“Kringggg!
Kringg!”
Bunyi alarm membangunkanku di pagi hari.
Aku masih enggan bangkit dari tempat tidurku. Air Conditioner dikamarku masih ku biarkan hidup dengan suhu 18ÂșC.
“Lia,
bangun nak sudah jam 07.00, kamu ada kuliah jam 08.00 kan?” ibuku menghampiri
kamarku dan mengetuk pintu kamar.
“Iya
bu, Lia sudah bangun kok, ini lagi mau mandi,” aku menjawab dengan masih
malas-malasan diatas kasur.
“Ibu
tahu kamu pasti masih tiduran diatas kasur, ayo cepat bangun,”
Ibuku
memang seperti peramal, ia selalu tahu kapan aku berbohong dan kapan aku jujur.
Tanpa berpikir lama aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Selesai
menyiapkan semua perlengkapan yang kubawa aku langsung berpamitan pergi pada
ibuku.
“Bu,
Lia berangkat dulu ya,” aku mencium tangan ibuku.
“Loh
kamu tidak sarapan?” tanya ibuku.
“Sudah
jam 07.30 bu, bisa terlambat kalau aku sarapan dulu,”
Aku
pergi menuju kampus menggunakan sepeda. Hal yang aku tahu dari ibu kota adalah
kemacetan yang tak henti di sepanjang jalan, asap kendaraan yang menyesakkan,
bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga dan terik matahari yang
menyengat kulit. Inilah alasan kenapa aku enggan untuk keluar rumah.
Sesampainya
di kampus aku langsung memarkirkan sepedaku dan berjalan menuju kelas.
“Lia!”
seseorang memanggilku dari kejauhan.
Suara
yang berat dan kaki yang jenjang, aku sangat mengenal orang itu.
“Baru
datang juga? tumben,” Rastra adalah sahabatku sejak kecil.
“Iya
nih, bangun kesiangan, hehe,”
“Oh
ya Li, besok ada acara camping, kamu
ikut kan?” tanya Rastra padaku.
“Malas
ah,” jawabku singkat.
“Yah
kok gitu,” Rastra kecewa dengan jawabanku.
“Kamu
kan tahu dari dulu aku paling tidak suka pergi keluar rumah, kuliah saja kalau
bukan karena kewajiban aku malas pergi,”
“Justru
itu Li, kamu harus coba hal baru, banyak hal yang belum kamu lihat diluar
sana,” Rastra mencoba meyakinkanku.
“Apa
sih yang mau dilihat diluar sana? paling ya cuma macet, polusi, banjir dan
sampah, tidak ada yang spesial,” aku mulai kesal dan berjalan cepat
meninggalkan Rastra.
Rastra
masih menatapku yang pergi meninggalkannya. Rastra merasa kecewa dengan sikapku.
Pukul
16.00 WIB aku sudah kembali dari kampus. Aku termasuk mahasiswa yang pasif di
kampus, sejak semester 1 hingga semester 5 sekarang aku tidak pernah ikut
organisasi atau kepanitiaan. Menurutku semua itu hanya hal sia-sia.
Aku
kembali sibuk dengan gitar kesayanganku. Membuat lagu adalah salah satu
kesukaanku. Ibuku sangat memanjakanku, ia senang aku suka musik, semua alat
musik tertata rapi dikamarku.
“Lia
kamu sedang apa? Keluar sini, kamu coba dulu perlengkapan naik gunungmu,” ibu
memanggilku dari ruang tamu.
“Hah
perlengkapan apa bu?” aku terkejut mendengar perkataan ibuku.
Aku
lebih terkejut lagi ketika sampai di ruang tamu. Ibuku sibuk merapikan
perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki. Semua perlengkapan sudah dibeli,
mulai dari carrier, sepatu, mantel,
syal, topi, sampai perlengkapan kecil seperti obat-obatan pun sudah ibu
persiapkan. Aku hanya bisa menghela nafas.
“Bu
ini semua untuk apa?” tanyaku.
“Kamu
kan besok akan pergi ke Bromo dengan Rastra, ibu sengaja membelikan semua ini
agar kamu tidak perlu belanja lagi, ibu juga sudah menyiapkan semuanya. Ibu
sangat bangga padamu, ternyata keinginan ibu selama ini bisa terwujud, ibu
sangat ingin kamu melihat dunia luar, tidak hanya terpaku dengan duniamu
sendiri,” ibu memelukku dengan lembut, aku merasakan kehangatan dan kebahagiaan
ibuku.
Aku
sangat marah pada Rastra karena mengambil keputusan sepihak, tapi aku juga
tidak tega membuat ibuku kecewa. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama
Rastra.
Keesokan
harinya, pukul 04.00 WIB, Rastra datang kerumahku dengan raut wajah kemenangan.
Aku menyambutnya dengan tatapan dingin. Ku tarik ia menuju kamarku.
“Ras,
kamu apa-apaan sih, aku kan sudah bilang aku tidak mau ikut camping,” aku sangat kesal pada Rastra.
“Kita
tidak ikut camping kok, ini
perjalanan spesial aku dan kamu. Sudah tidak usah protes, aku jamin kamu bakal
ketagihan,” Rastra tidak mau mendengar alasanku lagi, ia langsung membawa carrier milikku ke mobilnya.
“Loh
kamu mau kemana Li?” ayahku terkejut melihat aku akan pergi bersama Rastra.
“Pergi
ke gunung yah,” jawabku tak bersemangat.
“Wah
anak ayah mau jadi pendaki rupanya, ayah bangga padamu, Rastra ayah titip foto
Lia ketika di kawah ya,” ayahku bahagia sekali.
“Ayah
tidak khawatir melihat anak perempuan ayah satu-satunya ini pergi ke gunung
bersama laki-laki?” aku berharap ayahku memarahi Rastra dan kami batal pergi.
“Kenapa
ayah harus khawatir, ayah sudah kenal lama dengan Rastra, Rastra sudah seperti
anak ayah sendiri,” jawab ayahku dengan tersenyum, ia menepuk pundak Rastra
dengan bangga.
Baik,
kali ini aku benar-benar kalah telak dari Rastra.
“Kenapa
sih kita harus berangkat sepagi ini?” tanyaku pada Rastra.
“Karena
perjalanan kita jauh, kita tidak boleh membuang-buang waktu,”
“Emang
Bromo dimana sih?” tanyaku dengan polosnya.
Ayahku
tersedak kopi saat mendengar pertanyaanku.
“Lia
kamu tidak tahu Bromo itu dimana?” tanya ibuku tak percaya.
Aku
menggelengkan kepalaku.
“Bagaimana
kamu bisa mendapat juara 1 di Sekolah Dasar, Gunung Bromo saja kamu tidak tahu,
ayah malu pada Rastra,” ayah mengutarakan kalimat kekecewaannya.
“Bromo
itu di Malang,” ibu memberitahuku.
“Oh,
Malang, Jawa Tengah,” jawabku dengan mantap.
“Hahaha!”
Semua yang ada diruangan tertawa.
“Kok
tertawa sih?” aku heran melihat mereka.
“Sejak
kapan Malang ada di Jawa tengah, Malang itu di Jawa Timur sayang,” ayahku terus
menertawakanku.
Aku
malu sekali. Ku lihat Rastra mencoba menahan tawanya.
“Sudah
ah ayo kita berangkat, ayah ibu aku pergi dulu,” aku mencium tangan mereka.
Perjalanan
kami memang agak jauh. Rastra memilih rute yang cukup jauh, yaitu
Jakarta-Semarang-Pantura ke Surabaya-Batu Malang, alasannya adalah safety.
Melalui jalur Pantura memang jaraknya jauh, namun jalannya lebar dan lurus,
serta lebih banyak bengkel jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku yang
tidak pernah melakukan perjalanan jauh menjadi alasan utama Rastra memilih
jalur ini. Kami melakukan perjalanan nonstop selama 16 jam 30 menit.
Kami
sampai dikamar penginapan pukul 21.00 WIB. Aku langsung merebahkan tubuhku di
kasur. Perjalanan ini sangat melelahkan.
“Kamu
istirahat saja Li, biar aku yang bawa barang-barang ke kamar, jangan lupa
mandi, aku mau cari makanan dulu untuk makan malam,” Rastra pergi meninggalkan
kamar.
Kami
hanya menyewa satu kamar dengan dua ranjang. Aku bergegas mandi, tak kusangka
air disini sangat dingin, sangat berbeda dengan di Jakarta. Aku membuka tirai
jendela, berharap bisa melihat pemandangan diluar sana, tapi gelapnya malam
menyembunyikan semuanya.
“Li
aku beli nasi goreng nih, yuk dimakan mumpung masih hangat, ini ada teh hangat
juga,” Rastra kembali dengan membawa kantung plastik berisi makanan dan
minuman.
Aku
meraih kantung itu dan langsung membukanya. Bau sedap nasi goreng itu
memanjakan hidungku. Aku memakannya dengan sangat lahap, sepertinya aku
kelaparan.
“Disini
cukup dingin,” aku mulai membuka pembicaraan.
“Iya,
karena disini daerah pegunungan, udaranya masih sangat bersih jauh dari polusi,
besok kita akan ke kawah Bromo, malam ini istirahat yang cukup ya, karena perjalanan
kita masih berlanjut besok,” Rastra membereskan bekas bungkus nasi dan
membuangnya ke kotak sampah.
Selesai
makan Rastra langsung tertidur lelap, mungkin karena lelah setelah melakukan
perjalanan jauh. Aku memandang takjub pada Rastra, temanku satu ini memang anak
yang keras kepala. Aku tidak pernah sekalipun mendengar ia mengeluh.
Sinar
matahari pagi menembus jendela membuatku terbangun dari tidurku.
“Selamat
pagi tuan putri, ayo bangun dan mandi, setelah ini kita akan berangkat ke
Gunung Bromo,” Rastra sudah menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa, bahkan
milikku pun sudah ia persiapkan.
Kami
keluar dari penginapan tepat jam 08.00 WIB. Kami sarapan di warung yang
terletak tidak jauh dari penginapan.
“Kita
jalan kaki ke Gunungnya?” tanyaku pada Rastra.
“Tidak,
aku sudah sewa jeep, kalau jalan kaki aku yakin kamu tidak akan sanggup,”
Rastra ternyata sudah menyiapkan semuanya.
Kami
tidak buang-buang waktu, selesai makan kami langsung menuju tempat penyewaan
jeep. Ada seorang pemandu yang menghantarkan perjalanan kami. Sepanjang jalan
aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya terpaku menatap pemandangan disana.
Kami
berhenti di area padang pasir. Padang pasirnya sangat luas.
“Dimana
kawahnya?” tanyaku penasaran.
“Hei,
perjalanan belum berakhir nona, kita baru sampai di Pasir Berbisik,” Rastra
mengeluarkan masker dan kacamata. Ia memakaikannya padaku.
“Kenapa
namanya pasir berbisik?” tanyaku.
Rastra
menutup mataku dengan kedua telapak tangannya.
“Dengarkan
baik-baik, maka kamu akan mengerti,”
Aku
merasakan sentuhan lembut pasir yang beterbangan tertiup angin, gesekan angin
yang menyentuh pasir tersebut membuat suara-suara indah, seolah mereka sedang
berbisik. Jantungku berdetak cepat, aku belum pernah merasakan perasaan seperti
ini sebelumnya.
Rastra
membuka kedua telapak tangannya dan tersenyum padaku.
“Kudanya
sudah datang, sekarang kita lanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda,”
Rastra menunjuk kearah dua ekor kuda yang dibawa oleh penduduk asli Gunung
Bromo, atau yang biasa disebut dengan Suku Tengger.
“Aku
tidak mau naik kuda, aku takut kuda,” aku bersembunyi dibalik punggung Rastra
saat kuda-kuda tersebut makin mendekati kami.
“Jangan
takut, kamu harus berani mencoba,” Rastra menarik tanganku, ia membantuku
berinteraksi dengan kuda tersebut. Aku tak menyangka kalau suatu saat aku bisa
naik kuda, hewan yang sejak dulu aku takuti.
Kawah
Bromo, baru kali ini aku melihat kawah secara langsung. Aku begitu takjub.
Beberapa saat aku sampai lupa pada Rastra, aku asik mengabadikan keindahan
Kawah Bromo menggunakan kamera.
“Sekarang
kita berfoto dan kembali ke penginapan,” Rastra mengambil kamera dan berfoto
bersama denganku.
“Aku
masih ingin disini,” aku belum puas melihat-lihat pemandangan.
“Besok
pagi kita akan mendaki Gunung Penanjakan, kamu tidak boleh terlalu lelah,”
Rastra bergegas mengajakku kembali.
Malam
harinya aku tidur dengan nyenyak di penginapan. Pukul 01.30 WIB Rastra
membangunkanku, kami bersiap untuk mendaki gunung. Kami tidak sendiri, kali ini
banyak sekali turis dan wisatawan yang berangkat mendaki.
“Wah
ternyata Gunung Bromo populer juga ya,” aku takjub melihat banyaknya turis yang
antusias datang ke Bromo.
“Semua
orang tahu itu, hanya kamu yang tidak tahu,” Rastra menepuk kepalaku dan mengacak-acak
rambutku.
Perjalanan
menuju puncak memang sangat melelahkan, namun semua itu terbayarkan ketika kami
sampai. Aku terpaku menatap kearah timur. Aku tak pernah menyangka, matahari
yang selama ini kuanggap sebagai benda yang panas dan merusak kulit bisa hadir
secantik ini dipagi hari. Kehangatan sinarnya menenangkan hatiku. Aku menangis,
bukan karena sedih, tapi karena menyesali keangkuhanku, kemana aku selama ini?
aku seperti katak yang baru keluar dari tempurung.
“Bagaimana
menurutmu Lia? Apa sekarang kamu sudah menyadarinya, Negeri kita ini Negeri
yang indah. Bromo hanya salah satu keindahan yang ada di Indonesia, dibalik
gunung ini dan diseberang lautan sana masih banyak keindahan yang menanti
kita,” Rastra tersenyum dan menepuk pundakku.
Kali
ini aku sangat setuju dengan Rastra. Aku sangat berterimakasih pada Rastra
karena telah membantuku melihat keindahan yang tak ternilai harganya.
“Terimakasih
Rastra karena telah membuatku menyadari bahwa selama ini aku hidup di Negeri
yang indah,” aku tersenyum bahagia.
Aku
makin ingin mengenal Indonesia. Selama ini aku merasa sudah sangat mengenal Negeriku,
ternyata aku salah. Aku bak burung didalam penangkaran, merasa tahu segalanya,
padahal aku hanya tahu apa yang ada dihadapanku tanpa mau melihat apa yang ada
diluar sana.
Aku
bangga pada Negeriku, Indonesia.