Pada
zaman dahulu kala, ada sebuah negeri yang kekayaan alamnya sangat melimpah,
negeri tersebut bernama Negeri Pasundan. Namun kekayaan negeri tersebut tidak
bisa menjadikan rakyatnya makmur, rakyat disana banyak yang hidup dalam kemiskinan
dan kesengsaraan, hal ini terjadi karena negeri tersebut dipimpin oleh raja
yang sangat angkuh dan semena-mena, yaitu Prabu Angkara.
Prabu Angkara : “ Hai rakyatku yang aku cintai, hari ini adalah hari
pengumpulan upeti kalian kepadaku. Ingat aku tidak mau upeti yang sedikit, jika
kalian memberikan upeti yang tidak layak maka kalian akan ku cambuk, hahahaha,
pengawal cepat ambil upeti mereka!” (berkata dengan angkuh di hadapan rakyat
yang ketakutan)
Pengawal :”
Maaf prabu, orang ini hanya mempunyai seikat talas,” (menunjukkan seikat talas
yang diambilnya dari seorang nenek-nenek)
Prabu Angkara : “ Apa? Hanya seikat talas yang ingin dia berikan
padaku, kurang ajar! Kamu berani menghinaku ya!” (dengan marah prabu angkara
mendekati nenek tersebut dan memukulnya dengan cambuk)
Nenek :
“ Ampun prabu, maafkan saya, saya benar-benar tidak mempunyai apa-apa lagi,
hanya talas yang saya punya,” (menangis dan memegangi kaki prabu angkara)
Prabu
angkara tidak suka di sentuh oleh orang miskin, ia pun semakin marah dan
menendang nenek itu hingga pingsan. Orang-orang kerajaan membiarkannya
tergletak begitu saja. Namun tak lama kemudian ada seorang pemuda yang berani
menolong nenek tersebut dan membawanya pulang kerumah. Di perjalanan pemuda
tersebut bertemu dengan seorang pemuda yang tak dikenal yang bernama Sandya
Anggakara.
Sandya Anggakara : “Sampurasun, punten kang saya mau ke kerajaan, kalau boleh
tau jalan menuju kerajaan kemana ya?” (bertanya pada pemuda tersebut dengan
penuh sopan santun)
Pemuda
tersebut menatap Sandya dengan tatapan curiga. Ia tidak menjawab pertanyaan dan
malah semakin mempercepat langkahnya menuju kerumahnya. Sandya yang melihat
pemuda itu ketakutan menjadi curiga, akhirnya diam-diam ia mengikuti pemuda tersebut.
Sandya Anggakara :”Aneh, kenapa dia terlihat sangat ketakutan, dan ada apa
dengan nenek itu, apakah seseorang telah melukainya?” (Sandya bergumam sendiri
sambil terus mengikuti warga tersebut)
Akhirnya
pemuda tersebut sampai di rumahnya dan membaringkan nenek tadi di ranjang.
Sandya masih menunggu di dekat rumah pemuda itu karena penasaran. Tak lama
kemudian pemuda tersebut keluar membawa golok hendak mencari kayu. Sandya yang
melihat pemuda itu keluar langsung berlari menghampirinya.
Sandya
Anggakara : “kang punten saya mau
nanya..”
Pemuda
tersebut terkejut melihat Sandya, dengan cepat ia mengcungkan goloknya kearah
Sandya. Sandya terkejut dan mundur beberapa langkah.
Pemuda :
“ Siapa kamu? Kenapa kamu mengikutiku, pergi dari tempatku sekarang juga, tidak
ada yang bisa kau ambil dari ku dan nenekku, kami tidak punya apa-apa,”
(berbicara dengan nada ketakutan)
Sandya Anggakara :” punten kang, tenang, saya hanya..”
Pemuda :”pergi
dari rumahku sekarang juga, atau kau akan kubunuh,”
Melihat pemuda tersebut bereaksi seperti itu
Sandya langsung mundur meninggalkan pemuda tersebut, ia tidak mau mencari
keributan disini. Namun Sandya tetap diam-diam mengikuti pemuda tersebut.
Pemuda tersebut sampai di tengah hutan, ia mulai mengumpulkan kayu-kayu kering
untuk masak dirumah, tiba-tiba ada seekor harimau muncul dan menyerang pemuda
tersebut.
Pemuda :”huwaaa!!!!” (berteriak
dan mencoba melawan)
Pemuda
tersebut tidak sanggup melawan harimau tersebut karena memang ia tadi tidak
dalam keadaan siap. Hiyaaatt! Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang langsung
menerjang harimau tersebut, terjadi pergelutan sengit antara pemuda tersebut
dengan harimau, pemuda yang di serang tadi terduduk diam melihat seseorang yang
dengan berani melawan harimau. Tak lama kemudian harimau tersebut bisa
dikalahkan. Pemuda yang berhasil mengalahkan harimau tersebut tidak lain adalah
Sandya.
Sandya Anggakara :”kamu tidak apa-apa?” (menghampiri pemuda yang masih
ketakutan)
Pemuda :”saya
tidak apa-apa, siapa sebenarnya kisanak? Kenapa sejak tadi mengikuti saya?”
Sandya Anggakara :”nama saya Sandya Anggakara, saya hanyalah seorang pengelana,
saya mendengar bahwa Negeri Pasundan adalah negeri yang kaya, tapi setelah saya
sampai disini saya tidak melihat kekayaan tersebut, semua rakyat terlihat
menderita, saya hanya ingin memastikan bagaimana keadaan kerajaannya, apakah
rajanya sedang sakit, untuk itu saya ingin bertanya kepada akang, tapi sepertinya
akang tidak mau berbicara pada saya,”
Pemuda :”maafkan
saya kang, saya tidak tahu kalau itu tujuan kang Sandya menemui saya tadi,
jujur saya memang ketakutan, negeri ini memang kaya, tapi kekayaan itu malah
membuat kami sengsara, karena Prabu Angkara selalu meminta upeti lebih, pajak
tinggi, kami tidak sanggup membayarnya kang”
Setelah
mendengar penjelasan dari pemuda tadi hati Sandya tergerak untuk membantu
warga, ia tidak tega melihat warga disini menderita. Semua orang tidak berani
melawan prabu Angkara karena ia terkenal sakti dan sadis. Namun hal itu tidak
menggetarkan hati Sandya. Keesokan harinya Sandya hendak pergi ke kerajaan
menemui Prabu angkara.
Nenek :”nak
Sandya bawalah bekal talas ini, siapa tahu nanti kamu lapar di jalan, nenek
tidak punya apa-apa nenek hanya punya talas ini,” (memberikan talas yang telah
di bungkus daun kepada Sandya)
Pemuda :”hati-hati
kang, jika terjadi sesuatu kembalilah ke gubuk kami, kami akan dengan senang
hati menerima akang disini,”
Sandya Anggakara :”terimakasih akang dan nenek mau menerima saya disini, saya
akan berusaha untuk membebaskan negeri ini, do’akan saya nek,”(berpamitan dan
mencium tangan nenek)
Sandya pergi diiringi
dengan tatapan dan do’a dari nenek dan pemuda yang baik hati itu. Sesampainya
di kerajaan Sandya langsung ingin menemui sang prabu, namun ia di hadang oleh
pengawal raja.
Pengawal :”siapa
kamu berani-beraninya ingin menemui prabu, hanya orang-orang yang terhormat
yang boleh menemui prabu!”
Sandya Anggakara :”saya hanya ingin memberikan hadiah kepada prabu”
(mengeluarkan sebuah kantung dan memberikannya kepada pengawal)
Sandya Anggakara :”tolong berikan kepada prabu, katakan saya akan memberinya
hadiah lebih dari ini jika beliau mau menemui saya,”
Pengawal
tersebut pergi menemui prabu dan memberikan hadiah yang di berikan Sandya.
Pengawal :”ampun
yang mulia, ada seorang pemuda yang ingin memberikan hadiah kepada yang mulia,”
(memberikan hadiah kepada prabu)
Prabu angkara :”emas! Siapa pemuda itu, darimana ia mendapatkan emas
sebesar ini, hahaha dia pasti orang kaya, bawa aku kepadanya,”
Pengawal :”baik
yang mulia,”
Sesampainya di hadapan
Sandya.
Prabu angkara :”hei siapa kamu sebenarnya? Darimana kamu mendapatkan
bongkahan emas ini?”
Sandya Anggakara :”nama saya Sandya Anggakara, saya memiliki beribu-ribu emas
seperti itu, karena daerah saya hampir separuhnya adalah ladang emas,”
Prabu angkara :”tidak mungkin ada negeri yang memiliki kekayaan
melebihi negeri yang ku pimpin, aku tidak terima!” (menatap tajam ke arah
Sandya)
Sandya Anggakara : (tersenyum) “saya tahu yang mulia adalah raja yang sangat
kaya, untuk itu saya kesini, saya sudah bosan menjadi pemilik semua emas itu,
saya ingin menyerahkan semuanya kepada yang mulia, tapi dengan satu syarat,”
Prabu angkara :”Apa syaratnya?”
Sandya Anggakara :”yang mulia harus bisa mengalahkan saya, bukan hanya emas tapi
juga kepala saya akan saya berikan kepada yang mulia jika yang mulia mampu
mengalahkan saya, tapi jika saya yang menang, yang mulia harus turun tahta,”
Prabu Angkara :”hahaha saya tidak takut! Saya akan terima tantanganmu,
kamu tidak mungkin mengalahkan saya, karena sayalah yang terkuat di negeri
ini,”
Persyaratan
itu pun sudah resmi disetujui, akhirnya keesokan harinya adu tanding itu pun
digelar. Rakyat berbondong-bondong menyaksikan dua jagoan yang akan bertarung
itu, mereka berharap Sandya bisa mengalahkan Prabu Angkara. Pertandingan
berlangsung sengit, kekuatan mereka sangat berimbang. Prabu Angkara murka
melihat Sandya mampu menyamai kekuatannya. Tiba-tiba dari belakang Sandya
muncul pengawal prabu hendak menusuk Sandya menggunakan pedang. Melihat prabu
Angkara bermain licik, pemuda yang pernah di tolong Sandya dari serangan harimau itu pun tidak mau tinggal diam, ia melompat ke dalam arena dan
menangkis serangan pengawal dengan
goloknya. Pertarungan pun semakin sengit, kini petarungnya menjadi berpasangan.
Prabu
Angkara mulai kelelahan, serangan yang ia berikan pun mulai mengendur, akhirnya
dengan satu jurus terakhir prabu Angkara berhasil di kalahkan oleh Sandya.
Pengawal raja pun berhasil dibunuh oleh pemuda pemberani itu menggunakan
goloknya.
Atas
kemenangannya itu semua rakyat sepakat untuk mengangkat Sandya menjadi raja di
Negeri Pasundan. Sandya yang melihat keberanian pemuda itupun akhirnya
pengangkatnya menjadi panglima perang dengan gelar Panglima Atyasa.
Rakyat
sangat menghormati raja mereka yang baru, mereka memberi upeti dengan
keikhlasan hati mereka. Prabu Sandya pun berlaku adil pada rakyatnya, akhirnya
Negeri Pasundan pun benar-benar menjadi negeri yang kaya serta damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar