Sabtu, 03 November 2018

SENDU MATAHARI DILANGIT BROMO


            “Kringggg! Kringg!”
Bunyi alarm membangunkanku di pagi hari. Aku masih enggan bangkit dari tempat tidurku. Air Conditioner dikamarku masih ku biarkan hidup dengan suhu 18ºC.
            “Lia, bangun nak sudah jam 07.00, kamu ada kuliah jam 08.00 kan?” ibuku menghampiri kamarku dan mengetuk pintu kamar.
            “Iya bu, Lia sudah bangun kok, ini lagi mau mandi,” aku menjawab dengan masih malas-malasan diatas kasur.
            “Ibu tahu kamu pasti masih tiduran diatas kasur, ayo cepat bangun,”
            Ibuku memang seperti peramal, ia selalu tahu kapan aku berbohong dan kapan aku jujur. Tanpa berpikir lama aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
            Selesai menyiapkan semua perlengkapan yang kubawa aku langsung berpamitan pergi pada ibuku.
            “Bu, Lia berangkat dulu ya,” aku mencium tangan ibuku.
            “Loh kamu tidak sarapan?” tanya ibuku.
            “Sudah jam 07.30 bu, bisa terlambat kalau aku sarapan dulu,”
            Aku pergi menuju kampus menggunakan sepeda. Hal yang aku tahu dari ibu kota adalah kemacetan yang tak henti di sepanjang jalan, asap kendaraan yang menyesakkan, bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga dan terik matahari yang menyengat kulit. Inilah alasan kenapa aku enggan untuk keluar rumah.
            Sesampainya di kampus aku langsung memarkirkan sepedaku dan berjalan menuju kelas.
            “Lia!” seseorang memanggilku dari kejauhan.
            Suara yang berat dan kaki yang jenjang, aku sangat mengenal orang itu.
            “Baru datang juga? tumben,” Rastra adalah sahabatku sejak kecil.
            “Iya nih, bangun kesiangan, hehe,”
            “Oh ya Li, besok ada acara camping, kamu ikut kan?” tanya Rastra padaku.
            “Malas ah,” jawabku singkat.
            “Yah kok gitu,” Rastra kecewa dengan jawabanku.
            “Kamu kan tahu dari dulu aku paling tidak suka pergi keluar rumah, kuliah saja kalau bukan karena kewajiban aku malas pergi,”
          “Justru itu Li, kamu harus coba hal baru, banyak hal yang belum kamu lihat diluar sana,” Rastra mencoba meyakinkanku.
           “Apa sih yang mau dilihat diluar sana? paling ya cuma macet, polusi, banjir dan sampah, tidak ada yang spesial,” aku mulai kesal dan berjalan cepat meninggalkan Rastra.
            Rastra masih menatapku yang pergi meninggalkannya. Rastra merasa kecewa dengan sikapku.
          Pukul 16.00 WIB aku sudah kembali dari kampus. Aku termasuk mahasiswa yang pasif di kampus, sejak semester 1 hingga semester 5 sekarang aku tidak pernah ikut organisasi atau kepanitiaan. Menurutku semua itu hanya hal sia-sia.
            Aku kembali sibuk dengan gitar kesayanganku. Membuat lagu adalah salah satu kesukaanku. Ibuku sangat memanjakanku, ia senang aku suka musik, semua alat musik tertata rapi dikamarku.
         “Lia kamu sedang apa? Keluar sini, kamu coba dulu perlengkapan naik gunungmu,” ibu memanggilku dari ruang tamu.
            “Hah perlengkapan apa bu?” aku terkejut mendengar perkataan ibuku.
           Aku lebih terkejut lagi ketika sampai di ruang tamu. Ibuku sibuk merapikan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki. Semua perlengkapan sudah dibeli, mulai dari carrier, sepatu, mantel, syal, topi, sampai perlengkapan kecil seperti obat-obatan pun sudah ibu persiapkan. Aku hanya bisa menghela nafas.
            “Bu ini semua untuk apa?” tanyaku.
           “Kamu kan besok akan pergi ke Bromo dengan Rastra, ibu sengaja membelikan semua ini agar kamu tidak perlu belanja lagi, ibu juga sudah menyiapkan semuanya. Ibu sangat bangga padamu, ternyata keinginan ibu selama ini bisa terwujud, ibu sangat ingin kamu melihat dunia luar, tidak hanya terpaku dengan duniamu sendiri,” ibu memelukku dengan lembut, aku merasakan kehangatan dan kebahagiaan ibuku.
            Aku sangat marah pada Rastra karena mengambil keputusan sepihak, tapi aku juga tidak tega membuat ibuku kecewa. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama Rastra.
          Keesokan harinya, pukul 04.00 WIB, Rastra datang kerumahku dengan raut wajah kemenangan. Aku menyambutnya dengan tatapan dingin. Ku tarik ia menuju kamarku.
            “Ras, kamu apa-apaan sih, aku kan sudah bilang aku tidak mau ikut camping,” aku sangat kesal pada Rastra.
            “Kita tidak ikut camping kok, ini perjalanan spesial aku dan kamu. Sudah tidak usah protes, aku jamin kamu bakal ketagihan,” Rastra tidak mau mendengar alasanku lagi, ia langsung membawa carrier milikku ke mobilnya.
            “Loh kamu mau kemana Li?” ayahku terkejut melihat aku akan pergi bersama Rastra.
            “Pergi ke gunung yah,” jawabku tak bersemangat.
            “Wah anak ayah mau jadi pendaki rupanya, ayah bangga padamu, Rastra ayah titip foto Lia ketika di kawah ya,” ayahku bahagia sekali.
            “Ayah tidak khawatir melihat anak perempuan ayah satu-satunya ini pergi ke gunung bersama laki-laki?” aku berharap ayahku memarahi Rastra dan kami batal pergi.
            “Kenapa ayah harus khawatir, ayah sudah kenal lama dengan Rastra, Rastra sudah seperti anak ayah sendiri,” jawab ayahku dengan tersenyum, ia menepuk pundak Rastra dengan bangga.
            Baik, kali ini aku benar-benar kalah telak dari Rastra.
            “Kenapa sih kita harus berangkat sepagi ini?” tanyaku pada Rastra.
            “Karena perjalanan kita jauh, kita tidak boleh membuang-buang waktu,”
            “Emang Bromo dimana sih?” tanyaku dengan polosnya.
            Ayahku tersedak kopi saat mendengar pertanyaanku.
            “Lia kamu tidak tahu Bromo itu dimana?” tanya ibuku tak percaya.
            Aku menggelengkan kepalaku.
            “Bagaimana kamu bisa mendapat juara 1 di Sekolah Dasar, Gunung Bromo saja kamu tidak tahu, ayah malu pada Rastra,” ayah mengutarakan kalimat kekecewaannya.
            “Bromo itu di Malang,” ibu memberitahuku.
            “Oh, Malang, Jawa Tengah,” jawabku dengan mantap.
            “Hahaha!” Semua yang ada diruangan tertawa.
            “Kok tertawa sih?” aku heran melihat mereka.
            “Sejak kapan Malang ada di Jawa tengah, Malang itu di Jawa Timur sayang,” ayahku terus menertawakanku.
            Aku malu sekali. Ku lihat Rastra mencoba menahan tawanya.
            “Sudah ah ayo kita berangkat, ayah ibu aku pergi dulu,” aku mencium tangan mereka.
            Perjalanan kami memang agak jauh. Rastra memilih rute yang cukup jauh, yaitu Jakarta-Semarang-Pantura ke Surabaya-Batu Malang, alasannya  adalah safety. Melalui jalur Pantura memang jaraknya jauh, namun jalannya lebar dan lurus, serta lebih banyak bengkel jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh menjadi alasan utama Rastra memilih jalur ini. Kami melakukan perjalanan nonstop selama 16 jam 30 menit.
            Kami sampai dikamar penginapan pukul 21.00 WIB. Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Perjalanan ini sangat melelahkan.
            “Kamu istirahat saja Li, biar aku yang bawa barang-barang ke kamar, jangan lupa mandi, aku mau cari makanan dulu untuk makan malam,” Rastra pergi meninggalkan kamar.
            Kami hanya menyewa satu kamar dengan dua ranjang. Aku bergegas mandi, tak kusangka air disini sangat dingin, sangat berbeda dengan di Jakarta. Aku membuka tirai jendela, berharap bisa melihat pemandangan diluar sana, tapi gelapnya malam menyembunyikan semuanya.
            “Li aku beli nasi goreng nih, yuk dimakan mumpung masih hangat, ini ada teh hangat juga,” Rastra kembali dengan membawa kantung plastik berisi makanan dan minuman.
            Aku meraih kantung itu dan langsung membukanya. Bau sedap nasi goreng itu memanjakan hidungku. Aku memakannya dengan sangat lahap, sepertinya aku kelaparan.
            “Disini cukup dingin,” aku mulai membuka pembicaraan.
            “Iya, karena disini daerah pegunungan, udaranya masih sangat bersih jauh dari polusi, besok kita akan ke kawah Bromo, malam ini istirahat yang cukup ya, karena perjalanan kita masih berlanjut besok,” Rastra membereskan bekas bungkus nasi dan membuangnya ke kotak sampah.
          Selesai makan Rastra langsung tertidur lelap, mungkin karena lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Aku memandang takjub pada Rastra, temanku satu ini memang anak yang keras kepala. Aku tidak pernah sekalipun mendengar ia mengeluh.
            Sinar matahari pagi menembus jendela membuatku terbangun dari tidurku.
           “Selamat pagi tuan putri, ayo bangun dan mandi, setelah ini kita akan berangkat ke Gunung Bromo,” Rastra sudah menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa, bahkan milikku pun sudah ia persiapkan.
           Kami keluar dari penginapan tepat jam 08.00 WIB. Kami sarapan di warung yang terletak tidak jauh dari penginapan.
            “Kita jalan kaki ke Gunungnya?” tanyaku pada Rastra.
           “Tidak, aku sudah sewa jeep, kalau jalan kaki aku yakin kamu tidak akan sanggup,” Rastra ternyata sudah menyiapkan semuanya.
             Kami tidak buang-buang waktu, selesai makan kami langsung menuju tempat penyewaan jeep. Ada seorang pemandu yang menghantarkan perjalanan kami. Sepanjang jalan aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya terpaku menatap pemandangan disana.
            Kami berhenti di area padang pasir. Padang pasirnya sangat luas.
          “Dimana kawahnya?” tanyaku penasaran.
         “Hei, perjalanan belum berakhir nona, kita baru sampai di Pasir Berbisik,” Rastra mengeluarkan masker dan kacamata. Ia memakaikannya padaku.
           “Kenapa namanya pasir berbisik?” tanyaku.
            Rastra menutup mataku dengan kedua telapak tangannya.
           “Dengarkan baik-baik, maka kamu akan mengerti,”
          Aku merasakan sentuhan lembut pasir yang beterbangan tertiup angin, gesekan angin yang menyentuh pasir tersebut membuat suara-suara indah, seolah mereka sedang berbisik. Jantungku berdetak cepat, aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
            Rastra membuka kedua telapak tangannya dan tersenyum padaku.
           “Kudanya sudah datang, sekarang kita lanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda,” Rastra menunjuk kearah dua ekor kuda yang dibawa oleh penduduk asli Gunung Bromo, atau yang biasa disebut dengan Suku Tengger.
           “Aku tidak mau naik kuda, aku takut kuda,” aku bersembunyi dibalik punggung Rastra saat kuda-kuda tersebut makin mendekati kami.
         “Jangan takut, kamu harus berani mencoba,” Rastra menarik tanganku, ia membantuku berinteraksi dengan kuda tersebut. Aku tak menyangka kalau suatu saat aku bisa naik kuda, hewan yang sejak dulu aku takuti.
            Kawah Bromo, baru kali ini aku melihat kawah secara langsung. Aku begitu takjub. Beberapa saat aku sampai lupa pada Rastra, aku asik mengabadikan keindahan Kawah Bromo menggunakan kamera.
          “Sekarang kita berfoto dan kembali ke penginapan,” Rastra mengambil kamera dan berfoto bersama denganku.
            “Aku masih ingin disini,” aku belum puas melihat-lihat pemandangan.
           “Besok pagi kita akan mendaki Gunung Penanjakan, kamu tidak boleh terlalu lelah,” Rastra bergegas mengajakku kembali.
       Malam harinya aku tidur dengan nyenyak di penginapan. Pukul 01.30 WIB Rastra membangunkanku, kami bersiap untuk mendaki gunung. Kami tidak sendiri, kali ini banyak sekali turis dan wisatawan yang berangkat mendaki.
          “Wah ternyata Gunung Bromo populer juga ya,” aku takjub melihat banyaknya turis yang antusias datang ke Bromo.
          “Semua orang tahu itu, hanya kamu yang tidak tahu,” Rastra menepuk kepalaku dan mengacak-acak rambutku.
            Perjalanan menuju puncak memang sangat melelahkan, namun semua itu terbayarkan ketika kami sampai. Aku terpaku menatap kearah timur. Aku tak pernah menyangka, matahari yang selama ini kuanggap sebagai benda yang panas dan merusak kulit bisa hadir secantik ini dipagi hari. Kehangatan sinarnya menenangkan hatiku. Aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena menyesali keangkuhanku, kemana aku selama ini? aku seperti katak yang baru keluar dari tempurung.
            “Bagaimana menurutmu Lia? Apa sekarang kamu sudah menyadarinya, Negeri kita ini Negeri yang indah. Bromo hanya salah satu keindahan yang ada di Indonesia, dibalik gunung ini dan diseberang lautan sana masih banyak keindahan yang menanti kita,” Rastra tersenyum dan menepuk pundakku.
            Kali ini aku sangat setuju dengan Rastra. Aku sangat berterimakasih pada Rastra karena telah membantuku melihat keindahan yang tak ternilai harganya.
          “Terimakasih Rastra karena telah membuatku menyadari bahwa selama ini aku hidup di Negeri yang indah,” aku tersenyum bahagia.
         Aku makin ingin mengenal Indonesia. Selama ini aku merasa sudah sangat mengenal Negeriku, ternyata aku salah. Aku bak burung didalam penangkaran, merasa tahu segalanya, padahal aku hanya tahu apa yang ada dihadapanku tanpa mau melihat apa yang ada diluar sana.
           Aku bangga pada Negeriku, Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...