Minggu, 31 Desember 2017

Masih ingatkah kalian?

Banyak hal yang sudah kulalui, ada rasa suka ada pula duka. Semua datang dengan sendirinya, tak terduga, kadang memberikan kejutan yang sulit dilupakan, kadang meninggalkan kenangan yang sulit tuk dihapuskan.

Satu tahun telah berlalu, banyak hal yang sudah kulakukan dan kurasakan. Semuanya kini menjadi kenangan, kenangan yang mungkin sulit tuk ku lupakan, sulit tuk kuungkapkan dengan kata-kata, tapi ingin tetap kuabadikan dengan tulisan.

Mungkin kalian pernah merasakan rasa sunyi yang teramat dalam, rasa sendiri yang kadang membunuh harapan-harapan kalian untuk terus maju. Ya, aku pernah merasakannya, rasa itu yang mungkin kan tetap ada menghiasi setiap tahun yang berlalu. Semua terasa aneh, karena kadang apa yang terjadi tidak sesuai harapanku. Semua terasa menyakitkan, kerena terkadang apa yang kuinginkan tidak terwujud. Tapi semua terasa indah, karena saling melengkapi. Dibalik rasa sakit yang kurasakan, ada bahagia yang datang, dibalik rasa kecewa, ada asa yang tetap ingin kukejar.

Hal yang hingga kini belum ku mengerti, "teman". Ya teman, hingga kini aku masih belum mengerti arti teman yang sebenarnya. Teman, mereka berkata teman itu adalah seseorang yang selalu ada membantu kita, bersama kita disaat susah maupun senang. Tapi aku belum merasakan itu semua. Atau karena aku yang masih belum bisa mengerti makna teman yang sebenarnya. Aku pernah memiliki seorang teman, yang kuanggap dialah teman sebenarnya. Tapi semua hancur saat aku tau dia selalu menganggapku memanfaatkannya. Padahal sedikitpun tidak terbersit niat untuk melakukan itu semua. Yang aku tau, teman itu hanya sekedar orang yang ada untuk saling melengkapi kekurangan. Teman ada hanya jika saling membutuhkan. Aku pernah mempunyai teman yang selalu bersamaku, kami pergi bersama, bermain bersama, bahkan aku merasakan ada persamaan diantara kami. Tapi hal itu terjadi hanya karena kami dulu satu kelas, satu asrama. Sekarang mereka menghilang, kadang aku menangis jika bertemu mereka, mengungkapkan segala kesedihanku. Aku merasa ditinggalkan. Hal yang paling kutakuti adalah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ketika aku menangis dihadapan kalian dan berkata jangan tinggalkan aku, berarti kalian sangat berharga bagiku. Harapanku, aku bisa mengerti arti teman yang sesungguhnya, dan bisa bertemu seseorang yang disebut "teman". Bukan teman sekelas, teman bermain, teman saat susah, teman saat senang, teman sekelompok, teman curhat, atau teman satu omda, tapi TEMAN YANG SESUNGGUHNYA atau yang biasa disebut SAHABAT.

Saat bahagia yang kurasakan, adalah saat aku merangkai mimpi-mimpiku dimasa depan bersama mereka yang kusebut teman. Betapa inginnya aku mewujudkan mimpi itu, hingga jika ditanya siapapun, apa mimpimu? aku selalu menjawab aku akan membuat usaha bersama temanku, kami akan membuat restaurant, aku yang akan memasak. Betapa bahagia aku saat menceritakan itu semua. Masih ingat mimpi-mimpi kita teman?
Masihkah kalian ingat bagaimana kita merencanakan akan pergi bersama? kita akan ke Natuna, kita akan mendaki Gunung Pangrango bersama.
Masihkah kalian ingat kita akan melanjutkan lomba kita, masihkah ingat ketika kita berjuang bersama untuk memenangkan perlombaan itu?
Masihkah ingat saat kita bertekad mengembangkannya menjadi sebuah usaha?
Masihkah ingat saat kita tertawa bersama di hutan pinus?
Masihkah ingat saat kita bermain bersama di air terjun?
Masihkah ingat saat kita makan bersama di stasiun? bahkan ada seseorang yang memberi kita makanan, haha bersama kalian itu bukan suatu hal yang memalukan, bahkan aku bahagia saat mengingatnya.
Masihkah ingat kekonyolan yang sering kita lakukan?
Masihkah ingat kita menabung untuk mewujudkan mimpi kita?
Masihkah ingat kita menangis saat kita akan berpisah karena harus pulang kerumah masing-masing?
Dimana kalian sekarang?
Aku rindu saat-saat itu, aku rindu bisa bersama kalian.
Aku rindu tatapan hangat kalian, senyum manis kalian, kata-kata semangat dari kalian yang membuatku bangkit dari rasa putus asa.
Dimana kalian sekarang?
Aku merasa kehilangan, ya sangat kehilangan. Kalian tahu aku tidak pernah menangis saat kehilangan barang atau uang, tapi aku selalu menangis saat teringat kalian tak bersamaku lagi. Karena kalian sangat berharga, lebih berharga dari itu semua.
Dimana kalian?
Aku berharap esok hari aku bisa melihat kalian bersama-sama, aku bisa melihat kalian tersenyum padaku lagi, bermain bersama kalian, menghabiskan waktu bersama kalian.
Mungkin aku terlalu egois mengharapkan itu semua tanpa tau penyebab kalian pergi dariku, mungkin aku memang anak yang mudah putus asa, mudah terlalu merasa paling menderita. 
Dan begitu mudah meyimpan sesorang dihati yang terdalam, sehingga saat kehilangan aku merasa kehampaan yang sangat menyiksa.

Aku tidak tau harus berkata apa, tidak tau harus bagaimana.
Yang bisa kulakukan sekarang adalah memperbaiki diri, berdo'a, dan berharap kalian kembali seperti dulu. Aku memang egois, ya aku egois karena masih tidak mau melepaskan kalian.
Aku memang penakut, aku selalu takut kehilangan, kehilangan seseorang seperti kalian.

AKU RINDU KALIAN "TEMAN'

Sabtu, 30 Desember 2017

Menjauh

Terkadang mencoba menjauh bukan berarti ingin melupakan
Bukan berarti tidak ingin bersama lagi
Hanya karena tidak ingin menyakiti
Hanya ingin mencoba tuk mengerti

Kadangkala semua tidak seperti yang terbayangkan
Ada rasa yang tak terbalaskan
Ada rindu yang tak tersampaikan
Ada cinta yang tak mungkin dimiliki

Apakah rasa ini salah?
Tidak, tidak ada yang bersalah
Hanya saja waktu belum berpihak
Angan masih ingin terus terbayang
Mimpi masih ingin menghiasi
Harapan masih ingin diperjuangkan

Apakah harus menjauh?
Menjauhlah untuk mengerti
Menjauhlah untuk mengikhlaskan
Tapi jangan menjauh untuk melupakan

Menjauh untuk melupakan
Berarti lari dari kenyataan
Kenyataan yang dipungkiri
Adalah harapan yang dipatahkan


 

Selasa, 19 Desember 2017

Sang Ksatria



Pada zaman dahulu kala, ada sebuah negeri yang kekayaan alamnya sangat melimpah, negeri tersebut bernama Negeri Pasundan. Namun kekayaan negeri tersebut tidak bisa menjadikan rakyatnya makmur, rakyat disana banyak yang hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, hal ini terjadi karena negeri tersebut dipimpin oleh raja yang sangat angkuh dan semena-mena, yaitu Prabu Angkara.
Prabu Angkara            : “ Hai rakyatku yang aku cintai, hari ini adalah hari pengumpulan upeti kalian kepadaku. Ingat aku tidak mau upeti yang sedikit, jika kalian memberikan upeti yang tidak layak maka kalian akan ku cambuk, hahahaha, pengawal cepat ambil upeti mereka!” (berkata dengan angkuh di hadapan rakyat yang ketakutan)
Pengawal                     :” Maaf prabu, orang ini hanya mempunyai seikat talas,” (menunjukkan seikat talas yang diambilnya dari seorang nenek-nenek)
Prabu Angkara            : “ Apa? Hanya seikat talas yang ingin dia berikan padaku, kurang ajar! Kamu berani menghinaku ya!” (dengan marah prabu angkara mendekati nenek tersebut dan memukulnya dengan cambuk)
Nenek                      : “ Ampun prabu, maafkan saya, saya benar-benar tidak mempunyai apa-apa lagi, hanya talas yang saya punya,” (menangis dan memegangi kaki prabu angkara)
Prabu angkara tidak suka di sentuh oleh orang miskin, ia pun semakin marah dan menendang nenek itu hingga pingsan. Orang-orang kerajaan membiarkannya tergletak begitu saja. Namun tak lama kemudian ada seorang pemuda yang berani menolong nenek tersebut dan membawanya pulang kerumah. Di perjalanan pemuda tersebut bertemu dengan seorang pemuda yang tak dikenal yang bernama Sandya Anggakara.
Sandya Anggakara      : “Sampurasun, punten kang saya mau ke kerajaan, kalau boleh tau jalan menuju   kerajaan kemana ya?” (bertanya pada pemuda tersebut dengan penuh sopan santun)
            Pemuda tersebut menatap Sandya dengan tatapan curiga. Ia tidak menjawab pertanyaan dan malah semakin mempercepat langkahnya menuju kerumahnya. Sandya yang melihat pemuda itu ketakutan menjadi curiga, akhirnya diam-diam ia mengikuti pemuda tersebut.
Sandya Anggakara      :”Aneh, kenapa dia terlihat sangat ketakutan, dan ada apa dengan nenek itu, apakah seseorang telah melukainya?” (Sandya bergumam sendiri sambil terus mengikuti warga tersebut)
            Akhirnya pemuda tersebut sampai di rumahnya dan membaringkan nenek tadi di ranjang. Sandya masih menunggu di dekat rumah pemuda itu karena penasaran. Tak lama kemudian pemuda tersebut keluar membawa golok hendak mencari kayu. Sandya yang melihat pemuda itu keluar langsung berlari menghampirinya.
Sandya Anggakara      : “kang punten saya mau nanya..”
            Pemuda tersebut terkejut melihat Sandya, dengan cepat ia mengcungkan goloknya kearah Sandya. Sandya terkejut dan mundur beberapa langkah.
Pemuda                       : “ Siapa kamu? Kenapa kamu mengikutiku, pergi dari tempatku sekarang juga, tidak ada yang bisa kau ambil dari ku dan nenekku, kami tidak punya apa-apa,” (berbicara dengan nada ketakutan)
Sandya Anggakara       :” punten kang, tenang, saya hanya..”
Pemuda                       :”pergi dari rumahku sekarang juga, atau kau akan kubunuh,”
 Melihat pemuda tersebut bereaksi seperti itu Sandya langsung mundur meninggalkan pemuda tersebut, ia tidak mau mencari keributan disini. Namun Sandya tetap diam-diam mengikuti pemuda tersebut. Pemuda tersebut sampai di tengah hutan, ia mulai mengumpulkan kayu-kayu kering untuk masak dirumah, tiba-tiba ada seekor harimau muncul dan menyerang pemuda tersebut.
Pemuda                       :”huwaaa!!!!” (berteriak dan mencoba melawan)
            Pemuda tersebut tidak sanggup melawan harimau tersebut karena memang ia tadi tidak dalam keadaan siap. Hiyaaatt! Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang langsung menerjang harimau tersebut, terjadi pergelutan sengit antara pemuda tersebut dengan harimau, pemuda yang di serang tadi terduduk diam melihat seseorang yang dengan berani melawan harimau. Tak lama kemudian harimau tersebut bisa dikalahkan. Pemuda yang berhasil mengalahkan harimau tersebut tidak lain adalah Sandya.
Sandya Anggakara       :”kamu tidak apa-apa?” (menghampiri pemuda yang masih ketakutan)
Pemuda                       :”saya tidak apa-apa, siapa sebenarnya kisanak? Kenapa sejak tadi mengikuti saya?”
Sandya Anggakara      :”nama saya Sandya Anggakara, saya hanyalah seorang pengelana, saya mendengar bahwa Negeri Pasundan adalah negeri yang kaya, tapi setelah saya sampai disini saya tidak melihat kekayaan tersebut, semua rakyat terlihat menderita, saya hanya ingin memastikan bagaimana keadaan kerajaannya, apakah rajanya sedang sakit, untuk itu saya ingin bertanya kepada akang, tapi sepertinya akang tidak mau berbicara pada saya,”
Pemuda                      :”maafkan saya kang, saya tidak tahu kalau itu tujuan kang Sandya menemui saya tadi, jujur saya memang ketakutan, negeri ini memang kaya, tapi kekayaan itu malah membuat kami sengsara, karena Prabu Angkara selalu meminta upeti lebih, pajak tinggi, kami tidak sanggup membayarnya kang”
Setelah mendengar penjelasan dari pemuda tadi hati Sandya tergerak untuk membantu warga, ia tidak tega melihat warga disini menderita. Semua orang tidak berani melawan prabu Angkara karena ia terkenal sakti dan sadis. Namun hal itu tidak menggetarkan hati Sandya. Keesokan harinya Sandya hendak pergi ke kerajaan menemui Prabu angkara.
Nenek                        :”nak Sandya bawalah bekal talas ini, siapa tahu nanti kamu lapar di jalan, nenek tidak punya apa-apa nenek hanya punya talas ini,” (memberikan talas yang telah di bungkus daun kepada Sandya)
Pemuda                  :”hati-hati kang, jika terjadi sesuatu kembalilah ke gubuk kami, kami akan dengan senang hati menerima akang disini,”
Sandya Anggakara     :”terimakasih akang dan nenek mau menerima saya disini, saya akan berusaha untuk membebaskan negeri ini, do’akan saya nek,”(berpamitan dan mencium tangan nenek)
                    Sandya pergi diiringi dengan tatapan dan do’a dari nenek dan pemuda yang baik hati itu. Sesampainya di kerajaan Sandya langsung ingin menemui sang prabu, namun ia di hadang oleh pengawal raja.
Pengawal                  :”siapa kamu berani-beraninya ingin menemui prabu, hanya orang-orang yang terhormat yang boleh menemui prabu!”
Sandya Anggakara       :”saya hanya ingin memberikan hadiah kepada prabu” (mengeluarkan sebuah kantung dan memberikannya kepada pengawal)
Sandya Anggakara      :”tolong berikan kepada prabu, katakan saya akan memberinya hadiah lebih dari ini jika beliau mau menemui saya,”
            Pengawal tersebut pergi menemui prabu dan memberikan hadiah yang di berikan Sandya.
Pengawal                    :”ampun yang mulia, ada seorang pemuda yang ingin memberikan hadiah kepada yang mulia,” (memberikan hadiah kepada prabu)
Prabu angkara            :”emas! Siapa pemuda itu, darimana ia mendapatkan emas sebesar ini, hahaha dia pasti orang kaya, bawa aku kepadanya,”
Pengawal                     :”baik yang mulia,”
                        Sesampainya di hadapan Sandya.
Prabu angkara             :”hei siapa kamu sebenarnya? Darimana kamu mendapatkan bongkahan emas ini?”
Sandya Anggakara      :”nama saya Sandya Anggakara, saya memiliki beribu-ribu emas seperti itu, karena daerah saya hampir separuhnya adalah ladang emas,”
Prabu angkara             :”tidak mungkin ada negeri yang memiliki kekayaan melebihi negeri yang ku pimpin, aku tidak terima!” (menatap tajam ke arah Sandya)
Sandya Anggakara      : (tersenyum) “saya tahu yang mulia adalah raja yang sangat kaya, untuk itu saya kesini, saya sudah bosan menjadi pemilik semua emas itu, saya ingin menyerahkan semuanya kepada yang mulia, tapi dengan satu syarat,”
Prabu angkara             :”Apa syaratnya?”
Sandya Anggakara      :”yang mulia harus bisa mengalahkan saya, bukan hanya emas tapi juga kepala saya akan saya berikan kepada yang mulia jika yang mulia mampu mengalahkan saya, tapi jika saya yang menang, yang mulia harus turun tahta,”
Prabu Angkara         :”hahaha saya tidak takut! Saya akan terima tantanganmu, kamu tidak mungkin mengalahkan saya, karena sayalah yang terkuat di negeri ini,”
            Persyaratan itu pun sudah resmi disetujui, akhirnya keesokan harinya adu tanding itu pun digelar. Rakyat berbondong-bondong menyaksikan dua jagoan yang akan bertarung itu, mereka berharap Sandya bisa mengalahkan Prabu Angkara. Pertandingan berlangsung sengit, kekuatan mereka sangat berimbang. Prabu Angkara murka melihat Sandya mampu menyamai kekuatannya. Tiba-tiba dari belakang Sandya muncul pengawal prabu hendak menusuk Sandya menggunakan pedang. Melihat prabu Angkara bermain licik, pemuda yang pernah di tolong Sandya dari serangan harimau itu pun tidak mau tinggal diam, ia melompat ke dalam arena dan menangkis  serangan pengawal dengan goloknya. Pertarungan pun semakin sengit, kini petarungnya menjadi berpasangan.
Prabu Angkara mulai kelelahan, serangan yang ia berikan pun mulai mengendur, akhirnya dengan satu jurus terakhir prabu Angkara berhasil di kalahkan oleh Sandya. Pengawal raja pun berhasil dibunuh oleh pemuda pemberani itu menggunakan goloknya.
Atas kemenangannya itu semua rakyat sepakat untuk mengangkat Sandya menjadi raja di Negeri Pasundan. Sandya yang melihat keberanian pemuda itupun akhirnya pengangkatnya menjadi panglima perang dengan gelar Panglima Atyasa.
Rakyat sangat menghormati raja mereka yang baru, mereka memberi upeti dengan keikhlasan hati mereka. Prabu Sandya pun berlaku adil pada rakyatnya, akhirnya Negeri Pasundan pun benar-benar menjadi negeri yang kaya serta damai.


All Of You



Tring! Tring! Tralala la la!

Bunyi alarm membangunkanku dipagi hari, Aku terbangun dengan senyum di wajahku, bergegas mengambil ranselku dan memasukkan beberapa pakaian serta perlengkapan lain, kemudian Aku bergegas mandi dan berganti baju.

Aku berjalan sambil sedikit berlari melompat menuju ke asrama sahabatku, Ira. Hari ini kami berencana berlibur ke Suaka Elang, Bogor. Kami ingin menikmati indahnya pemandangan di sana, mendaki bukit, berfoto di hutan pinus, dan bermain di bawah derasnya air terjun atau yang biasa di sebut ‘Curug’. Kami ingin melepas penat setelah menjalani UTS.
“ Iraaa, ayoo kita berangkat, kita jemput Fanny dan Marshel juga,”
“ Ayo lah brooh” Ira menjawab dengan gayanya yang unik.

Aku, Ira, Fanny, dan Marshel berangkat bersama, sementara teman kami yang laki-laki menunggu di pintu gerbang berlin kampus IPB. Sesampainya di sana Aku melihat Siddiq, Doni, dan Guruh sudah menunggu kami.
“Haii!” Aku melambaikan tangan kearah mereka      

“Hei ayok kita berangkat, nanti kesiangan loh,” Siddiq mengingatkan kami.

“Ayok broh, let’s go!” Fanny berteriak dan langsung naik ke dalam angkot yang sudah disewa oleh Siddiq.
           
Wajah kami terlihat bahagia, sudah tidak sabar rasanya ingin sampai di sana, Selama diperjalanan tidak henti-hentinya kami bercanda. Aku yang diamanatkan sebagai penunjuk jalan, tapi Aku lupa jalan yang pernah Aku lalui, jadi kami harus berhenti dan bertanya kepada warga sekitar. Aku merasa ini perjalanan yang wahh sempurna, Aku merasa benar-benar sedang berpetualang.
           
Setelah melalui perjalanan menggunakan angkot yang cukup lama, kami sampai di Desa Loji. Perjalanan kami belum selesai, dari desa ini kami harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan. Sebagai penunjuk jalan, Aku berjalan paling depan. Kami melihat pemandangan puncak yang sangat indah dan udara yang dingin. Di sepanjang jalan di penuhi dengan batu-batuan dan aliran air, suara derasnya air sungai juga terdengar jelas.
“Ira, tuh di bawah ada sungai, katanya di Kepulauan Riau tidak ada sungai, hahaha,”  Siddiq berkata mengejek Ira. Kami semua tertawa, Ira juga ikut tertawa. Ira memang pernah bercerita kepada kami kalau dia belum pernah melihat sungai.

“Wahh mbahku harus ku ajak kesini nih, beliau harus tahu kalau disini tempatnya sangat bagus, ada sungainya lagi, airnya jernih bangeeett,” Ira terus melihat kearah sungai, dan terus berkata “Mbahku harus kuajak kesini”. Hahaha kami tidak bisa berhenti tertawa mendengar perkataan Ira.

“Ra emang mbahmu kuat naik bukit ini?” Tanya Guruh sambil terus tertawa.
           
“Weee jangan salah broh, mbahku udah pernah naik ke Gunung Bintan, Aku aja belum loh,” Ira berkata membanggakan mbahnya.
           
“Wiihhh kereeen,” kami berkata bersamaan.
           
“Iya, makanya sekarang cucunya mau belajar seperti mbahnya, naik-naik ke gunung,” Ira terus bercerita dengan suara lucunya.
           
Perjalanan jauh tak terasa melelahkan, kami semua terhibur dengan celoteh Ira dan yang lainnya. Hingga kemudian kami sampai di tepi sungai.
“Wahh kok jembatannya hilang,” Aku memeriksa sekeliling kami, benar jembatan yang biasa untuk menyebrang tidak ada lagi.
           
“Guys, sepertinya jembatan untuk menyebrangnya hanyut, karena jembatannya hanya terbuat dari bambu, air sungainya juga deras jadi pasti hanyut,” Aku memberitahu mereka.
           
“Yahh terus gimana nih, masa iya kita harus balik lagi?” Tanya Marshel.
           
“jangaaan!” jawab kami serentak.
           
“Kita udah sampai sini, kita tidak boleh menyerah, jembatan boleh hanyut, tapi semangat kita tidak boleh hanyut,” Siddiq menyemangati kami dengan berusaha mencari cara agar bisa sampai ke sebrang sungai.
           
Doni sang jenius mendapatkan ide.
“Jembatan bisa hanyut, tapi batu disungai kan tidak akan hanyut, kalian generasi kuat, tidak mungkin tidak bisa melewati derasnya sungai ini. Ayo kita loncat diatas batu-batu ini untuk sampai ke sebrang sana!” Doni berkata dengan gaya Pak Soekarno.
           
“Ayo berjuanglah pemuda!” kamipun ikut bersemangat.
           
Banyak pengunjung lain yang tertawa melihat ulah kami, tapi kami tidak malu, malah kami bersyukur ada yang tertawa karena kami. Setelah berhasil melewati sungai, kami masih harus melewati bukit dan hutan pinus untuk sampai di air terjun. Sepanjang jalan kami terus bercerita tentang mbahnya Ira, bernyanyi, atau sekedar menggosip gebetannya marshel.
           
Kamipun akhirnya sampai di hutan pinus, kesempatan tidak boleh disia-siakan. Kami berfoto bersama, foto-foto ini menjadi kenangan yang akan kami simpan nanti. Perjalanan menuju air terjun masih berlanjut, setelah melewati hutan pinus, kini kami harus melewati jalan berbatu. Tebing adalah salah satu masalah untukku, karena badanku yang tidak kurus alias tidak gendut juga, atau lebih tepatnya berisi, Aku berjalan agak lambat, tidak jarang sesekali Ira mendorongku agar tetap berjalan, atau Marshel dan Fanny yang menarikku dari atas. Kami juga kadang berhenti dipinggir jalan untuk istirahat minum, atau hanya sekedar untuk berfoto.
“Iraachan, itu tumbuhan apa ya? Kalau dipotong keluar coklat-coklat seperti madu,” Aku melihat sebuah pohon yang membuatku penasaran. Ira berjalan mendekati pohon itu, Aku tak menduga dengan apa yang dilakukan Ira, ia mencolek getah pohon itu lalu memakannya.
           
“Tidak ada rasanya, hambar,” Ira berkata dengan polosnya.
           
“Iraaaa kenapa dimakan, muntahin, nanti kalau beracun gimana,” Aku panik sendiri melihat tingkah Ira. Tapi sedikitpun Ira tidak menghiarukanku, ia mencolek getah pohon itu lagi dan mencoba mencari tahu rasa dari getah tersebut. Siddiq yang melihat tingkah Ira langsung menghampirinya.
           
“Ih Ira jorok, itu tadi bekas dikencingin orang loh,” Siddiq berkata sambil menunjuk pohon tadi. Spontan Ira langsung memuntahkan getah itu dan langsung mencari air.
           
“Ih Siddiq apa-apaan sih,” Ira memukul Siddiq. Kami tertawa tak henti-hentinya melihat kekonyolan Ira. Sahabatku satu ini memang terlalu polos.
           
“Kamu sih sembarangan makan sesuatu, kalau beracun gimana,” Guruh ikut menasehati Ira.
           
“Kan Feni penasaran, jadi Aku makan deh getahnya,” jawab Ira membela diri.
           
“Ya ngga harus dimakan juga kaliii,” jawab kami bersamaan, kemudian kami tertawa dan melanjutkan perjalanan.
           
Kami melewati jembatan kayu dipinggir tebing, tidak jauh dari ujung jembatan kami sudah bisa melihat indahnya air terjun yang menjuntai dari atas bukit hingga kebawah.
“Wahh indahnyaa!” kami terkagum-kagum melihat keindahan ciptaan tuhan satu ini.
           
Kami mempercepat jalan kami agar segera sampai dibawah air terjun. Ketika sampai, jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, saatnya melaksanakan shalat dzuhur. Kamipun shalat di atas batu dekat air terjun. Shalat kami terasa sangat khusyu’, kami seperti menyatu dengan alam. Setelah selesai melaksanakan kewajiban, kami langsung menceburkan diri ke air.
“Wahhh dingin!” kami berteriak setelah merasakan dinginnya air disana.
           
“Aku punya ide nih,” Fanny tiba-tiba keluar dari air, ia mengambil air mineral yang ada di dalam tasnya Siddiq kemudian menceburkan sebagian botol air tersebut kedalam air.
           
“Esensinya apa itu botolnya diceburin ke air?” Tanya Marshel.
           
“Itu namanya pendinginan alami, kita lihat saja nanti gimana hasilnya,” Fanny menjawab pertanyaan marshel dengan yakin.
           
Kami terus bermain di bawah air terjun, merasakan sakitnya tertimpa air terjun dari atas, bahkan Akupun tidak sanggup berlama-lama di bawah air terjun, percikan air itu seolah-olah menusuk kulit. Kami berhenti bermain setelah merasa lapar. Kamipun membuka bekal yang kami bawa dan memakannya dengan duduk diatas batu. Kami tidak membuang sampah sembarangan, karena keindahan wisata tidak boleh dicemari dengan tumpukan sampah. Fanny mengambil botol air mineral yang dicelupkannya ke air tadi, hasilnya botol itu berembun dan air didalamnya menjadi dingin, hal ini membuktikan betapa dinginnya air disana.
           
Setelah selesai makan dan istirahat kami langsung bergegas kembali menuju hutan pinus untuk berganti pakaian, dan melaksanakan shalat ashar di musholla yang ada disana. Selesai sholat ashar kami langsung turun bukit untuk pulang.
           
Di tepi sungai kami mulai mengambil strategi kembali untuk menyebranginya. Kali ini Siddiq duluan dan menunggu kami di sebrang, Guruh berdiri dibatu di tengah untuk membantu kamii menyebrang, sementara Doni mengawasi kami dari belakang. Aku siap-siap meloncat, dibatu pertama tidak sulit karena langsung disambut oleh tangan guruh. Pada batu selanjutnya, Aku meloncat dengan yakin, namun sayang Aku lupa untuk melepas tangan Guruh, akhirnya kakiku tidak sampai menginjak tengah batu dan terpleset. Siddiq yang melihatku terhuyung langsung mencoba menangkap tanganku, tapi tenyata tidak berhasil, alhasil Aku tercebur diderasnya sungai. Guruh langsung berlari, Siddiq langsung meloncat ke sungai dan langsung menarikku keatas. Semua orang yang melihat langsung menertawakan Aku yang tercebur. Kali ini Aku benar-benar malu, kali ini Aku tidak bersyukur ada yang tertawa karena Aku. Siddiq langsung mengambil ranselku dan membawanya.
“Kamu tidak apa-apa kan? Ada yang sakit?” Tanya Siddiq khawatir. Teman-teman yang lain pun langsung menghampiriku.
           
“Tidak apa-apa, tidak ada yang sakit kok, tapi malu bajuku basah semua,” jawabku dengan raut wajah sedih.
           
“Makanya, kalau mau menyambut tangan orang yang didepan, lepasin dulu tangan yang lain, kamu ngga akan bisa memegang tanga keduanya,” Siddiq menasehatiku.
           
“Tidak apa-apa, tadi kan kecelakaan, nanti kering kok bajunya,” Guruh mencoba menghiburku.
           
“Eeh tolongin sendalku hanyut!” tiba-tiba kami mendengar Fanny berteriak. Kami langsung menoleh, Doni yang berada di tepi sungai langsung mengejar sendal Fanny dan mengambilnya dengan kayu.
           
Kami tertawa melihat tingkah Fanny yang panik, Aku pun sudah tidak menghiraukan lagi kejadian tadi. Kamipun pulang ke asrama dengan bahagia. Aku yang tercebur ke sungai malah menjadi bahan cerita kami jika berkumpul. Apabila Aku mengusulkan untuk berlibur ke daerah yang melewati sungai mereka selalu meledekku “Nanti kalau kecebur sungai lagi gimana?”.
           
Hahaha! Kalian, Aku harap kalian selalu bersamaku, selalu ada saat kita bahagia, selalu saling menguatkan dan memberi semangat saat kita terpuruk, dan selalu mambantu untuk bangkit saat kita terjatuh. Ingat kisah kita ini untuk selamanya.

@Marshela Aida Handayani @Irawati Cahyuni @Nur Afni Rahmaeni @Muhammad Fatchurrahman Siddiq @Muhammad Ramdhoni @Guruh Sukarno Putra

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...