kelasku.
            Suatu hari, entah kenapa teman satu Sd ku itu, yang ternyata namanya adalah Reyhan, dia selalu menggangguku. Hari itu dia selalu membuatku kesal karena ia terus memercikkan air cuci tangan kearahku. Aku tahu dia bercanda, aku tidak ingin terkenal sebagai anak yang sombong, aku membalasnya dengan balik memercikkan air kearahnya, sayangnya niatku memang memercikkan air tapi yang terjadi adalah aku menyiramkan air cuci tangan tersebut ke mukanya, dan seragamnya basah semua. Aku mulai panik, aku yakin dia pasti marah, dan apa yang terjadi? Dia malah tertawa dan tidak membalasku, ia tertawa sambil berlari ke kantin. Aku menatapnya heran dan makin kesal. Akhirnya aku mengajak Mahinta untuk membeli jajan di kantin dan melupakan tentang Reyhan. Sampai di kantin aku melihat Reyhan dan teman-temannya menatap kearahku sambil tertawa-tawa. Aku risih diperhatikan seperti itu dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
            Keesokan harinya sekolah masih berlanjut seperti biasa. Hari itu temanku Mada menghampiriku,
“Hai Dewi, ada temenku mau minta nomor HP mu boleh?”
“Siapa?”
“Reyhan,” jawab Mada dengan tersenyum.
Aku melihat kearah Reyhan, tidak ada tanda-tanda dia berniat meminta nomor HP ku.
“Bilang ke Reyhan, kalau mau nomor HP ku minta sendiri ya, jangan suruh temannya,” aku tersenyum dan meninggalkan Mada.
Tanpa aku duga, ternyata Reyhan benar-benar menghampiriku. Ia berdiri di dekat kursiku,
“Boleh minta nomor HP,” ia berkata dengan rasa canggung.
“Boleh,” jawabku dan langsung menuliskan nomorku diselembar kertas.
“Makasih,” dia tersenyum dan langsung pergi.
Makin lama aku makin penasaran, kenapa dia selalu ada dalam ingatan masa kecilku, bahkan kini namanya masuk daftar list orang penting dibuku diary-ku. ‘Aku ingin mengenalnya lebih dekat’ itulah yang selalu terbersit dalam pikiranku.
Setiap hari aku selalu memperhatikan tingkahnya, aku mulai menilainya dari segi fisik, sifat, dll. Dari segi fisik dia memang tidak tampan, apalagi waktu itu dia tergolong gemuk dan kulitnya juga tidak putih. Tapi aku sangat menyukainya dari segi sifat, dia jahil tapi baik hati, dia lucu dan ceria. Jarang sekali aku melihatnya murung, dia selalu tertawa bersama teman-temannya. Suaranya paling lantang ketika bercerita tentang klub sepak bola Barcelona, dengan semangatnya ia menceritakan tentang Messi, bagaimana Messi mencetak goal, menggiring bola, dan gaya Messi ketika menang. Diam-diam aku tertawa melihatnya.
Makin hari semakin memperhatikan dia, aku mulai merasa ada perasaan yang berbeda. Makin lama aku semakin ingin dekat dengannya. Entah kenapa suatu hari ketika ibuku mengajakku membeli jaket di pasar, aku memilih jaket Barcelona. Padahal aku tidak tahu apapun tentang sepak bola, yang aku tahu Reyhan menyukai Barcelona. Apapun yang Reyhan suka aku selalu mencoba untuk menyukainya juga.
Perasaan itu hanya menjadi rahasia pribadiku, teman baikku yang bernama Angel pun tak pernah tahu. Namun sepertinya perasaanku tak terbalas, karena kenyataannya Reyhan menyukai Septi, teman satu kelasku yang sangat cantik, anggun dan jago menari. Semakin hari, berita tentang Reyhan yang menyukai Septi makin menyebar. Visiku kali ini adalah membuat Reyhan tersenyum, jadi aku berusaha membuat Reyhan dekat dengan Septi, walau kenyataannya aku cemburu. Aku memanggil Reyhan dan mengatakan
“Rey, kalau kamu suka Septi kamu bilang aishiteru ke dia,” jujur sebenarnya itu kata-kata yang ingin aku ucapkan untuk Reyhan, tapi aku malah menyuruh Reyhan mengatakannya pada Septi.
Aishiteru? Apa tuh artinya? Ngga mau ah, nanti artinya aneh,” dan Reyhan tidak mempercayaiku, oke tidak apa-apa. Aku masih merasa senang kok.
Perasaan itu terus berlanjut hingga aku naik ke kelas 8. Kali ini aku tidak sekelas dengan Reyhan, melainkan sekelas dengan sahabatku Angel. Reyhan berada di kelas 8.3, sementara aku di kelas 8.1. Ada Reyhan dikelas ataupun tidak masih tetap sama, aku tetap menyukai Reyhan. Satu hal yang menjadi prinsipku, aku boleh menyukai siapapun tapi aku tidak boleh pacaran sekarang. Aku mau pacaran ketika SMA saja. Yosh! Jadi tidak masalah kalau Reyhan belum suka padaku.
Aku tipe orang yang selalu perhatian pada orang yang aku suka, entah suka itu karena suka dari perasaan terdalam ataupun hanya suka karena dia baik. Namun kadang orang malah salah sangka terhadap tingkahku, mereka kira aku menyukai mereka dalan konteks sesuatu yang lebih, yaitu ‘cinta’. Angel sudah tahu kepribadianku satu ini, karena dia sahabatku sejak SD. Dia tidak curiga kalau aku perhatian pada Reyhan. Dia menganggap itu hal biasa, padahal itu adalah hal yang tidak biasa.
Suatu hari ada hal yang tak terduga antara aku dan Angel. Hal tersebut diawali ketika sekolahku mengadakan perlombaan olahraga dengan SMPN 1. Aku dan Angel menjadi atlet voli, sementara Reyhan dan Pita menjadi atlet tennis meja. Jadwal bermain voli masih besok, hari ini adalah perlombaan tennis meja dan sepak bola. Lapangan sepak bola dipenuhi dengan siswa yang antusias mendukung sekolahnya masing-masing, sementara tennis meja tidak ada yang mendukung satupun. Aku dan Angel memutuskan untuk menonton tennis meja. Sebelumnya aku dan Angel pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli minum. Aku membeli dua botol air mineral, satu botol akan kuberikan kepada Reyhan. Aku melihat Angel membeli dua botol juga.
“kok beli dua botol, satunya untuk siapa?” tanyaku pada Angel.
“Untuk Reyhan, kasihan pasti dia haus,” dia menjawab dengan tersenyum.
Aku terkejut mendengar jawabannya.
“Kamu kok beli dua juga, buat siapa?” aku makin terkejut dengan pertanyaan Angel kali ini.
“Emm, untuk Pita, dia juga pasti haus kan, hehe,” aku berkata dengan gugup.
Aku memperhatikan Angel selama perjalanan, dia terlihat bahagia dari tadi, tersenyum menatap botol air mineral yang ia bawa. Ini firasat buruk.
Sesampainya ditempat perlombaan tennis kami duduk dan melihat Reyhan bermain, aku akui dia jago bermain tennis. Tiba-tiba bola yang dipukul lawan jatuh kearahku. Reyhan berjalan mendekatiku.
“Hei sini bolanya, jangan diumpetin,” dia berkata sambil mengulurkan tangannya meminta bola padaku.
“Eh siapa juga yang ngumpetin, salahin bolanya dong ngapain lari kearahku,” aku memberikan bola itu pada Reyhan. Reyhan tertawa mendengar jawabanku, aku membalasnya dengan senyum.
Tak lama kemudian Reyhan selesai bermain tennis, Angel memberikan minum itu pada Reyhan, Reyhan menerimanya dengan tersenyum, dan aku memperhatikan mereka dengan rasa cemburu.
Aku mencoba tetap bersikap biasa pada Angel dan Reyhan. Perasaan ini tetap menjadi rahasia pribadiku. Begitulah niatku dari awal.
Hari minggu tiba, kali ini aku mengisi liburan dengan belajar bahasa inggris. Aku sangat suka membaca cerita, aku mencoba menerjemahkan cerita Danau Toba dari bahasa indonesia ke bahasa inggris. Cukup sulit, tapi aku sangat menikmatinya. Tiba-tiba ponselku berbunyi, tertera di layar ponselku ‘pesan masuk dari Reyhan’. Aku membuka dan membaca pesan tersebut.
‘Lagi apa Dew?’
‘Lagi nerjemahin cerita Danau Toba ke bahasa inggris’
‘Oh gitu, ngga usah susah-susah nerjemahin, nanti aku cariin cerita Danau Toba dalam bahasa inggris di internet’
‘Eh ga usah, ngrepotin’
‘Udah ngga apa-apa, kebetulan aku lagi di warnet. Udah makan belum?’
Topik bahasan sudah diganti oleh Reyhan, sepertinya dia tidak mau aku
menolak tawarannya.
            Keesokan harinya salah seorang temanku memanggilku dikelas.
            “Dew, ada Reyhan tuh nyariin kamu,”
            Aku keluar kelas dan menemui Reyhan.
            “Hai Rey,” satu hal yang sampai sekarang tidak bisa aku lakukan ‘menatap matanya’
            “Hai Dew, ini cerita Danau Tobanya, kalau ada apa-apa lagi bilang aja ya, daaah,” ia berjalan meninggalkanku.
            “Terimakasih Reyhan,” Aku berteriak mengucapkan terimaksih, ia membalasnya dengan tersenyum.
            “Dew sepertinya Reyhan suka kamu deh,” kata teman-temanku di kelas.
            “Hah mana mungkin,” jawabku tak percaya.
            “Ih keliatan tau, dia tuh kalau ngomong sama kamu selalu fokus natap kamu. Kalau lagi ngomong sama kamu ga pernah ngeliat-liat yang lain, fokus ke satu tujuan, mata kamu,” aku tidak tahu harus percaya atau tidak dengan kata-kata mereka, aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.
            Semakin hari Reyhan dan Angel semakin dekat, bahkan tersebar gosip bahwa Reyhan menyukai Angel. Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Tidak apa-apa, mereka sama-sama orang yang paling banyak masuk daftar buku harianku. Mereka sama-sama orang yang aku suka, seandainya mereka benar-benar saling suka, seharusnya aku menjadi sahabat yang paling bahagia. Perasaan itu terus ku pendam, dan gosip itu makin menyebar ketika aku kelas 9. Angel sering menceritakan tentang Reyhan padaku.
            Suatu hari aku dan Angel mengadakan adu tanding badminton di halaman rumahku, siapa yang kalah dia harus meminum air garam satu gelas. Permainan pun telah berakhir dan dimenangkan olehku. Sebelum melaksanakan hukuman kami istirahat sebentar. Aku saling berbalas pesan dengan Reyhan melalui ponsel. Aku melihat Angel juga sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat kesal saat itu.
            “Ih nyebelin,” Angel berjalan mendekatiku sambil cemberut.
            Ia duduk disampingku dan mengambil ponselku.
            “Dew, kamu lagi SMS-an sama Reyhan?” tanyanya padaku.
            “Iya,” jawabku.
            “Ih ngeselin, dia lama banget coba jawab pesanku,”
            “Masa sih? Mungkin kartu kamu ngga ada sinyalnya, jadi pesannya lama masuknya” aku tak percaya karena Reyhan selalu langsung membalas pesanku ketika pesanku terkirim.
            “Mana mungkin, orang kita pakai kartu yang sama kan,” jawab Angel.
            “Oh iya ya,”
            “Ya udah, sekarang kita coba kirim pesan yang sama ke Reyhan secara bersamaan,” Angel mengetik pesan di ponselku dan ponselnya.
            ‘Udah makan Rey?’
            ‘Udah, kamu udah makan?’
            Pesan balasan dari Reyhan masuk ke ponselku, sementara pesan Angel belum ia balas juga.
            “Tuh kan, dia cuma balas pesan kamu aja!”
            Angel berdiri dan langsung berjalan meninggalkanku. Aku mengejar Angel yang berjalan ke arah pasar, karena rumahku memang tidak jauh dari pasar.
            “Angel tungguin,” aku terus mengejar Angel.
            “Aku ngga peduli sama Reyhan, toh cowok bukan cuma dia aja, masih banyak cowok lain di dunia ini. Reyhan ngeselin,” Angel terus menggerutu dan berjalan cepat meninggalkanku.
            “Angel jangan marah dong, aku minta maaf,” Aku berlari mengejar Angel.
            “Eh liat tuh, mereka lagi berantem,” abang-abang tukang ojek yang ada di pasar menertawakan kami.
            Aku malu sekali dan langsung menarik tangan Angel.
            “Angel, orang-orang ngetawain kita tuh, jangan malu-maluin dong,” aku berbisik pada Angel.
            “Oh ya?” Angel melihat sekelilingnya dan mulai menggandeng tanganku, aku pun merasa lega.
            Kami berkeliling dan membeli makanan yang kami suka. Pulang dari pasar Angel sudah tidak marah lagi, dan aku memilih tidak membahas masalah Reyhan lagi.
            Aku dan Reyhan adalah sepasang ketua kelas dan wakil ketua kelas di kelas 9.1. Aku yang menjadi ketua dan Reyhan yang menjadi wakilnya. Aku suka sekali karena Reyhan menjadi wakilku, walaupun sebenarnya yang sering membantuku menjalankan tugas adalah Angel. Semakin hari aku dan Reyhan semakin dekat, kami sering ngobrol lewat SMS, sering berbagi makanan saat istirahat, dan Reyhan sering membagikan apapun yang ia suka padaku.
            Satu hari ia mengambil ponselku dan mengirimkan lagu-lagu Linking Park ke HP ku. Jujur sebenarnya aku kurang suka mendengarkan lagu, tapi sejak Reyhan mengirimkan lagu itu aku jadi sering mendengarkannya, terutama lagu Linking Park-Numb.
            “Itu lagu-lagu kesukaanku,” katanya setelah mengirimkan lagu-lagu tersebut ke ponselku.
            “Oke, akan aku dengarkan setiap hari,” aku tersenyum pada Reyhan.
            Suatu malam saat suasana mendung tanggal 24 September 2012, aku menerima pesan dari Reyhan.
            ‘Dew malam ini mendung ya’
            ‘iya, ngga ada bintang’ jawabku.
            ‘tapi anehnya dihati aku kok tetap terang ya’
            ‘kok bisa?’ tanyaku
            ‘karena selalu ada kamu yang menyinarinya :)
            ‘kok sama’
            ‘oh ya?’
            ‘ya hati aku juga ngga pernah mendung’
            ‘karena?’
            ‘karena kamu :)
            ‘serius? Jadi kamu juga suka aku?’ tanya Reyhan.
            ‘tapi, bukannya kamu suka Angel ya?’
            ‘hahaha, itumah temen-temen aja yang suka bercanda, aku ngga pernah suka sama Angel kok’
            ‘oh gitu’
            ‘kamu cemburu ya?’
            ‘ngga kok’
            ‘halah jujur aja’
            ‘hihihi :D’
            ‘Dew, berarti kamu mau kan jadi pacar aku?’
            Aku membaca pesan Reyhan berulang kali, aku takut dia hanya main-main. Setelah yakin dia tidak main-main, aku menjawab pesannya.
            ‘iya’
            ‘yeay, berarti sekarang kita pacaran ya :D’
            Aku tersenyum dan terus membaca pesan tersebut berulang kali, aku sekarang jadi pacarnya Reyhan. Aku bahagia sekali malam itu, mungkin aku akan tidur sambil tersenyum.
            Keesokan harinya aku bercermin sambil menyisir rambutku. Aku kembali teringat prinsipku untuk tidak pacaran dulu. Tapi aku terlalu takut untuk menolak Reyhan, aku takut Reyhan akan menjauhiku kalau aku menolaknya. Diam-diam aku menangis, ‘apa keputusanku ini sudah benar?’ pertanyaan itu terus menghantuiku. Setiap kali ada ragu yang muncul aku selalu berdo’a “Ya Allah kalau memang keputusanku ini benar tolong biarkan aku terus bersama Reyhan, aku tidak akan meninggalkan Reyhan, aku ingin Reyhan menjadi suamiku, tetapi kalau keputusanku ini salah, tolong tunjukkan jalan yang benar,”.
            Hari-hariku disekolah kini berbeda, aku sangat bahagia punya pacar sepertii Reyhan, dia sangat baik dan perhatian. Dia tidak pernah membuatku cemburu. Pernah suatu hari ia pulang sekolah bersama temanku yang bernama Zahra. Aku tidak tahu kalau dia mengantarkan Zahra pulang. Tapi sesampainya di rumahnya, Reyhan langsung menelponku, dia meminta maaf karena telah mengantarkan Zahra pulang tanpa sepengetahuanku, dia bilang tadi Zahra ada masalah dengan anak sekolah lain dan dia tidak berani pulang, karena Reyhan membawa motor, jadi dia yang mengantarkan Zahra pulang. Aku tersenyum mendengar penjelasan Reyhan. Aku suka Reyhan, aku suka kejujurannya. Padahal jika ia tidak bilangpun aku tidak akan tahu. Tapi dia malah meminta maaf padaku.
Reyhan juga sangat pengertian. Aku bukan anak yang bisa seenaknya meminta uang pada orangtuaku untuk membeli pulsa, jadi ada kalanya aku tidak membalas pesan Reyhan karena pulsaku habis. Dia tidak pernah marah jika pesannya tidak ku balas, sebaliknya dia malah menelponku. Dia bilang, “Iya aku ngga marah kok, aku tahu, makanya aku langsung telpon kamu aja,”. Bagaimana aku tidak luluh dengan seseorang seperti ini.
            Sebulan kemudian, entah ini ujian atau petunjuk dari Allah. Hari itu aku mendapat beasiswa prestasi dari sekolahku, aku harus melengkapi berkas, dan aku melupakan hal terpenting, kartu pelajar, aku meninggalkannya di meja kamarku. Aku pun panik, guruku menyuruhku untuk pulang mengambilnya. Aku pun kembali ke kelas untuk berpamitan dengan teman-temanku.
            “Teman-teman, mohon kerja samanya ya, aku harus mengambil kartu pelajarku di rumah, selama aku pergi tolong jangan keluar kelas, kalau ketahuan bu Ina kalian bisa kena marah,”
            “Pulang naik apa Dew?” tanya temenku.
            “Naik ojek lah,” jawabku.
            “Suruh Reyhan aja yang nganterin, diakan bawa motor,”
            “Ngga usah ngga apa-apa, aku naik ojek aja,” aku pun keluar meninggalkan kelas.
            Ketika aku sampai didekat gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang datang.
            “Ayo naik, aku antar pulang,”
            “Loh Reyhan, kok kamu tinggalin kelas, kalau mereka ribut gimana?”
            “Kalau aku ngga pergi mereka makin ribut, mereka maksa aku buat nganterin kamu, lihat aja tuh dibelakang,”
            Aku menengok dan melihat teman-temanku keluar kelas.
            “Cieee, nganterin pacarnya pulang,”
            “Kalian, buruan masuk ke kelas, nanti kena marah bu Ina!” aku berteriak menyuruh mereka masuk, tapi mereka tidak mempedulikan perkataanku.
            “Rey ayo kita pergi secepatnya, aku takut bu Ina marah,” aku dan Reyhan pun melaju dengan cepat, aku sebisa mungkin kembali ke kelas dengan secepatnya.
            Sesampainya di sekolah, suasana didepan kelasku sepi. Ketika memasuki pintu kelas, aku dan Reyhan terkejut, teman-temanku dihukum oleh bu Ina, mereka berdiri didepan papan tulis.
            “Oh ini dia anaknya, bagus ya ketua kelas dan wakil keluar bareng! Tuh lihat fans kalian yang ngeliatin kalian boncengan keluar sekolah! Kalian pacaran ya hah? Setelah ini kalian berdua ikut saya ke kantor,” Bu Ina memarahi aku dan Reyhan.
            “Ini semua gara-gara kalian berdua,” mereka menangis dan menyalahkan aku dan Reyhan.
            Yang aku takutkan terjadi, inilah alasanku kenapa aku tidak mau pulang diantar Reyhan.
            “Rey ayo kita ke kantor,” aku mengajak Reyhan ke kantor.
            “Jangan Dew, aku saranin kamu ngga usah turutin Bu Ina ke kantor,” jawab Reyhan.
            “Tapi Rey, kalau kita ngga ke kantor nanti bu Ina makin marah,”
            Reyhan tetap tidak mau pergi ke kantor. Akhirnya aku pergi sendiri ke kantor.
            Sesampainya di kantor aku langsung disambut sinis oleh guru-guru.
            “Oh ini pacarnya Reyhan?”
            “Kok kamu bisa suka sama Reyhan?”
            “Kamu pacaran? Setau ibu anak pinter tu ngga pernah pacaran ya,”
            “Kamu suka apa dari Reyhan?”
            “Suka rambut keritingnya? Atau karena dia anaknya bu Rara? Karena dia anak orang kaya?”
            “Jangan-jangan ketika pesta ibunya Reyhan kemarin kamu datang ya?”
            Aku tidak bisa menahan airmataku, aku menangis mendengar pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan padaku, seolah mereka ingin menyerangku. ‘apa karena dia anak orang kaya?’ kata-kata itu terus terngiang dikepalaku.
            “Sudah berapa lama kamu pacaran sama Reyhan?”
            Aku diam, masih terdiam dengan isak tangis.
            “Kok nangis? Kan ibu nanya,”
            “Aku bakal putusin Reyhan kok bu,” jawabku.
            “Loh ibu Cuma nanya lo,”
            “Aku bakal putusin Reyhan nanti bu, permisi” aku berlari meninggalkan ruang guru.
            Aku menangis di tempat wudhu yang ada di sebelah musholla tepat berada dibelakang kelasku. Aku mencuci mukaku sebelum kembali ke kelas agar mereka tidak tahu kalau aku menangis. Aku masuk ke kelas dengan tersenyum dan kembali duduk du kursiku.
            “Dew tadi kamu diapain di kantor?” tanya Angel.
            “Ngga diapa-apain kok, kenapa emang?”
            “Kamu nangis ya?” tanyanya lagi.
            “Hahaha siapa yang nangis, aku ngga nangis kok,” mungkin aku terlalu bodoh saat berbohong. Aku diam tidak berani menatap Reyhan.
            Setelah pulang sekolah aku menangis di halaman belakang rumahku, tepatnya ditepi kolam ikan, dibawah pohon rambutan. Tak lama kemudian Reyhan menelponku.
            ‘Dew aku tahu, kamu nangis kan? Pasti bu Ina tadi ngomong hal yang buat kamu sakit hati,’
            Aku makin menangis mendengar perkataan Reyhan.
            ‘Tadi bu Ina bilang, apa aku suka kamu karena kamu anak orang kaya?’
            Reyhan terdiam di seberang sana.
            ‘Apa aku salah kalau aku suka kamu?’
            ‘Dew, kamu ngga salah, aku tahu bu Ina emang keterlaluan, apalagi kalau kita berdua ada disana, entah apa yang bakal dia omongin, makanya aku ngga mau dengerin kata-kata bu Ina. Yang jelas sekarang kamu ngga usah masukin hati kata-kata bu Ina, terserah apa kata mereka, yang jelas kamu tetap pacar aku,”
            Aku sedikit tenang mendengar kata-kata Reyhan. Reyhan mencoba mengubah topik pembicaraan dan mencoba menghiburku.
            Keesokan harinya, tepatnya hari Sabtu. Hari ini adalah jadwal bagi anggota OSIS untuk melatih petugas upacara bendera untuk hari Senin nanti. Sebagai ketua OSIS aku harus selalu ikut melatih. Saat aku sedang melatih petugas pengibar bendera, tiba-tiba aku melihat ibunya Reyhan datang ke sekolahku. Seharusnya itu hal yang wajar, karena ibu Reyhan adalah pengawas di Madrasah. Tapi kali ini aku merasakan firasat buruk. Tak lama setelah ibu Reyhan memasuki ruang guru, nama Reyhan pun dipanggil. Aku mulai khawatir.
            Setelah pulang sekolah aku menelpon Reyhan.
            ‘Rey, tadi ibu kamu datang ke sekolah ya?’
            ‘Iya’
            ‘Beliau bilang apa? Pasti kamu dimarahi ya?’
            ‘Ngga apa-apa kok, tadi ibu minta kamu dipanggil juga sih, tapi aku bilang aja kalau kita udah putus, aku ngga mau kamu dimarahi lagi,’
            Aku diam mendengar kata-kata Reyhan.
            ‘Dew, gimana kalau kita pura-pura putus aja?’
            ‘Maksud kamu backstreet?’ tanyaku.
            ‘Iya, itupun kalau kamu setuju sih’
            ‘Oke, aku rasa itu lebih baik’
            ‘Jadi kita sepakatin tanggal putus kita tanggal 25 Oktober 2012’
            ‘Oke, kita harus kasih tahu semua temen kita tanpa terkecuali, di sekolah hanya kita yang tahu kalau kita Cuma pura-pura’
            Dan akhirnya kesepakatan itupun dibuat. Kami bercerita pada teman-teman dikelas kalau kami sudah putus, berita itu cepat menyebar. Namun tetap tidak bisa meredam berita bahwa aku dan Reyhan pacaran. Satu sekolah tau semua kalau aku dan Reyhan pacaran. Hebat, berita itu bisa menyebar sampai satu sekolah.
            Hari-hari aku dan Reyhan menjalaninya dengan pura-pura saling tak peduli, hingga suatu pagi aku melihat Reyhan datang ke sekolah dengan tangan terluka.
            “Mas, Reyhan kenapa?” aku bertanya pada temanku yang bernama Anto.
            “Tadi dia disrempet motor, jadi dia jatuh deh, dan tangannya terluka,” jawab Anto.
            Aku menatap Reyhan dari tempat dudukku, aku ingin sekali mendekat kesana dan mengobati luka ditangannya. Tapi kebohongan ini seolah menjadi batas antara aku dan Reyhan.
            ‘Maaf Rey, aku tidak bisa membantumu dari dekat, maaf’
            Cuma itu yang bisa kuucapkan dalam hati, aku hanya bisa berdo’a semoga tidak terjadi hal yang serius padanya. Aku hanya bisa menanyakan keadaannya via SMS atau telpon saat dirumah nanti.
            Rahasia aku dan Reyhan pura-pura putus ternyata tidak bertahan lama. Angel, sahabatku satu ini terlalu peka, dia menyadari keanehan antara aku dan Reyhan, dan akhirnya dia tahu kalau kami hanya pura-pura putus. Teman dekatku dan teman dekat Reyhan pun tahu aku dan Reyhan belum putus.
            Ibuku tahu kalau aku pacaran, dan ibuku juga tahu kalau aku dimarah guru gara-gara ketahuan pacaran. Ibuku tidak secara langsung memarahiku, beliau hanya mengajukan syarat, aku tidak boleh jalan-jalan berdua dengan Reyhan dan aku harus tetap menjadi juara umum di sekolah, kalau aku tidak juara umum lagi maka aku harus putus dengan Reyhan. Oke, persyaratan itu aku setujui.
            Tepat tanggal 11 Januari 2013, aku menyiapkan kado ulang tahun untuk Reyhan, kado berupa jam tangan. Aku bahagia sekali hari ini, selain hari ini ulang tahun Reyhan, aku bahagia karena aku bisa mempertahankan juara umumku, sehingga aku tetap bisa bersama Reyhan.
            Sepulang sekolah aku bertemu dengan Anto di kantin. Aku menitipkan kado ulang tahun untuk Reyhan kepada Anto. Ketika aku sedang memberikan kado itu, aku mendengar suara bisik-bisik dari arah kantin sebelahku berdiri.
            “Eh itu kak Dewi kan, pacarnya kak Reyhan,”
            Aku dan Anto menoleh kearah mereka. Mereka menatapku sambil berbisik-bisik. Ini tidak membuatku nyaman sama sekali. Aku dan Anto pun memutuskan pergi meninggalkan kantin.
            Sore harinya Reyhan menelponku.
            ‘Sayang, makasih ya kadonya, aku suka’
            Aku sangat bahagia karena Reyhan suka dengan kado yang aku berikan. Dia memakainya setiap hari saat sekolah. Namun, suatu hari aku melihat jam itu tidak terpasang ditangannya.
            “Loh Rey, jam kamu kemana?” aku bertanya langsung pada Reyhan saat disekolah.
            “Di pakai kak Syahid, kak Syahid suka jam nya, jadi hari Senin-Kamis aku yang pakai, Jum’at Sabtu dia yang pakai,” jawab Reyhan dengan jujur.
            “Oh gitu,” aku mencoba untuk tidak marah pada Reyhan, walau sebenarnya aku agak kesal.
            Hari-hari terus berlalu, akhir-akhir ini Reyhan jarang sekali menghubungiku, pesanku pun kadang tak ia balas. Aku heran kenapa dia tidak membalas pesanku, tapi aku selalu berpikir positif, aku tidak pernah curiga pada Reyhan, mungkin karena aku memang sudah percaya padanya.
            Tanggal 01 April 2013, tepat hari ulang tahunku, aku tidak tidur sampai jam 00:00, hanya untuk menunggu ucapan ulang tahun dari Reyhan. Namun, sampai tanggal 03 April 2013, dia belum mengucapkan kata ‘selamat ulang tahun atau happy birthday’.
            Akhirnya temanku Ana yang mengetahui kesedihanku langsung menegur Reyhan. Saat itu juga Reyhan langsung mengucapkan
            ‘Selamat ulang tahun sayang, maaf ya aku lupa ngucapin kemarin, kamu mau jalan sama aku, kita makan diluar’
            ‘Terimaksih Rey :), ngga apa-apa kok, tapi aku ngga boleh jalan keluar sama ibuku’
            ‘hmm, tapi nanti kamu marah gara-gara aku telat ngucapin ultah’
            ‘haha, ngga lah, ngga mungkin aku marah sama kamu’
            Jujur, aku memang sedikitpun tidak marah pada Reyhan, bahkan walaupun dia mengucapkan kata ulang tahun sudah lewat 2 hari, tapi aku tetap merasa bahagia.
            Setelah ulang tahunku, keadaan kembali seperti semula, kembali sunyi tanpa kabar dari Reyhan. Aku tetap positif thinking dan selalu percaya pada Reyhan. Hingga pada tanggal 23 April 2013, saat aku sedang istirahat tidur-tidur diruang tamu, tiba-tiba ada pesan masuk dari Reyhan.
            ‘Dew, kamu udah ngga mau ngomong sama aku lagi kan, kata Ana kamu udah benci sama aku, kamu sebelkan sama aku, kalau kaya gitu lebih baik sekarang kita PUTUS’
            What! Seperti disambar petir disiang bolong, aku sangat terkejut membaca pesan dari Reyhan.
            ‘Oh jadi ini alasan kamu selama ini ngga balas pesan aku, kamu mau kita putus?’
            ‘Iya’
            Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Kali ini aku benar-benar marah pada Reyhan, mudah sekali dia bilang putus saat aku sudah menetapkan akan mencintai dia sampai kapanpun. Tapi aku tidak mau memaksa Reyhan, mungkin ini yang terbaik. Tapi kenyataan ini masih sulit untuk aku terima.
            Aku lari ke kamar, aku ambil buku harianku dan aku banting ke lantai, aku mendongakkan kepalaku untuk menahan air mataku.
            “Aku tidak boleh nangis, aku tidak mau menangis hanya karena putus,”
            Aku membuka buku harianku, dan mencoret-coretnya menggunakan pulpen.
            ‘KAMU JAHAT REYHANNNN!!!!’
            ‘AKU BENCI REYHAN!!’
            ‘KAMU TEGA REY :’(‘
            Buku harianku penuh dengan kalimat-kalimat kekecewaan itu. Aku menuangkan semuanya dalam diary-ku. Setelah itu aku memutuskan untuk tidur dan berharap ketika bangun semua akan baik-baik saja. Yang lebih jahatnya lagi, Reyhan memutuskan hubungan kami saat besoknya kami harus ujian matematika.
Setelah hari itu aku memutuskan untuk tidak bertegur sapa dengan Reyhan.
            Entah takdir atau kebetulan, aku masuk di SMA yang sama dengan Reyhan. Aku dikelas 10.1, sementara Reyhan di kelas 10.5 bersama dengan Angel. Setiap pagi aku selalu ke kelas 10.5 untuk menemui Angel. Aku dan Angel selalu bersama saat pagi sebelum jam pelajaran dimulai, saat istirahat, dan saat pulang sekolah. Karena Angel satu kelas dengan Reyhan, aku selalu bertemu dengan Reyhan setiap pagi, tapi tidak pernah menyapa. Jujur dalam hatiku, aku ingin melihat senyum itu lagi, senyum yang sudah lama tak pernah kulihat, tapi aku masih sama seperti dulu, aku tetap tidak berani menatapnya.
            Suatu hari, entah kenapa, saat aku duduk di kelas Angel, ketika Reyhan sedang bermain bola, tiba-tiba dia menghampiriku.
            “Mau permen?” dia memberikan sebuah permen padaku.
            Aku terdiam menatapnya, masih tidak percaya dengan apa yang dia lakukan. Aku tidak menerima permennya melainkan terus menatapnya.
            “Mau atau tidak?” tanyanya dengan tersenyum.
            “Oh mau, makasih ya,” aku mengambil permen itu dengan gugup.
            Hari itu aku sangat bahagia. Angel yang duduk disampingku saat itu juga merasa heran dan tidak percaya.
            Ketika istirahat aku memberikan sebuah permen juga pada Reyhan, saat itu ada teman-temannya Reyhan. Tiba-tiba keesokan harinya ada gosip kalau aku mengajak Reyhan balikan lagi. Apa-apaan, aku marah lagi kali ini.
            ‘Rey, aku kasih kamu permen untuk membalas perbuatan baik kamu waktu itu karena sudah memberiku permen juga, jadi jangan anggap aku memberi kamu permen itu sebagai tanda aku mengajak kamu balikan lagi ya’
            ‘Dew jangan dengerin kata-kata mereka’
            Aku tetap marah pada Reyhan. Suatu hari teman Reyhan menghampiriku dan bertanya,
            “Dew, ‘miapa’ artinya apa Dew? Hahahaha, ciyus miapah, hahaha”
            “Dew masa kata Reyhan arti kata miapa aja kamu ngga tahu, haha”
            Hah? Reyhan? Jadi dia ceritakan semua pada teman-temannya, dan aku dianggap sebagai lelucon. Aku memang katrok, ndeso, ngga tahu makna kata ‘ ciyus miapa’ tapi ngga seharusnya dia jelek-jelekin aku gitu didepan teman-temannya. Pulang sekolah aku hanya bisa menangis, keputusanku sudah bulat untuk menjauhi Reyhan. Okey sekarang terserah dia, sesuka hati dia  mau jelek-jelekin aku didepan temannya, yang penting jangan sampai aku jelek-jelekin dia.
            Tahun berlalu, ternyata aku memang orang yang susah move on, masih saja ada nama Reyhan didalam otakku. Aku penggemar setia yang selalu mendengarkan saat dia mengikuti lomba menyanyi, mungkin dia tidak melihatku, mungkin aku tak terlihat diantara anak-anak yang berada disekelilingnya, namun hanya mendengar suaranya bernyanyi aku sudah merasa tenang.
            Setelah kelas 12, aku memutuskan untuk menyapa Reyhan. Tidak baik jika aku selalu membencinya. Semakin aku menjauh, semakin aku sulit untuk melupakan dia. Aku memilih bersikap seperti dulu saat kami berteman, mungkin dengan begitu aku bisa lupa perasaan yang dulu pernah ada didalam hatiku. Aku berhasil untuk tidak terbelenggu, aku merasa lebih tenang.
            Sekarang, saat sudah dibangku kuliah, aku mulai sadar. Sebenarnya keputusan Reyhan untuk putus adalah keputusan yang tepat. Hubungan kami saat itu adalah hubungan yang salah. Mungkin dulu aku membenci dia karena menganggap dia menyakitiku. Tapi sekarang aku berterimakasih, terimakasih sudah memilih keputusan yang tepat, terimakasih karena hingga sekarang tetap menjadi temanku yang baik.

“Maaf karena pernah menganggapmu orang jahat. Maaf karena pernah menerimamu sebagai pacar, karena sesungguhnya Allah tidak pernah memperbolehkan hambanya pacaran. Sekarang aku sadar, keputusanmu adalah cara Allah menjawab do’aku. TERIMAKASIH”

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...