Senin, 30 April 2018

Bangku Diujung Lorong



            Tik! tok! tik! tok!
            Aku memandang jam dinding dikamarku yang tak henti-hentinya menghitung waktu. Ku tatap lekat jarum yang bergerak memutar, aku terus menghitungnya hingga perlahan aku mulai memejamkan mataku dan larut mengikuti suara dentangan jam yang terdengar semakin menjauh.
            Aku menatap sekitarku, semuanya gelap seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku terpaku menatap kedepan, dihadapanku terdapat sebuah lorong yang gelap, namun samar-samar diujung lorong terlihat ada sesuatu duduk menatapku. Aku sangat takut, suara nafasku terdengar jelas memecah kesunyian. Aku tidak mau meneruskan langkahku menuju lorong itu, aku berbalik dan mencoba untuk berlari, namun aku terhenti karena seseorang memegang tanganku. Tangannya terasa amat dingin dan basah, aku tidak berani menoleh kebelakang. Samar-samar aku merasa ia mendekatkan wajahnya kearahku dan aku mendengar ia menyebut namaku.
            “Inef...”
            “Tidaaaaaaaaak!” Aku berteriak sekeras mungkin.
            “Inef bangun woi! Kamu kenapa sih? Bikin orang kaget aja” Addini membangunkanku.
            “Hah Dini? Ternyata aku hanya mimpi,” aku menghela nafas lega.
            “Kamu mimpi apa?” tanya Addini penasaran.
            “Aku mimpi melihat hantu, dia memegang tanganku, tangannya basah dan dingin, kemudian dia memanggil namaku, Inef...” Aku menceritakan mimpiku tadi.
“Hahaha, itu akibat tidur tidak baca do’a dulu, yang megang kamu itu aku tadi, aku panggil nama kamu buat bangunin kamu,” Addini tertawa terbahak-bahak.
Aku menatap Addini dengan raut wajah kesal. Ku lihat tangan Addini memegang ice cream, pantas saja tangannya dingin dan basah. Aku menghela nafas sekali lagi, kesal namun lega.
            Aku dan Addini bersiap-siap pergi ke sekolah. Kami berjalan sambil bercanda. Sesampainya di sekolah kami langsung berlari menuju kelas. Addini berlari mendahuluiku dan meninggalkanku. Aku mengejar Addini, namun langkahku terhenti didepan lorong kelasku.
            “Inikan lorong didalam mimpiku semalam, kok rasanya seperti de javu,” aku kembali teringat mimpiku semalam.
            Aku menatap ujung lorong itu, terlihat seorang anak lelaki duduk di sebuah bangku sambil membaca buku. Aku memperhatikannya dengan seksama, dia terlihat biasa saja, namun aura yang terpancar darinya sangat seram. Dia anak satu kelasku, tapi namanya pun aku tidak tahu, dia seperti hantu yang ikut belajar di kelas, semua anak dikelasku seperti tak pernah menganggapnya ada. Tiba-tiba saja anak itu menatapku, aku terkejut dan langsung berlari masuk ke kelas.
            “In kamu lama banget sih masuk kelasnya, ngapain diluar?” tanya Addini.
            “Aku tadi bertemu makhluk menyeramkan,” aku berkata sambil mengeluarkan buku-buku pelajaranku.
            “Bodo amat In,” Addini sudah biasa mendengarkan cerita-cerita imajinasiku, sampai terkadang dia kesal mendengarnya.
            Aku tertawa melihat reaksi Addini. Temanku satu ini sangat baik dan pintar, punya banyak teman dan disukai banyak orang. Cantik dan anggun, itu kata yang pas untuknya. Berbeda denganku yang punya teman banyak hanya karena mereka berteman dengan Addini, jika tidak ada Addini mereka tidak akan mau berteman denganku. Aku selalu sibuk dengan duniaku sendiri, dengan dunia-dunia dalam imajinasiku.
            Saat jam istirahat tiba, aku dan Addini pergi ke kantin. Aku lihat hari ini ada yang berbeda dengan Addini, ia terlihat bahagia.
            “Ada yang aneh nih hari ini, kamu kenapa sih?” tanyaku pada Addini
            “Kita lagi taruhan nih, haha” jawab Addini.
            “Taruhan apaan?” aku mulai penasaran.
            “Sekarang lagi ada novel baru, kami pengen banget beli novel itu, tapi mahal, jadi kami buat kesepakatan, siapa yang duluan disapa oleh Nashki dia akan dibelikan novel itu dan tidak bayar, haha,” Addini menceritakan kekonyolannya bersama teman-temannya.
            “Nashki itu siapa?” Aku belum pernah mendengar nama itu.
            “Itu loh, anak misterius di kelas kita, yang tidak pernah bicara, setiap hari selalu membaca buku,” Addini menjelaskan padaku.
            “Oh anak itu namanya Nashki, baru tahu aku,” Akhirnya aku tahu kalau namanya Nashki.
            Padahal setiap hari guru selalu mengabsen kami, tapi entah kenapa aku tidak tahu kalau namanya adalah Nashki. Sebenarnya mengetahui namanya tidaklah penting untukku, tapi entah kenapa aku mulai penasaran. Sifat Nashki cocok dengan tokoh imajinasiku, aku ingin tahu tentangnya lebih jauh lagi.
            Aku tidak tertarik sama sekali dengan permainan taruhan mereka. Addini pergi bersama teman-temannya, aku memilih untuk pulang saja melanjutkan naskah ceritaku yang belum selesai kutulis. Di perjalanan pulang aku mendengar suara seekor anak kucing, aku mencarinya kemana-mana tapi tidak kutemukan.
            “Dimana anak kucingnya? Kok tidak ada, padahal suaranya sangat dekat,” aku bergumam sendiri, kemudian aku menengok ke atas pohon.
            “Wah kok anak kucingnya bisa ada diatas pohon?” aku melihat anak kucing itu berada diatas pohon dengan ketakutan.
            Aku ingin menyelamatkan kucing kecil itu, tapi aku tidak bisa memanjat pohon. Aku berpikir keras bagaimana cara menyelamatkannya, aku mencoba memanjat pohon itu, tapi na’as aku malah terjatuh, tangan kanan dan kaki kiriku terluka.
            “Aduh, aku memang payah, hanya memanjat pohon saja aku tidak bisa,” aku menyalahkan diriku sendiri.
            Tiba-tiba ada seseorang melangkahkan kaki didekatku, dia meletakkan tasnya dan memanjat pohon itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata anak itu adalah Nashki. Aku bengong menatapnya.
            “Hei kau tidak mau membantuku menurunkan kucing ini?” dia mengulurkan kucing kecil itu kepadaku dari atas pohon.
            Kata-katanya membuyarkan keherananku. Aku mengambil kucing itu dari tangannya. Aku memeluk kucing itu dan mengelus tubuhnya.
            “Terimakasih karena sudah membantuku menurunkan kucing ini?” aku tersenyum kearah Nashki.
            Nashki hanya menatapku dengan tanpa ekspresi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi dan mengangkat bahu tanda tak mengerti dengan sikap Nashki.
            “Dasar orang aneh, setidaknya tanya kek bagaimana keadaanku, dasar tidak peka,” aku menggerutu sendiri karena kesal pada Nashki.
            “Eh tapi tadi dia berbicara padaku, kalau aku ikut taruhan aku sudah menang, tapi sudahlah itu bukan hal yang penting,” aku melanjutkan perjalananku untuk pulang kerumah.
            Sesampinya dirumah aku langsung mengobati lukaku dan memandikan anak kucing itu. Anak kucing itu sangat lucu, aku suka sekali.
            “Anak kucing dari mana In?” tanya Addini.
            “Tadi aku lihat anak kucing ini diatas pohon, dia tidak bisa turun, jadi aku tolongin deh, dan aku bawa pulang,” aku memeluk kucing kecil itu.
            “Aku tidak yakin kamu yang menyelamatkan anak kucing itu, kamu kan tidak bisa memanjat pohon,” Addini tidak percaya padaku.
            “Iya sih, bukan aku yang menurunkan kucing ini dari atas pohon, tapi kan setidaknya aku sudah membawanya pulang dan merawatnya, berarti aku termasuk orang yang menyelamatkan dia dong,” aku tidak mau kalah jika berdebat dengan Addini.
            Addini hanya mengangguk-anggukkan kepala, bukan berarti setuju, tapi dia hanya tidak mau berdebat denganku. Addini menatap layar ponselnya, kemudian ia menoleh kearahku.
            “In, bagaimana ya agar aku bisa dekat dengan Nashki?” Addini masih memikirkan taruhannya tadi.
            “Ya kamu deketin dulu lah dianya,” aku menjawab sebisaku.
            “Tapi aku tidak berani,” Addini menatapku.
            “Ya sudah, kalau begitu menyerah saja, terus belikan temanmu itu novel,” aku tidak tertarik sama sekali dengan topik yang dibicarakan Addini.
            “Ih kamu nyebelin banget sih In, orang lagi serius juga,” Addini kesal dan meninggalkanku.
            Pagi kembali menjelang, aku tak pernah bosan menjalankan rutinitasku satu ini, sekolah. Hari ini aku dan Addini datang pagi, kami duduk dibangku dan saling diam. Bukan berarti kami sedang bermusuhan, tapi kami sedang larut dengan masalah kami masing-masing.
            “Bagaimana kucingnya?”
            Aku terkejut ada yang menyapaku, aku menoleh kearah suara itu. Ternyata orang itu tak lain adalah Nashki.
            “Ada dirumahku, sudah aku mandikan dan aku beri makan,” jawabku singkat, karena aku masih tidak yakin dia akan mendengarkan ceritaku.
            “Baguslah kalau begitu,” dia kemudian melangkah pergi keluar kelas menuju bangku diujung lorong.
            Aku menatapnya tak percaya. Apalagi Addini, dia benar-benar heran melihat Nashki menyapaku.
            “Kok dia tahu kamu punya anak kucing?” Addini menatapku curiga.
            “Yaiyalah, kan Nashki yang menurunkan kucing itu dari pohon,” aku berbalik menatap Addini dengan tersenyum.
            “Kok kamu tidak cerita padaku In, kamu kok jahat,” lagi lagi Addini kesal padaku.
            “Aku mau cerita ke kamu, tapi kan kemarin kamu marah, jadi aku batalkan deh ceritanya,” Aku membela diri.
            Addini tidak menjawab kata-kataku, dia hanya diam. Aku menatap Addini, aku sadar dari kemarin aku selalu membuat Addini kesal, aku ingin membuatnya senang walau hanya sekali. Mungkin aku ini memang teman yang menyebalkan, tapi setidaknya aku masih sayang pada teman-temanku.
            Tak terasa waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, bel tanda sekolah telah usai pun berbunyi, semua anak berhamburan keluar sekolah menuju rumahnya masing-masing. Aku melihat Nashki mengambil sepedanya yang terparkir, aku berjalan mendekatinya.
            “Hai Nashki,” aku menyapanya.
            Nashki menoleh kearahku.
            “Ada apa In?” tanyanya.
            Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
            “Kamu tahu namaku?” aku balik bertanya padanya.
            “Kita kan satu kelas,” jawabnya singkat.
            Aku menganggukkan kepala, memang masuk akal sih.
            “Ki, aku mau minta tolong,” aku meraih tangan Nashki dan memberinya buku matematika Addini, kemudian aku berlari meninggalkan Nashki.
            “Tolong berikan buku itu pada Addini ya!” aku berteriak pada Nashki dengan tetap berlari meninggalkannya.
            Nashki heran melihat tingkahku, ia menatap buku yang ada ditangannya. Ia mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Tapi ia tetap memenuhi permintaanku, ia mencari Addini untuk memberikan buku matematika itu. Akhirnya ia melihat Addini.
            “Hai, kamu Addini kan?” Nashki menyapa Addini.
            “Iya ada apa?” Addini menoleh dan terkejut melihat ternyata Nashki yang menyapanya.
            Nashki menyerahkan buku itu dan langsung pergi meninggalkan Addini dan teman-temannya. Addini menyadari sesuatu, dan ia langsung melompat bahagia.
            “Nashki menyapaku, yeay aku menang, haha,” Addini menatap teman-temannya yang masih bengong karena tidak percaya.
            Tapi hal tersebut memang terjadi, dan janji harus ditepati. Akhirnya Addini mendapatkan novel yang ia inginkan. Addini tahu kalau aku yang telah membuat Nashki mengembalikan buku matematika itu padanya, ia sangat senang sekali.
            Sementara aku berjalan sendirian menuju kerumah.
            “Hei bukunya sudah ku kembalikan,”
            Aku menoleh dan melihat Nashki sudah berada dibelakangku.
            “Terimakasih,” aku tersenyum kearahnya.
            “Ayo naik,” aku tidak percaya ia mengajakku naik sepeda dengannya.
            Aku hanya diam mendengar kata-katanya, aku mencoba meyakinkan diriku kalau aku tidak salah dengar.
            “Yasudah, kalau tidak mau naik, aku pulang duluan,” Nashki mengayuh sepedanya.
            “Eh aku ikut,” aku tersadar dan langsung menarik sepeda Nashki.
            Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya mengajak Nashki berbicara. Aku senang walaupun dia kadang menjawabnya dengan singkat.
            “Kamu tahu novel terbaru yang banyak dibicarakan anak-anak di kelas?” aku bertanya pada Nashki.
            “Ya aku tahu,” jawab Nashki singkat.
            “Apakah novel itu benar-benar bagus, katanya harganya sangat mahal?” aku penasaran dengan novel tersebut.
            Nashki tidak langsung menjawabku karena kami sudah sampai didepan rumahku.
            “Oke terimakasih atas tumpangannya,” aku tersenyum pada Nashki dan melangkah menuju rumah.
            “Inef, kalau kamu penasaran dengan novel itu, besok pagi ayo kita baca novelnya bersama, aku sudah beli novel itu tapi aku belum membacanya,” Nashki mengajakku membaca bersamanya, tentu saja aku terkejut.
            Aku mengangguk dan tersenyum. Nashki membalas senyumku sebelum ia pergi. Aku menatap Nashki sampai ia hilang diujung persimpangan jalan. Aku senang ia mau mengajakku membaca bersama dengannya. Sejak hari itu, setiap pagi aku selalu membaca buku bersama Nashki, pulang bersama Nashki, dan terkadang ia mengajariku tugas yang tidak aku mengerti.

Kini bangku diujung lorong itu tak pernah sendiri lagi, ada aku dan dia disana.

Memory Dalam Kotak Musik



Senja menyapaku dengan kehangatan yang membawa kadamaian, angin membelai rambutku dengan sejuta kasih sayang, namun gerimis yang datang kembali membuka lukaku yang belum bisa terobati. Rasa ini yang takkan pernah terungkap, rasa ini yang takkan pernah terbalaskan. Rasa ini yang hanya bisa kusimpan dalam hati, kucurahkan dalam do’a, dan ku sembunyikan dalam senyuman.
            Dia, sosok yang membuatku mampu merasakan betapa berharganya hidup ini, mampu membuatku mengerti apa arti dari kebahagiaan, dan membuatku mengerti apa makna dari kata rindu yang terpendam. Mungkin dia tak pernah tahu rasanya menjadi diriku, rasanya mencintainya dalam diam. Dia takkan pernah tahu, bagaimana aku mencoba tersenyum dalam sejuta luka.
            Aku tak bisa menyalahkan dia ataupun orang lain, karena memang rasa ini yang salah, bukan dia, mereka, ataupun aku. Rasa ini, ya, rasa ini mulai tumbuh ketika aku pertama kali melihat sosok dirinya, sosok yang tampan mungkin tak menjadi penilaian utama dalam hidupku, tapi kebaikan hatinya, kelembutan sifatnya membuatku luluh dan jatuh cinta padanya. Rasa ini bermula ketika aku pertama kali mengenalnya di persimpangan jalan itu, persimpangan jalan yang kini menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
            “Sepedaaaaa, kamu kenapa sih? Perasaan kemarin rantaimu baik-baik saja deh,” aku memeriksa rantai sepedaku yang terlepas.
            Aku mencoba memperbaiki rantai sepedaku, namun karena gugup dan cepat-cepat ingin sampai ke kampus, aku tidak berhasil memperbaikinya.
            “Sepedanya kenapa mbak?” tanya seseorang dari arah belakangku.
            Aku menoleh kearahnya, aku melihat seorang pemuda berdiri dibelakangku, ia memakai baju lapang Fakultas Kedokteran Hewan.
            Oh ternyata satu kampus denganku, tapi beda jurusan
            “Rantai sepeda saya lepas kak, tapi saya tidak bisa memperbaikinya,” aku menjawab pertanyaan kakak itu dengan raut wajah bingung dan gugup karena takut terlambat sampai ke kelas.
            “Coba saya perbaiki mbak,” ia jongkok disampingku dan mulai memperbaiki rantai sepedaku.
            Tak lama kemudian dia berdiri dan tersenyum.
            “Beres,” ia berkata padaku sambil mengacungkan jempolnya.
            “Wah kakak hebat,” aku tertawa melihatnya.
Lucu, baik, itu kesan pertamaku bertemu dengannya.
“Oh ya, saya Arandra,” ia mengulurkan tangannya padaku dan memperkenalkan dirinya.
“Saya Aprilia,” jawabku.
“Oh ya, mbak mau kemana? Sudah jam 07.55 WIB,” perkataanya menyadarkanku pada tujuan utamaku.
“Astaga, saya bisa telat ini, saya mau ke Fakultas Perikanan, haduh gimana ini,” aku gugup dan langsung mengambil sepedaku.
“Mbak yakin bisa sampai kesana? Lima menit lagi lo,” ia seolah-olah mengejekku.
“Saya tidak tahu kalau belum mencoba kak, oh ya terimakasih kak sudah membantu memperbaiki sepeda saya,” aku berkata dan langsung beranjak pergi. Tapi ia memegangi sepedaku.
“Mbak, saya boleh ikut mbak naik sepeda?” pertanyaannya membuatku bingung.
“Maksudnya?”
“Saya juga masuk jam 08.00 WIB, saya takut telat juga, jadi bolehkan saya ikut mbak? Nanti saya saja yang bawa sepedanya, saya jago loh mbak naik sepeda,” akhirnya aku pun mengizinkannya membawa sepedaku.
Fakultasnya dan Fakultasku bersebelahan, berkat bantuannya aku tidak telat sampai ke kelas. Wajah itu, nama itu, senyum itu mulai menghantui setiap malamku, hadir di setiap hariku. Awal yang indah, berharap aku juga bisa mendapatkan akhir yang indah.
Pertemenan ini terus berlanjut. Sejak awal sudah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku, tapi aku masih menyimpannya, berharap dia juga memiliki rasa yang sama. Berharap? Ya hanya bisa berharap, akankah terwujud? Entahlah, aku tidak bisa menemukan jawaban itu.
Malam tahun baru, semua orang merayakannya dengan hura-hura, pesta memanggang, bermain kembang api, atau hanya sekedar menikmati suara-suara petasan. Aku tidak termasuk kedalam semua kategori itu, yang kulakukan hanyalah tidur di atas kasurku dengan nyenyak.
“Lia bangun, Lia banguuuuuun!”
Suara Kiky membuyarkan mimpi indahku, ia menarikku keluar rumah. Aku terkejut, terhuyung mengikuti langkah Kiky. Aku marah sekali, kali ini Kiky benar-benar keterlaluan.
“Ki apa-apaan sih, kamu tuh ya nggak bisa lihat orang senang, mengganggu orang tidur saja, gara-gara kamu mimpi indahku jadi berantakan!” aku memarahi Kiky.
“Mimpi indah apa?”
“Mimpi indah bertemu dengan...” kata-kataku terhenti ketika menoleh kearah orang yang bertanya padaku tadi, aku menatapnya lama, tak percaya ia ada disini, apa aku masih berada dalam mimpi?
“Kak Arand? Kok disini kak?” tanyaku masih diselimuti kebingungan.
“Iya, kakak tahu kamu nggak mungkin pergi keluar untuk merayakan tahun baru, jadi kakak kesini saja, bosan di kontrakan sendirian,” Ia tersenyum.
“Oh ya Ki, ini ada ayam, jagung, arang, bumbu panggang, dan perlengkapan lainnya, ajak teman kontrakanmu keluar, kita buat acara manggang-manggang,” Kak Arand memberikan dua kantung besar perlengkapan memanggang ke Kiky.
“Kok kakak nggak kasih tahu saya sih mau kesini?”
“Emang harus ya? Kan kakak sudah bilang ke Kiky,” jawabnya dengan tersenyum dan melangkahkan kaki ke arah teman-temanku yang sibuk mempersiapkan alat memanggang.
Apakah ini yang dinamakan ‘mimpi jadi kenyataan’
Aku tersenyum bahagia, malam tahun baru ini kulalui bersama teman-temanku dan kak Arandra. Terimakasih tuhan sudah mengirimkan kak Arandra padaku. Terimakasih sudah membuatku mengerti bahwa kebersamaan itu adalah hal yang selalu kurindukan.
Tahun baru, awal yang baru, kisah yang baru. Kisah yang baru? Ya kisah baru dalam hidupku, dengan tokoh yang sama, cinta yang sama, namun dengan rasa yang berbeda.
Pagi ini berharap aku bisa bertemu dengannya, menyapanya, dan melihat senyumnya. Namun harapanku tak terwujudkan, mungkin tuhan ingin memberikan kisah yang lebih baik lagi untukku.  Aku hanya bisa berdo’a, semoga ia bahagia dan tersenyum walau aku tak melihatnya.
“Liaaaa, gila, ini kabar gila,” Kiky berlari kearahku dengan tergea-gesa.
“Gila kenapa Ki?” tanyaku tak mengerti.
“Kak Arand Li, kak Arand,” Kiky berkata terbata-bata karena kelelahan berlari.
“Iya kak Arand kenapa?” jujur aku mulai gugup mendengar nama itu disebut, jantugku mulai berdegup kencang.
“Kak Arand hari ini bertunangan, tunangannya kak Sheila, Mapres Fakultas kita yang cantik itu.
Aku langsung terkejut, terpaku mendengar kata-kata Kiky.
Apa ini? Apa ini bagian dari mimpi burukku?
Aku diam, tidak tahu harus berbuat apa? Haruskah aku sedih karena rasaku tak terbalas? Ataukah aku harus bahagia karena ia telah menemukan orang yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya.
“Li, aku kira dia suka kamu, aku kira kak Arand pacar kamu, ternyata bukan  ya?” pertanyaan Kiky membuyarkan lamunanku.
“Hahaha, kamu ada-ada saja Ki, aku kan tidak mau pacaran, lagian aku dan kak Arand hanya berteman kok, syukur deh kalau kak Arand bertunangan dengan kak Sheila, dia cantik, pintar, baik pula, pasangan yang serasi,” aku mencoba menerima kenyataan, jujur aku sakit hati, tapi aku lega, setidaknya kak Arand bersama dengan orang yang ku kenal baik dan kak Sheila memang pantas bersanding dengan Kak Arand.
Benarkah aku bisa menerima kenyataan ini?
Aku mencoba, ya aku terus mencoba menerimanya, tapi tidak bisa. Lambat laun aku mulai menjauhi kak Arand, aku hanya berani menatapnya dari jauh. Permasalahan kecil pun ku jadikan alasan untuk marah padanya dan tidak mau lagi bertemu dengannya. Jujur aku memang egois, tapi aku merasa inilah jalan terbaik. Setiap kak Arand menatapku, aku pasti langsung pergi. Rasanya ingin menangis melihatnya, melihat tatapannya yang merasa bersalah padaku, tapi aku tidak peduli, mencoba untuk tidak peduli tentangnya, aku tidak mau jatuh terlalu dalam, tidak mau terus larut dalam rasa sakit ini.
“Lia, ada kak Arand diluar,” Kiky membangunkan aku yang pura-pura tidur didalam kamarku.
Aku tidak menjawab, aku berharap Kiky pergi, aku tidak mau bertemu dengan kak Arand. Apa maksudnya ini? Dia sudah bertunangan, kenapa masih mau menemuiku. Aku mulai menciptakan tokoh jahat dalam diri kak Arand, aku mulai mencoba menjadikannya tokoh yang tidak pantas aku sebut “pangeran”.
Kiky pergi meninggalkan kamarku, namun tak lama kemudian ia kembali lagi. Ia meletakkan sesuatu diatas meja belajarku. Aku penasaran, setelah Kiky pergi aku melihat ada sebuah kotak diatas mejaku. Aku meraihnya, membuka kotak itu. Dentingan indah terdengar ketika kotak itu terbuka, kotak musik, ya kotak musik yang cantik. Nada yang indah itu kian menyayat hatiku, aku menutupnya dan menangis. Apa ini yang ia mau? Menyiksaku dengan segala kebaikannya, menyiksaku dengan sejuta harapan yang ia berikan. Aku melempar kotak musik itu kearah pintu, aku menangis meluapkan segala kekesalanku. Aku membawa kesedihanku dalam tidurku, berharap ketika bangun semua kembali normal tanpa hadirnya sosok yang selalu terkenang dalam benakku.
Aku berjalan melewati trotoar, berjalan dibawah payung yang melindungiku dari derasnya hujan. Aku suka hujan, hujan yang mampu menyembunyikan tangisku, hujan yang seakan-akan mengerti kesedihanku. Aku terdiam menikamati suara rintikan itu, mencoba meresapi setiap makna yang disampaikan olehnya melalui sejuta luka.
Aku tersentak ketika sebuah helm terpental kearahku, seolah mencoba menyadarkanku dari kesedihan ini. Entah apa yang terjadi, aku melihat dua orang tergeletak disana dengan bersimbah darah, mobil berderet saling bertabrakan.
“kecelakaan?” aku terkejut, aku mendengar teriakan pilu dan menyayat hati disana, aku mundur selangkah, rasa takut ini mulai menyelimutiku.
Orang-orang mulai berhamburan, mobil ambulans dan polisi mulai berdatangan. Aku masih tidak bergerak dari tempatku, aku masih terpaku dengan kejadian yang tiba-tiba ini.
Ada apa ini? Kenapa harus terjadi didepan mataku
Aku tersadar dan mencoba pergi dari sana, aku tidak mau lagi melihat kesedihan, sudah cukup rasa ini yang membunuhku. Tapi, Tuhan bekehendak lain, entah ini takdir, atau... ah entahlah, aku tidak bisa berkata-kata lagi, ketika aku melihat sosok itu terbaring lemah dan bersimbah darah.
“Kak Sheila?” jantungku kembali berdetak kencang.
Aku mengejar sosok itu, memandangnya tak percaya. Aku melihat sosok lain di sampingnya. Akal sehatku mulai goyah, kesadaranku mulai menghilang, dan.. entah aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu, yang kuingat aku tebangun dirumah sakit, disampingku kulihat ada Kiky yang menangis.
“Ki kenapa menangis? Apa yang terjadi?” tanyaku pada Kiky.
“Kamu tadi pingsan Li, aku takut,” Kiky masih menangis.
“Aku tidak apa-apa Ki, lihat aku, aku sudah bangun, ya kan?”
Kiky menatapku sendu, ia memelukku erat, menangis dipelukanku.
“Kenapa orang baik selalu cepat pergi ya? Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya, padahal baru kemarin dia datang ke kontrakan untuk  menemuimu, tapi sekarang, dia... dia sudah pergi jauh,” Kiky menangis tersedu-sedu.
Aku menatapnya nanar, siapa yang kemarin menemuiku? Aku masih sulit untuk berfikir. Aku tidak percaya, tidak percaya, tidak percayaaa dengan semua ini. Apa ini lelucon?
Aku menggoncang tubuh Kiky
“Apa maksudmu Ki? Siapa yang pergi?” aku berharap jawaban yang Kiky berikan tidak seperti yang aku fikirkan.
“Kak Arand, Kak Arand dan kak Sheila sudah tidak bersama kita lagi Li,”
Jawaban itu, jawaban yang tidak kuinginkan. Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Kiky memelukku, kami saling bersandar, mencoba mengurangi luka ini.
Ku tatap tanah merah itu, tanah yang kini menjadi rumah mereka.
“Aku iri dengan kalian, aku iri dengan kak Sheila,” aku mencurahkan sejuta lukaku disana.
“Kak maafkan aku, maafkan aku, aku tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir aku mendengar kakak datang untuk menemuiku, maafkan keegoisan rasa ini, maafkan aku,”
Aku terpaku menatap foto kedua orang itu, mungkin ini cara Tuhan memberikan kebahagiaan kepada mereka, mungkin Tuhan ingin mereka bersama di surga, mungkin Tuhan ingin tak ada yang mengganggu mereka. Ya tak akan ada lagi orang sepertiku di surga sana, seandainya kak Arand disini, ia akan tetap merasa bersalah padaku. Walau ia telah bersama kak Sheila, ia tak akan bahagia karena ada bayang-bayangku yang akan terus memburunya.
Biar, biarlah aku saja yang merasakan luka ini, biar aku saja yang membawa luka ini hingga nanti. Aku menatap kotak musik itu, kotak musik yang telah ku hancurkan. Penyesalan mulai menyelimuti benakku. Aku mencoba memperbaiki kotak musik itu, namun sesuatu yang hancur tak akan mungkin bisa kembali seperti semula, ya seperti rasa ini yang telah terkoyak oleh sejuta luka, walau bisa diobati namun akan tetap meninggalkan bekas.
Kak maafkan aku karena telah menjadikan kalian tokoh yang jahat dalam hidupku, maafkan aku karena egois dengan rasa ini, maafkan aku... maafkan aku yang tak bisa menerima kenyataan ini, dan maafkan aku karena sampai kapanpun aku tidak bisa melupakanmu, mungkin kenangan ini akan menyakitkan bila kuingat, tapi aku tidak pernah menyesal pernah mencintai kakak, karena berkat kakak aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana rasanya cemburu, bagaimana rasanya terluka, dan bagaimana sulitnya berjuang untuk menerima kenyataan. Kotak musik ini menjadi saksi kisah kita yang tak mungkin berlanjut lagi. Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya kak.
            Kini aku mengerti bahwa cinta tak selamanya bisa dimiliki.

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...