Selasa, 19 Desember 2017

Sang Ksatria



Pada zaman dahulu kala, ada sebuah negeri yang kekayaan alamnya sangat melimpah, negeri tersebut bernama Negeri Pasundan. Namun kekayaan negeri tersebut tidak bisa menjadikan rakyatnya makmur, rakyat disana banyak yang hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, hal ini terjadi karena negeri tersebut dipimpin oleh raja yang sangat angkuh dan semena-mena, yaitu Prabu Angkara.
Prabu Angkara            : “ Hai rakyatku yang aku cintai, hari ini adalah hari pengumpulan upeti kalian kepadaku. Ingat aku tidak mau upeti yang sedikit, jika kalian memberikan upeti yang tidak layak maka kalian akan ku cambuk, hahahaha, pengawal cepat ambil upeti mereka!” (berkata dengan angkuh di hadapan rakyat yang ketakutan)
Pengawal                     :” Maaf prabu, orang ini hanya mempunyai seikat talas,” (menunjukkan seikat talas yang diambilnya dari seorang nenek-nenek)
Prabu Angkara            : “ Apa? Hanya seikat talas yang ingin dia berikan padaku, kurang ajar! Kamu berani menghinaku ya!” (dengan marah prabu angkara mendekati nenek tersebut dan memukulnya dengan cambuk)
Nenek                      : “ Ampun prabu, maafkan saya, saya benar-benar tidak mempunyai apa-apa lagi, hanya talas yang saya punya,” (menangis dan memegangi kaki prabu angkara)
Prabu angkara tidak suka di sentuh oleh orang miskin, ia pun semakin marah dan menendang nenek itu hingga pingsan. Orang-orang kerajaan membiarkannya tergletak begitu saja. Namun tak lama kemudian ada seorang pemuda yang berani menolong nenek tersebut dan membawanya pulang kerumah. Di perjalanan pemuda tersebut bertemu dengan seorang pemuda yang tak dikenal yang bernama Sandya Anggakara.
Sandya Anggakara      : “Sampurasun, punten kang saya mau ke kerajaan, kalau boleh tau jalan menuju   kerajaan kemana ya?” (bertanya pada pemuda tersebut dengan penuh sopan santun)
            Pemuda tersebut menatap Sandya dengan tatapan curiga. Ia tidak menjawab pertanyaan dan malah semakin mempercepat langkahnya menuju kerumahnya. Sandya yang melihat pemuda itu ketakutan menjadi curiga, akhirnya diam-diam ia mengikuti pemuda tersebut.
Sandya Anggakara      :”Aneh, kenapa dia terlihat sangat ketakutan, dan ada apa dengan nenek itu, apakah seseorang telah melukainya?” (Sandya bergumam sendiri sambil terus mengikuti warga tersebut)
            Akhirnya pemuda tersebut sampai di rumahnya dan membaringkan nenek tadi di ranjang. Sandya masih menunggu di dekat rumah pemuda itu karena penasaran. Tak lama kemudian pemuda tersebut keluar membawa golok hendak mencari kayu. Sandya yang melihat pemuda itu keluar langsung berlari menghampirinya.
Sandya Anggakara      : “kang punten saya mau nanya..”
            Pemuda tersebut terkejut melihat Sandya, dengan cepat ia mengcungkan goloknya kearah Sandya. Sandya terkejut dan mundur beberapa langkah.
Pemuda                       : “ Siapa kamu? Kenapa kamu mengikutiku, pergi dari tempatku sekarang juga, tidak ada yang bisa kau ambil dari ku dan nenekku, kami tidak punya apa-apa,” (berbicara dengan nada ketakutan)
Sandya Anggakara       :” punten kang, tenang, saya hanya..”
Pemuda                       :”pergi dari rumahku sekarang juga, atau kau akan kubunuh,”
 Melihat pemuda tersebut bereaksi seperti itu Sandya langsung mundur meninggalkan pemuda tersebut, ia tidak mau mencari keributan disini. Namun Sandya tetap diam-diam mengikuti pemuda tersebut. Pemuda tersebut sampai di tengah hutan, ia mulai mengumpulkan kayu-kayu kering untuk masak dirumah, tiba-tiba ada seekor harimau muncul dan menyerang pemuda tersebut.
Pemuda                       :”huwaaa!!!!” (berteriak dan mencoba melawan)
            Pemuda tersebut tidak sanggup melawan harimau tersebut karena memang ia tadi tidak dalam keadaan siap. Hiyaaatt! Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang langsung menerjang harimau tersebut, terjadi pergelutan sengit antara pemuda tersebut dengan harimau, pemuda yang di serang tadi terduduk diam melihat seseorang yang dengan berani melawan harimau. Tak lama kemudian harimau tersebut bisa dikalahkan. Pemuda yang berhasil mengalahkan harimau tersebut tidak lain adalah Sandya.
Sandya Anggakara       :”kamu tidak apa-apa?” (menghampiri pemuda yang masih ketakutan)
Pemuda                       :”saya tidak apa-apa, siapa sebenarnya kisanak? Kenapa sejak tadi mengikuti saya?”
Sandya Anggakara      :”nama saya Sandya Anggakara, saya hanyalah seorang pengelana, saya mendengar bahwa Negeri Pasundan adalah negeri yang kaya, tapi setelah saya sampai disini saya tidak melihat kekayaan tersebut, semua rakyat terlihat menderita, saya hanya ingin memastikan bagaimana keadaan kerajaannya, apakah rajanya sedang sakit, untuk itu saya ingin bertanya kepada akang, tapi sepertinya akang tidak mau berbicara pada saya,”
Pemuda                      :”maafkan saya kang, saya tidak tahu kalau itu tujuan kang Sandya menemui saya tadi, jujur saya memang ketakutan, negeri ini memang kaya, tapi kekayaan itu malah membuat kami sengsara, karena Prabu Angkara selalu meminta upeti lebih, pajak tinggi, kami tidak sanggup membayarnya kang”
Setelah mendengar penjelasan dari pemuda tadi hati Sandya tergerak untuk membantu warga, ia tidak tega melihat warga disini menderita. Semua orang tidak berani melawan prabu Angkara karena ia terkenal sakti dan sadis. Namun hal itu tidak menggetarkan hati Sandya. Keesokan harinya Sandya hendak pergi ke kerajaan menemui Prabu angkara.
Nenek                        :”nak Sandya bawalah bekal talas ini, siapa tahu nanti kamu lapar di jalan, nenek tidak punya apa-apa nenek hanya punya talas ini,” (memberikan talas yang telah di bungkus daun kepada Sandya)
Pemuda                  :”hati-hati kang, jika terjadi sesuatu kembalilah ke gubuk kami, kami akan dengan senang hati menerima akang disini,”
Sandya Anggakara     :”terimakasih akang dan nenek mau menerima saya disini, saya akan berusaha untuk membebaskan negeri ini, do’akan saya nek,”(berpamitan dan mencium tangan nenek)
                    Sandya pergi diiringi dengan tatapan dan do’a dari nenek dan pemuda yang baik hati itu. Sesampainya di kerajaan Sandya langsung ingin menemui sang prabu, namun ia di hadang oleh pengawal raja.
Pengawal                  :”siapa kamu berani-beraninya ingin menemui prabu, hanya orang-orang yang terhormat yang boleh menemui prabu!”
Sandya Anggakara       :”saya hanya ingin memberikan hadiah kepada prabu” (mengeluarkan sebuah kantung dan memberikannya kepada pengawal)
Sandya Anggakara      :”tolong berikan kepada prabu, katakan saya akan memberinya hadiah lebih dari ini jika beliau mau menemui saya,”
            Pengawal tersebut pergi menemui prabu dan memberikan hadiah yang di berikan Sandya.
Pengawal                    :”ampun yang mulia, ada seorang pemuda yang ingin memberikan hadiah kepada yang mulia,” (memberikan hadiah kepada prabu)
Prabu angkara            :”emas! Siapa pemuda itu, darimana ia mendapatkan emas sebesar ini, hahaha dia pasti orang kaya, bawa aku kepadanya,”
Pengawal                     :”baik yang mulia,”
                        Sesampainya di hadapan Sandya.
Prabu angkara             :”hei siapa kamu sebenarnya? Darimana kamu mendapatkan bongkahan emas ini?”
Sandya Anggakara      :”nama saya Sandya Anggakara, saya memiliki beribu-ribu emas seperti itu, karena daerah saya hampir separuhnya adalah ladang emas,”
Prabu angkara             :”tidak mungkin ada negeri yang memiliki kekayaan melebihi negeri yang ku pimpin, aku tidak terima!” (menatap tajam ke arah Sandya)
Sandya Anggakara      : (tersenyum) “saya tahu yang mulia adalah raja yang sangat kaya, untuk itu saya kesini, saya sudah bosan menjadi pemilik semua emas itu, saya ingin menyerahkan semuanya kepada yang mulia, tapi dengan satu syarat,”
Prabu angkara             :”Apa syaratnya?”
Sandya Anggakara      :”yang mulia harus bisa mengalahkan saya, bukan hanya emas tapi juga kepala saya akan saya berikan kepada yang mulia jika yang mulia mampu mengalahkan saya, tapi jika saya yang menang, yang mulia harus turun tahta,”
Prabu Angkara         :”hahaha saya tidak takut! Saya akan terima tantanganmu, kamu tidak mungkin mengalahkan saya, karena sayalah yang terkuat di negeri ini,”
            Persyaratan itu pun sudah resmi disetujui, akhirnya keesokan harinya adu tanding itu pun digelar. Rakyat berbondong-bondong menyaksikan dua jagoan yang akan bertarung itu, mereka berharap Sandya bisa mengalahkan Prabu Angkara. Pertandingan berlangsung sengit, kekuatan mereka sangat berimbang. Prabu Angkara murka melihat Sandya mampu menyamai kekuatannya. Tiba-tiba dari belakang Sandya muncul pengawal prabu hendak menusuk Sandya menggunakan pedang. Melihat prabu Angkara bermain licik, pemuda yang pernah di tolong Sandya dari serangan harimau itu pun tidak mau tinggal diam, ia melompat ke dalam arena dan menangkis  serangan pengawal dengan goloknya. Pertarungan pun semakin sengit, kini petarungnya menjadi berpasangan.
Prabu Angkara mulai kelelahan, serangan yang ia berikan pun mulai mengendur, akhirnya dengan satu jurus terakhir prabu Angkara berhasil di kalahkan oleh Sandya. Pengawal raja pun berhasil dibunuh oleh pemuda pemberani itu menggunakan goloknya.
Atas kemenangannya itu semua rakyat sepakat untuk mengangkat Sandya menjadi raja di Negeri Pasundan. Sandya yang melihat keberanian pemuda itupun akhirnya pengangkatnya menjadi panglima perang dengan gelar Panglima Atyasa.
Rakyat sangat menghormati raja mereka yang baru, mereka memberi upeti dengan keikhlasan hati mereka. Prabu Sandya pun berlaku adil pada rakyatnya, akhirnya Negeri Pasundan pun benar-benar menjadi negeri yang kaya serta damai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...