Hai guys!
Kalian pernah ngga ngerasa sakit
hati pake “Bangeettt” karena diputusin pacar. Aku pengen cerita nih, tentang
pengalaman aku waktu diputusin pacar ketika aku masih sayang banget sama dia.
Alay kah? Yah terserah sih mau dibilang alay atau ngga, soalnya ini kisah
nyata, hehe.
Kisah ini bermula ketika aku masuk
ke sekolah Madrasah Tsanawiyah Negri (MTsN) di daerahku. Ketika tes masuk
sekolah tersebut aku melihat seseorang yang wajahnya tidak asing, dan ternyata
dia adalah temanku waktu kelas 1 SD dulu, dia pindah ke sekolah lain ketika
kelas 2 SD, dan sekarang aku bertemu dia lagi di kelas 7. Awal pertemuan tidak
ada yang spesial, toh dia juga tidak ingat aku.
Tak kusangka aku diterima disekolah
tersebut, walaupun awalnya aku sudah yakin tidak akan diterima, karena saat
menjawab soal “apakah makna kata ‘Allahuakbar’?” aku jawabnya “Maha suci
Allah”, subhanallah aku merasa dulu aku sangat bodoh -_-
Pembagian kelas pun tiba, aku
diterima di kelas 7.1. Di sekolahku diberlakukan kelas unggulan, satu kelas
terdiri dari 32 anak, karena aku peringkat 13 saat tes masuk maka aku
ditempatkan di kelas unggulan tersebut. Aku bertemu lagi dengan teman SD ku
tersebut. Kesan pertama ketika aku melihatnya adalah “Wah kok sekarang badannya
bisa gede tinggi gitu ya, padahal dulu kurus kecil, rambutnya masih keriting,
hihhi”. Aku memang tipe orang yang susah move
on dari orang-orang yang spesial, dan entah kenapa orang satu ini masuk ke
daftar ingatanku saat SD, padahal kenal dekat dengan dia pun tidak.
Setelah masuk ajaran baru kami mulai
melakukan aktivitas belajar di kelas seperti biasa, pemilihan perangkat kelas,
pembagian tempat duduk, dll. Aku bukan salah satu orang yang penting di kelas,
karena sifatku yang pendiam dan cuek membuatku susah mendapat teman. Aku mempunyai
seorang teman yang sangat cantik, namanya Mahinta. Namanya secantik orangnya
dan sebaik hatinya. Belum lama masuk sekolah dia sudah mengundang perhatian
kaum adam di kelasku.
Suatu hari, entah kenapa teman satu
Sd ku itu, yang ternyata namanya adalah Reyhan, dia selalu menggangguku. Hari
itu dia selalu membuatku kesal karena ia terus memercikkan air cuci tangan
kearahku. Aku tahu dia bercanda, aku tidak ingin terkenal sebagai anak yang
sombong, aku membalasnya dengan balik memercikkan air kearahnya, sayangnya
niatku memang memercikkan air tapi yang terjadi adalah aku menyiramkan air cuci
tangan tersebut ke mukanya, dan seragamnya basah semua. Aku mulai panik, aku
yakin dia pasti marah, dan apa yang terjadi? Dia malah tertawa dan tidak
membalasku, ia tertawa sambil berlari ke kantin. Aku menatapnya heran dan makin
kesal. Akhirnya aku mengajak Mahinta untuk membeli jajan di kantin dan
melupakan tentang Reyhan. Sampai di kantin aku melihat Reyhan dan
teman-temannya menatap kearahku sambil tertawa-tawa. Aku risih diperhatikan
seperti itu dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
Keesokan harinya sekolah masih
berlanjut seperti biasa. Hari itu temanku Mada menghampiriku,
“Hai Dewi, ada temenku mau minta nomor
HP mu boleh?”
“Siapa?”
“Reyhan,” jawab Mada dengan tersenyum.
Aku melihat kearah Reyhan, tidak ada
tanda-tanda dia berniat meminta nomor HP ku.
“Bilang ke Reyhan, kalau mau nomor HP ku
minta sendiri ya, jangan suruh temannya,” aku tersenyum dan meninggalkan Mada.
Tanpa aku duga, ternyata Reyhan
benar-benar menghampiriku. Ia berdiri di dekat kursiku,
“Boleh minta nomor HP,” ia berkata
dengan rasa canggung.
“Boleh,” jawabku dan langsung menuliskan
nomorku diselembar kertas.
“Makasih,” dia tersenyum dan langsung
pergi.
Makin lama aku makin penasaran, kenapa
dia selalu ada dalam ingatan masa kecilku, bahkan kini namanya masuk daftar
list orang penting dibuku diary-ku.
‘Aku ingin mengenalnya lebih dekat’ itulah yang selalu terbersit dalam
pikiranku.
Setiap hari aku selalu memperhatikan
tingkahnya, aku mulai menilainya dari segi fisik, sifat, dll. Dari segi fisik
dia memang tidak tampan, apalagi waktu itu dia tergolong gemuk dan kulitnya
juga tidak putih. Tapi aku sangat menyukainya dari segi sifat, dia jahil tapi
baik hati, dia lucu dan ceria. Jarang sekali aku melihatnya murung, dia selalu
tertawa bersama teman-temannya. Suaranya paling lantang ketika bercerita
tentang klub sepak bola Barcelona, dengan semangatnya ia menceritakan tentang
Messi, bagaimana Messi mencetak goal, menggiring bola, dan gaya Messi ketika menang.
Diam-diam aku tertawa melihatnya.
Makin hari semakin memperhatikan dia,
aku mulai merasa ada perasaan yang berbeda. Makin lama aku semakin ingin dekat
dengannya. Entah kenapa suatu hari ketika ibuku mengajakku membeli jaket di
pasar, aku memilih jaket Barcelona. Padahal aku tidak tahu apapun tentang sepak
bola, yang aku tahu Reyhan menyukai Barcelona. Apapun yang Reyhan suka aku
selalu mencoba untuk menyukainya juga.
Perasaan itu hanya menjadi rahasia
pribadiku, teman baikku yang bernama Angel pun tak pernah tahu. Namun
sepertinya perasaanku tak terbalas, karena kenyataannya Reyhan menyukai Septi,
teman satu kelasku yang sangat cantik, anggun dan jago menari. Semakin hari,
berita tentang Reyhan yang menyukai Septi makin menyebar. Visiku kali ini adalah
membuat Reyhan tersenyum, jadi aku berusaha membuat Reyhan dekat dengan Septi,
walau kenyataannya aku cemburu. Aku memanggil Reyhan dan mengatakan
“Rey, kalau kamu suka Septi kamu bilang aishiteru ke dia,” jujur sebenarnya itu
kata-kata yang ingin aku ucapkan untuk Reyhan, tapi aku malah menyuruh Reyhan
mengatakannya pada Septi.
“Aishiteru?
Apa tuh artinya? Ngga mau ah, nanti artinya aneh,” dan Reyhan tidak
mempercayaiku, oke tidak apa-apa. Aku masih merasa senang kok.
Perasaan itu terus berlanjut hingga aku
naik ke kelas 8. Kali ini aku tidak sekelas dengan Reyhan, melainkan sekelas
dengan sahabatku Angel. Reyhan berada di kelas 8.3, sementara aku di kelas 8.1.
Ada Reyhan dikelas ataupun tidak masih tetap sama, aku tetap menyukai Reyhan.
Satu hal yang menjadi prinsipku, aku boleh menyukai siapapun tapi aku tidak
boleh pacaran sekarang. Aku mau pacaran ketika SMA saja. Yosh! Jadi tidak
masalah kalau Reyhan belum suka padaku.
Aku tipe orang yang selalu perhatian
pada orang yang aku suka, entah suka itu karena suka dari perasaan terdalam
ataupun hanya suka karena dia baik. Namun kadang orang malah salah sangka
terhadap tingkahku, mereka kira aku menyukai mereka dalan konteks sesuatu yang
lebih, yaitu ‘cinta’. Angel sudah tahu kepribadianku satu ini, karena dia
sahabatku sejak SD. Dia tidak curiga kalau aku perhatian pada Reyhan. Dia
menganggap itu hal biasa, padahal itu adalah hal yang tidak biasa.
Suatu hari ada hal yang tak terduga
antara aku dan Angel. Hal tersebut diawali ketika sekolahku mengadakan perlombaan
olahraga dengan SMPN 1. Aku dan Angel menjadi atlet voli, sementara Reyhan dan
Pita menjadi atlet tennis meja. Jadwal bermain voli masih besok, hari ini
adalah perlombaan tennis meja dan sepak bola. Lapangan sepak bola dipenuhi
dengan siswa yang antusias mendukung sekolahnya masing-masing, sementara tennis
meja tidak ada yang mendukung satupun. Aku dan Angel memutuskan untuk menonton
tennis meja. Sebelumnya aku dan Angel pergi ke kantin terlebih dahulu untuk
membeli minum. Aku membeli dua botol air mineral, satu botol akan kuberikan
kepada Reyhan. Aku melihat Angel membeli dua botol juga.
“kok beli dua botol, satunya untuk
siapa?” tanyaku pada Angel.
“Untuk Reyhan, kasihan pasti dia haus,”
dia menjawab dengan tersenyum.
Aku terkejut mendengar jawabannya.
“Kamu kok beli dua juga, buat siapa?”
aku makin terkejut dengan pertanyaan Angel kali ini.
“Emm, untuk Pita, dia juga pasti haus
kan, hehe,” aku berkata dengan gugup.
Aku memperhatikan Angel selama
perjalanan, dia terlihat bahagia dari tadi, tersenyum menatap botol air mineral
yang ia bawa. Ini firasat buruk.
Sesampainya ditempat perlombaan tennis
kami duduk dan melihat Reyhan bermain, aku akui dia jago bermain tennis.
Tiba-tiba bola yang dipukul lawan jatuh kearahku. Reyhan berjalan mendekatiku.
“Hei sini bolanya, jangan diumpetin,”
dia berkata sambil mengulurkan tangannya meminta bola padaku.
“Eh siapa juga yang ngumpetin, salahin
bolanya dong ngapain lari kearahku,” aku memberikan bola itu pada Reyhan.
Reyhan tertawa mendengar jawabanku, aku membalasnya dengan senyum.
Tak lama kemudian Reyhan selesai bermain
tennis, Angel memberikan minum itu pada Reyhan, Reyhan menerimanya dengan
tersenyum, dan aku memperhatikan mereka dengan rasa cemburu.
Aku mencoba tetap bersikap biasa pada
Angel dan Reyhan. Perasaan ini tetap menjadi rahasia pribadiku. Begitulah
niatku dari awal.
Hari minggu tiba, kali ini aku mengisi
liburan dengan belajar bahasa inggris. Aku sangat suka membaca cerita, aku
mencoba menerjemahkan cerita Danau Toba dari bahasa indonesia ke bahasa
inggris. Cukup sulit, tapi aku sangat menikmatinya. Tiba-tiba ponselku
berbunyi, tertera di layar ponselku ‘pesan masuk dari Reyhan’. Aku membuka dan
membaca pesan tersebut.
‘Lagi apa Dew?’
‘Lagi nerjemahin cerita Danau Toba ke
bahasa inggris’
‘Oh gitu, ngga usah susah-susah
nerjemahin, nanti aku cariin cerita Danau Toba dalam bahasa inggris di
internet’
‘Eh ga usah, ngrepotin’
‘Udah ngga apa-apa, kebetulan aku lagi
di warnet. Udah makan belum?’
Topik
bahasan sudah diganti oleh Reyhan, sepertinya dia tidak mau aku
menolak
tawarannya.
Keesokan harinya salah seorang
temanku memanggilku dikelas.
“Dew, ada Reyhan tuh nyariin kamu,”
Aku keluar kelas dan menemui Reyhan.
“Hai Rey,” satu hal yang sampai
sekarang tidak bisa aku lakukan ‘menatap matanya’
“Hai Dew, ini cerita Danau Tobanya,
kalau ada apa-apa lagi bilang aja ya, daaah,” ia berjalan meninggalkanku.
“Terimakasih Reyhan,” Aku berteriak
mengucapkan terimaksih, ia membalasnya dengan tersenyum.
“Dew sepertinya Reyhan suka kamu
deh,” kata teman-temanku di kelas.
“Hah mana mungkin,” jawabku tak
percaya.
“Ih keliatan tau, dia tuh kalau
ngomong sama kamu selalu fokus natap kamu. Kalau lagi ngomong sama kamu ga
pernah ngeliat-liat yang lain, fokus ke satu tujuan, mata kamu,” aku tidak tahu
harus percaya atau tidak dengan kata-kata mereka, aku hanya menanggapinya
dengan tersenyum.
Semakin hari Reyhan dan Angel
semakin dekat, bahkan tersebar gosip bahwa Reyhan menyukai Angel. Aku hanya
bisa menghela nafas dalam-dalam. Tidak apa-apa, mereka sama-sama orang yang
paling banyak masuk daftar buku harianku. Mereka sama-sama orang yang aku suka,
seandainya mereka benar-benar saling suka, seharusnya aku menjadi sahabat yang
paling bahagia. Perasaan itu terus ku pendam, dan gosip itu makin menyebar
ketika aku kelas 9. Angel sering menceritakan tentang Reyhan padaku.
Suatu hari aku dan Angel mengadakan
adu tanding badminton di halaman rumahku, siapa yang kalah dia harus meminum
air garam satu gelas. Permainan pun telah berakhir dan dimenangkan olehku.
Sebelum melaksanakan hukuman kami istirahat sebentar. Aku saling berbalas pesan
dengan Reyhan melalui ponsel. Aku melihat Angel juga sibuk dengan ponselnya. Ia
terlihat kesal saat itu.
“Ih nyebelin,” Angel berjalan
mendekatiku sambil cemberut.
Ia duduk disampingku dan mengambil ponselku.
“Dew, kamu lagi SMS-an sama Reyhan?”
tanyanya padaku.
“Iya,” jawabku.
“Ih ngeselin, dia lama banget coba
jawab pesanku,”
“Masa sih? Mungkin kartu kamu ngga
ada sinyalnya, jadi pesannya lama masuknya” aku tak percaya karena Reyhan
selalu langsung membalas pesanku ketika pesanku terkirim.
“Mana mungkin, orang kita pakai
kartu yang sama kan,” jawab Angel.
“Oh iya ya,”
“Ya udah, sekarang kita coba kirim
pesan yang sama ke Reyhan secara bersamaan,” Angel mengetik pesan di ponselku
dan ponselnya.
‘Udah makan Rey?’
‘Udah, kamu udah makan?’
Pesan balasan dari Reyhan masuk ke
ponselku, sementara pesan Angel belum ia balas juga.
“Tuh kan, dia cuma balas pesan kamu
aja!”
Angel berdiri dan langsung berjalan
meninggalkanku. Aku mengejar Angel yang berjalan ke arah pasar, karena rumahku
memang tidak jauh dari pasar.
“Angel tungguin,” aku terus mengejar
Angel.
“Aku ngga peduli sama Reyhan, toh
cowok bukan cuma dia aja, masih banyak cowok lain di dunia ini. Reyhan
ngeselin,” Angel terus menggerutu dan berjalan cepat meninggalkanku.
“Angel jangan marah dong, aku minta
maaf,” Aku berlari mengejar Angel.
“Eh liat tuh, mereka lagi berantem,”
abang-abang tukang ojek yang ada di pasar menertawakan kami.
Aku malu sekali dan langsung menarik
tangan Angel.
“Angel, orang-orang ngetawain kita
tuh, jangan malu-maluin dong,” aku berbisik pada Angel.
“Oh ya?” Angel melihat sekelilingnya
dan mulai menggandeng tanganku, aku pun merasa lega.
Kami berkeliling dan membeli makanan
yang kami suka. Pulang dari pasar Angel sudah tidak marah lagi, dan aku memilih
tidak membahas masalah Reyhan lagi.
Aku dan Reyhan adalah sepasang ketua
kelas dan wakil ketua kelas di kelas 9.1. Aku yang menjadi ketua dan Reyhan
yang menjadi wakilnya. Aku suka sekali karena Reyhan menjadi wakilku, walaupun
sebenarnya yang sering membantuku menjalankan tugas adalah Angel. Semakin hari
aku dan Reyhan semakin dekat, kami sering ngobrol lewat SMS, sering berbagi
makanan saat istirahat, dan Reyhan sering membagikan apapun yang ia suka
padaku.
Satu hari ia mengambil ponselku dan
mengirimkan lagu-lagu Linking Park ke HP ku. Jujur sebenarnya aku kurang suka
mendengarkan lagu, tapi sejak Reyhan mengirimkan lagu itu aku jadi sering
mendengarkannya, terutama lagu Linking Park-Numb.
“Itu lagu-lagu kesukaanku,” katanya
setelah mengirimkan lagu-lagu tersebut ke ponselku.
“Oke, akan aku dengarkan setiap
hari,” aku tersenyum pada Reyhan.
Suatu malam saat suasana mendung
tanggal 24 September 2012, aku menerima pesan dari Reyhan.
‘Dew malam ini mendung ya’
‘iya, ngga ada bintang’ jawabku.
‘tapi anehnya dihati aku kok tetap
terang ya’
‘kok bisa?’ tanyaku
‘karena selalu ada kamu yang
menyinarinya :)’
‘kok sama’
‘oh ya?’
‘ya hati aku juga ngga pernah
mendung’
‘karena?’
‘karena kamu :)’
‘serius? Jadi kamu juga suka aku?’
tanya Reyhan.
‘tapi, bukannya kamu suka Angel ya?’
‘hahaha, itumah temen-temen aja yang
suka bercanda, aku ngga pernah suka sama Angel kok’
‘oh gitu’
‘kamu cemburu ya?’
‘ngga kok’
‘halah jujur aja’
‘hihihi :D’
‘Dew, berarti kamu mau kan jadi
pacar aku?’
Aku membaca pesan Reyhan berulang
kali, aku takut dia hanya main-main. Setelah yakin dia tidak main-main, aku
menjawab pesannya.
‘iya’
‘yeay, berarti sekarang kita pacaran
ya :D’
Aku tersenyum dan terus membaca
pesan tersebut berulang kali, aku sekarang jadi pacarnya Reyhan. Aku bahagia
sekali malam itu, mungkin aku akan tidur sambil tersenyum.
Keesokan harinya aku bercermin
sambil menyisir rambutku. Aku kembali teringat prinsipku untuk tidak pacaran
dulu. Tapi aku terlalu takut untuk menolak Reyhan, aku takut Reyhan akan
menjauhiku kalau aku menolaknya. Diam-diam aku menangis, ‘apa keputusanku ini
sudah benar?’ pertanyaan itu terus menghantuiku. Setiap kali ada ragu yang
muncul aku selalu berdo’a “Ya Allah kalau memang keputusanku ini benar tolong
biarkan aku terus bersama Reyhan, aku tidak akan meninggalkan Reyhan, aku ingin
Reyhan menjadi suamiku, tetapi kalau keputusanku ini salah, tolong tunjukkan
jalan yang benar,”.
Hari-hariku disekolah kini berbeda,
aku sangat bahagia punya pacar sepertii Reyhan, dia sangat baik dan perhatian.
Dia tidak pernah membuatku cemburu. Pernah suatu hari ia pulang sekolah bersama
temanku yang bernama Zahra. Aku tidak tahu kalau dia mengantarkan Zahra pulang.
Tapi sesampainya di rumahnya, Reyhan langsung menelponku, dia meminta maaf
karena telah mengantarkan Zahra pulang tanpa sepengetahuanku, dia bilang tadi
Zahra ada masalah dengan anak sekolah lain dan dia tidak berani pulang, karena
Reyhan membawa motor, jadi dia yang mengantarkan Zahra pulang. Aku tersenyum
mendengar penjelasan Reyhan. Aku suka Reyhan, aku suka kejujurannya. Padahal
jika ia tidak bilangpun aku tidak akan tahu. Tapi dia malah meminta maaf
padaku.
Reyhan
juga sangat pengertian. Aku bukan anak yang bisa seenaknya meminta uang pada orangtuaku
untuk membeli pulsa, jadi ada kalanya aku tidak membalas pesan Reyhan karena
pulsaku habis. Dia tidak pernah marah jika pesannya tidak ku balas, sebaliknya
dia malah menelponku. Dia bilang, “Iya aku ngga marah kok, aku tahu, makanya
aku langsung telpon kamu aja,”. Bagaimana aku tidak luluh dengan seseorang
seperti ini.
Sebulan kemudian, entah ini ujian
atau petunjuk dari Allah. Hari itu aku mendapat beasiswa prestasi dari
sekolahku, aku harus melengkapi berkas, dan aku melupakan hal terpenting, kartu
pelajar, aku meninggalkannya di meja kamarku. Aku pun panik, guruku menyuruhku
untuk pulang mengambilnya. Aku pun kembali ke kelas untuk berpamitan dengan
teman-temanku.
“Teman-teman, mohon kerja samanya
ya, aku harus mengambil kartu pelajarku di rumah, selama aku pergi tolong
jangan keluar kelas, kalau ketahuan bu Ina kalian bisa kena marah,”
“Pulang naik apa Dew?” tanya
temenku.
“Naik ojek lah,” jawabku.
“Suruh Reyhan aja yang nganterin,
diakan bawa motor,”
“Ngga usah ngga apa-apa, aku naik
ojek aja,” aku pun keluar meninggalkan kelas.
Ketika aku sampai didekat gerbang
sekolah, tiba-tiba seseorang datang.
“Ayo naik, aku antar pulang,”
“Loh Reyhan, kok kamu tinggalin
kelas, kalau mereka ribut gimana?”
“Kalau aku ngga pergi mereka makin
ribut, mereka maksa aku buat nganterin kamu, lihat aja tuh dibelakang,”
Aku menengok dan melihat
teman-temanku keluar kelas.
“Cieee, nganterin pacarnya pulang,”
“Kalian, buruan masuk ke kelas,
nanti kena marah bu Ina!” aku berteriak menyuruh mereka masuk, tapi mereka
tidak mempedulikan perkataanku.
“Rey ayo kita pergi secepatnya, aku
takut bu Ina marah,” aku dan Reyhan pun melaju dengan cepat, aku sebisa mungkin
kembali ke kelas dengan secepatnya.
Sesampainya di sekolah, suasana didepan
kelasku sepi. Ketika memasuki pintu kelas, aku dan Reyhan terkejut,
teman-temanku dihukum oleh bu Ina, mereka berdiri didepan papan tulis.
“Oh ini dia anaknya, bagus ya ketua
kelas dan wakil keluar bareng! Tuh lihat fans kalian yang ngeliatin kalian
boncengan keluar sekolah! Kalian pacaran ya hah? Setelah ini kalian berdua ikut
saya ke kantor,” Bu Ina memarahi aku dan Reyhan.
“Ini semua gara-gara kalian berdua,”
mereka menangis dan menyalahkan aku dan Reyhan.
Yang aku takutkan terjadi, inilah
alasanku kenapa aku tidak mau pulang diantar Reyhan.
“Rey ayo kita ke kantor,” aku
mengajak Reyhan ke kantor.
“Jangan Dew, aku saranin kamu ngga
usah turutin Bu Ina ke kantor,” jawab Reyhan.
“Tapi Rey, kalau kita ngga ke kantor
nanti bu Ina makin marah,”
Reyhan tetap tidak mau pergi ke
kantor. Akhirnya aku pergi sendiri ke kantor.
Sesampainya di kantor aku langsung
disambut sinis oleh guru-guru.
“Oh ini pacarnya Reyhan?”
“Kok kamu bisa suka sama Reyhan?”
“Kamu pacaran? Setau ibu anak pinter
tu ngga pernah pacaran ya,”
“Kamu suka apa dari Reyhan?”
“Suka rambut keritingnya? Atau
karena dia anaknya bu Rara? Karena dia anak orang kaya?”
“Jangan-jangan ketika pesta ibunya
Reyhan kemarin kamu datang ya?”
Aku tidak bisa menahan airmataku,
aku menangis mendengar pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan padaku, seolah
mereka ingin menyerangku. ‘apa karena dia anak orang kaya?’ kata-kata itu terus
terngiang dikepalaku.
“Sudah berapa lama kamu pacaran sama
Reyhan?”
Aku diam, masih terdiam dengan isak
tangis.
“Kok nangis? Kan ibu nanya,”
“Aku bakal putusin Reyhan kok bu,”
jawabku.
“Loh ibu Cuma nanya lo,”
“Aku bakal putusin Reyhan nanti bu,
permisi” aku berlari meninggalkan ruang guru.
Aku menangis di tempat wudhu yang
ada di sebelah musholla tepat berada dibelakang kelasku. Aku mencuci mukaku
sebelum kembali ke kelas agar mereka tidak tahu kalau aku menangis. Aku masuk
ke kelas dengan tersenyum dan kembali duduk du kursiku.
“Dew tadi kamu diapain di kantor?”
tanya Angel.
“Ngga diapa-apain kok, kenapa
emang?”
“Kamu nangis ya?” tanyanya lagi.
“Hahaha siapa yang nangis, aku ngga
nangis kok,” mungkin aku terlalu bodoh saat berbohong. Aku diam tidak berani
menatap Reyhan.
Setelah pulang sekolah aku menangis
di halaman belakang rumahku, tepatnya ditepi kolam ikan, dibawah pohon rambutan.
Tak lama kemudian Reyhan menelponku.
‘Dew aku tahu, kamu nangis kan? Pasti
bu Ina tadi ngomong hal yang buat kamu sakit hati,’
Aku makin menangis mendengar
perkataan Reyhan.
‘Tadi bu Ina bilang, apa aku suka
kamu karena kamu anak orang kaya?’
Reyhan terdiam di seberang sana.
‘Apa aku salah kalau aku suka kamu?’
‘Dew, kamu ngga salah, aku tahu bu
Ina emang keterlaluan, apalagi kalau kita berdua ada disana, entah apa yang
bakal dia omongin, makanya aku ngga mau dengerin kata-kata bu Ina. Yang jelas
sekarang kamu ngga usah masukin hati kata-kata bu Ina, terserah apa kata
mereka, yang jelas kamu tetap pacar aku,”
Aku sedikit tenang mendengar
kata-kata Reyhan. Reyhan mencoba mengubah topik pembicaraan dan mencoba
menghiburku.
Keesokan harinya, tepatnya hari Sabtu.
Hari ini adalah jadwal bagi anggota OSIS untuk melatih petugas upacara bendera
untuk hari Senin nanti. Sebagai ketua OSIS aku harus selalu ikut melatih. Saat aku
sedang melatih petugas pengibar bendera, tiba-tiba aku melihat ibunya Reyhan
datang ke sekolahku. Seharusnya itu hal yang wajar, karena ibu Reyhan adalah
pengawas di Madrasah. Tapi kali ini aku merasakan firasat buruk. Tak lama
setelah ibu Reyhan memasuki ruang guru, nama Reyhan pun dipanggil. Aku mulai
khawatir.
Setelah pulang sekolah aku menelpon
Reyhan.
‘Rey, tadi ibu kamu datang ke
sekolah ya?’
‘Iya’
‘Beliau bilang apa? Pasti kamu
dimarahi ya?’
‘Ngga apa-apa kok, tadi ibu minta
kamu dipanggil juga sih, tapi aku bilang aja kalau kita udah putus, aku ngga
mau kamu dimarahi lagi,’
Aku diam mendengar kata-kata Reyhan.
‘Dew, gimana kalau kita pura-pura
putus aja?’
‘Maksud kamu backstreet?’ tanyaku.
‘Iya, itupun kalau kamu setuju sih’
‘Oke, aku rasa itu lebih baik’
‘Jadi kita sepakatin tanggal putus
kita tanggal 25 Oktober 2012’
‘Oke, kita harus kasih tahu semua
temen kita tanpa terkecuali, di sekolah hanya kita yang tahu kalau kita Cuma pura-pura’
Dan akhirnya kesepakatan itupun
dibuat. Kami bercerita pada teman-teman dikelas kalau kami sudah putus, berita
itu cepat menyebar. Namun tetap tidak bisa meredam berita bahwa aku dan Reyhan
pacaran. Satu sekolah tau semua kalau aku dan Reyhan pacaran. Hebat, berita itu
bisa menyebar sampai satu sekolah.
Hari-hari aku dan Reyhan
menjalaninya dengan pura-pura saling tak peduli, hingga suatu pagi aku melihat
Reyhan datang ke sekolah dengan tangan terluka.
“Mas, Reyhan kenapa?” aku bertanya
pada temanku yang bernama Anto.
“Tadi dia disrempet motor, jadi dia
jatuh deh, dan tangannya terluka,” jawab Anto.
Aku menatap Reyhan dari tempat
dudukku, aku ingin sekali mendekat kesana dan mengobati luka ditangannya. Tapi kebohongan
ini seolah menjadi batas antara aku dan Reyhan.
‘Maaf Rey, aku tidak bisa membantumu
dari dekat, maaf’
Cuma itu yang bisa kuucapkan dalam
hati, aku hanya bisa berdo’a semoga tidak terjadi hal yang serius padanya. Aku
hanya bisa menanyakan keadaannya via SMS atau telpon saat dirumah nanti.
Rahasia aku dan Reyhan pura-pura
putus ternyata tidak bertahan lama. Angel, sahabatku satu ini terlalu peka, dia
menyadari keanehan antara aku dan Reyhan, dan akhirnya dia tahu kalau kami
hanya pura-pura putus. Teman dekatku dan teman dekat Reyhan pun tahu aku dan
Reyhan belum putus.
Ibuku tahu kalau aku pacaran, dan
ibuku juga tahu kalau aku dimarah guru gara-gara ketahuan pacaran. Ibuku tidak
secara langsung memarahiku, beliau hanya mengajukan syarat, aku tidak boleh
jalan-jalan berdua dengan Reyhan dan aku harus tetap menjadi juara umum di
sekolah, kalau aku tidak juara umum lagi maka aku harus putus dengan Reyhan.
Oke, persyaratan itu aku setujui.
Tepat tanggal 11 Januari 2013, aku
menyiapkan kado ulang tahun untuk Reyhan, kado berupa jam tangan. Aku bahagia
sekali hari ini, selain hari ini ulang tahun Reyhan, aku bahagia karena aku
bisa mempertahankan juara umumku, sehingga aku tetap bisa bersama Reyhan.
Sepulang sekolah aku bertemu dengan
Anto di kantin. Aku menitipkan kado ulang tahun untuk Reyhan kepada Anto. Ketika
aku sedang memberikan kado itu, aku mendengar suara bisik-bisik dari arah
kantin sebelahku berdiri.
“Eh itu kak Dewi kan, pacarnya kak
Reyhan,”
Aku dan Anto menoleh kearah mereka. Mereka
menatapku sambil berbisik-bisik. Ini tidak membuatku nyaman sama sekali. Aku dan
Anto pun memutuskan pergi meninggalkan kantin.
Sore harinya Reyhan menelponku.
‘Sayang, makasih ya kadonya, aku
suka’
Aku sangat bahagia karena Reyhan
suka dengan kado yang aku berikan. Dia memakainya setiap hari saat sekolah. Namun,
suatu hari aku melihat jam itu tidak terpasang ditangannya.
“Loh Rey, jam kamu kemana?” aku
bertanya langsung pada Reyhan saat disekolah.
“Di pakai kak Syahid, kak Syahid
suka jam nya, jadi hari Senin-Kamis aku yang pakai, Jum’at Sabtu dia yang pakai,”
jawab Reyhan dengan jujur.
“Oh gitu,” aku mencoba untuk tidak
marah pada Reyhan, walau sebenarnya aku agak kesal.
Hari-hari terus berlalu, akhir-akhir
ini Reyhan jarang sekali menghubungiku, pesanku pun kadang tak ia balas. Aku heran
kenapa dia tidak membalas pesanku, tapi aku selalu berpikir positif, aku tidak
pernah curiga pada Reyhan, mungkin karena aku memang sudah percaya padanya.
Tanggal 01 April 2013, tepat hari
ulang tahunku, aku tidak tidur sampai jam 00:00, hanya untuk menunggu ucapan ulang
tahun dari Reyhan. Namun, sampai tanggal 03 April 2013, dia belum mengucapkan kata
‘selamat ulang tahun atau happy birthday’.
Akhirnya temanku Ana yang mengetahui
kesedihanku langsung menegur Reyhan. Saat itu juga Reyhan langsung mengucapkan
‘Selamat ulang tahun sayang, maaf ya
aku lupa ngucapin kemarin, kamu mau jalan sama aku, kita makan diluar’
‘Terimaksih Rey :),
ngga apa-apa kok, tapi aku ngga boleh jalan keluar sama ibuku’
‘hmm, tapi nanti kamu marah
gara-gara aku telat ngucapin ultah’
‘haha, ngga lah, ngga mungkin aku
marah sama kamu’
Jujur, aku memang sedikitpun tidak
marah pada Reyhan, bahkan walaupun dia mengucapkan kata ulang tahun sudah lewat
2 hari, tapi aku tetap merasa bahagia.
Setelah ulang tahunku, keadaan
kembali seperti semula, kembali sunyi tanpa kabar dari Reyhan. Aku tetap positif thinking dan selalu percaya pada
Reyhan. Hingga pada tanggal 23 April 2013, saat aku sedang istirahat
tidur-tidur diruang tamu, tiba-tiba ada pesan masuk dari Reyhan.
‘Dew, kamu udah ngga mau ngomong
sama aku lagi kan, kata Ana kamu udah benci sama aku, kamu sebelkan sama aku,
kalau kaya gitu lebih baik sekarang kita PUTUS’
What!
Seperti disambar petir disiang bolong, aku sangat terkejut membaca pesan dari
Reyhan.
‘Oh jadi ini alasan kamu selama ini
ngga balas pesan aku, kamu mau kita putus?’
‘Iya’
Aku tidak tahu harus bicara apa
lagi. Kali ini aku benar-benar marah pada Reyhan, mudah sekali dia bilang putus
saat aku sudah menetapkan akan mencintai dia sampai kapanpun. Tapi aku tidak
mau memaksa Reyhan, mungkin ini yang terbaik. Tapi kenyataan ini masih sulit
untuk aku terima.
Aku lari ke kamar, aku ambil buku
harianku dan aku banting ke lantai, aku mendongakkan kepalaku untuk menahan air
mataku.
“Aku tidak boleh nangis, aku tidak
mau menangis hanya karena putus,”
Aku membuka buku harianku, dan
mencoret-coretnya menggunakan pulpen.
‘KAMU JAHAT REYHANNNN!!!!’
‘AKU BENCI REYHAN!!’
‘KAMU TEGA REY :’(‘
Buku harianku penuh dengan
kalimat-kalimat kekecewaan itu. Aku menuangkan semuanya dalam diary-ku. Setelah itu aku memutuskan untuk tidur dan berharap ketika bangun
semua akan baik-baik saja. Yang lebih jahatnya lagi, Reyhan memutuskan hubungan
kami saat besoknya kami harus ujian matematika.
Setelah
hari itu aku memutuskan untuk tidak bertegur sapa dengan Reyhan.
Entah takdir atau kebetulan, aku
masuk di SMA yang sama dengan Reyhan. Aku dikelas 10.1, sementara Reyhan di
kelas 10.5 bersama dengan Angel. Setiap pagi aku selalu ke kelas 10.5 untuk
menemui Angel. Aku dan Angel selalu bersama saat pagi sebelum jam pelajaran
dimulai, saat istirahat, dan saat pulang sekolah. Karena Angel satu kelas
dengan Reyhan, aku selalu bertemu dengan Reyhan setiap pagi, tapi tidak pernah
menyapa. Jujur dalam hatiku, aku ingin melihat senyum itu lagi, senyum yang
sudah lama tak pernah kulihat, tapi aku masih sama seperti dulu, aku tetap
tidak berani menatapnya.
Suatu hari, entah kenapa, saat aku
duduk di kelas Angel, ketika Reyhan sedang bermain bola, tiba-tiba dia
menghampiriku.
“Mau permen?” dia memberikan sebuah
permen padaku.
Aku terdiam menatapnya, masih tidak
percaya dengan apa yang dia lakukan. Aku tidak menerima permennya melainkan
terus menatapnya.
“Mau atau tidak?” tanyanya dengan
tersenyum.
“Oh mau, makasih ya,” aku mengambil
permen itu dengan gugup.
Hari itu aku sangat bahagia. Angel yang
duduk disampingku saat itu juga merasa heran dan tidak percaya.
Ketika istirahat aku memberikan
sebuah permen juga pada Reyhan, saat itu ada teman-temannya Reyhan. Tiba-tiba
keesokan harinya ada gosip kalau aku mengajak Reyhan balikan lagi. Apa-apaan,
aku marah lagi kali ini.
‘Rey, aku kasih kamu permen untuk
membalas perbuatan baik kamu waktu itu karena sudah memberiku permen juga, jadi
jangan anggap aku memberi kamu permen itu sebagai tanda aku mengajak kamu
balikan lagi ya’
‘Dew jangan dengerin kata-kata
mereka’
Aku tetap marah pada Reyhan. Suatu hari
teman Reyhan menghampiriku dan bertanya,
“Dew, ‘miapa’ artinya apa Dew? Hahahaha,
ciyus miapah, hahaha”
“Dew masa kata Reyhan arti kata
miapa aja kamu ngga tahu, haha”
Hah? Reyhan? Jadi dia ceritakan
semua pada teman-temannya, dan aku dianggap sebagai lelucon. Aku memang katrok,
ndeso, ngga tahu makna kata ‘ ciyus miapa’ tapi ngga seharusnya dia jelek-jelekin
aku gitu didepan teman-temannya. Pulang sekolah aku hanya bisa menangis,
keputusanku sudah bulat untuk menjauhi Reyhan. Okey sekarang terserah dia,
sesuka hati dia mau jelek-jelekin aku
didepan temannya, yang penting jangan sampai aku jelek-jelekin dia.
Tahun berlalu, ternyata aku memang
orang yang susah move on, masih saja
ada nama Reyhan didalam otakku. Aku penggemar setia yang selalu mendengarkan
saat dia mengikuti lomba menyanyi, mungkin dia tidak melihatku, mungkin aku tak
terlihat diantara anak-anak yang berada disekelilingnya, namun hanya mendengar
suaranya bernyanyi aku sudah merasa tenang.
Setelah kelas 12, aku memutuskan
untuk menyapa Reyhan. Tidak baik jika aku selalu membencinya. Semakin aku
menjauh, semakin aku sulit untuk melupakan dia. Aku memilih bersikap seperti
dulu saat kami berteman, mungkin dengan begitu aku bisa lupa perasaan yang dulu
pernah ada didalam hatiku. Aku berhasil untuk tidak terbelenggu, aku merasa
lebih tenang.
Sekarang, saat sudah dibangku
kuliah, aku mulai sadar. Sebenarnya keputusan Reyhan untuk putus adalah
keputusan yang tepat. Hubungan kami saat itu adalah hubungan yang salah. Mungkin
dulu aku membenci dia karena menganggap dia menyakitiku. Tapi sekarang aku
berterimakasih, terimakasih sudah memilih keputusan yang tepat, terimakasih karena
hingga sekarang tetap menjadi temanku yang baik.
“Maaf
karena pernah menganggapmu orang jahat. Maaf karena pernah menerimamu sebagai
pacar, karena sesungguhnya Allah tidak pernah memperbolehkan hambanya pacaran. Sekarang
aku sadar, keputusanmu adalah cara Allah menjawab do’aku. TERIMAKASIH”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar