Senin, 30 April 2018

Bangku Diujung Lorong



            Tik! tok! tik! tok!
            Aku memandang jam dinding dikamarku yang tak henti-hentinya menghitung waktu. Ku tatap lekat jarum yang bergerak memutar, aku terus menghitungnya hingga perlahan aku mulai memejamkan mataku dan larut mengikuti suara dentangan jam yang terdengar semakin menjauh.
            Aku menatap sekitarku, semuanya gelap seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku terpaku menatap kedepan, dihadapanku terdapat sebuah lorong yang gelap, namun samar-samar diujung lorong terlihat ada sesuatu duduk menatapku. Aku sangat takut, suara nafasku terdengar jelas memecah kesunyian. Aku tidak mau meneruskan langkahku menuju lorong itu, aku berbalik dan mencoba untuk berlari, namun aku terhenti karena seseorang memegang tanganku. Tangannya terasa amat dingin dan basah, aku tidak berani menoleh kebelakang. Samar-samar aku merasa ia mendekatkan wajahnya kearahku dan aku mendengar ia menyebut namaku.
            “Inef...”
            “Tidaaaaaaaaak!” Aku berteriak sekeras mungkin.
            “Inef bangun woi! Kamu kenapa sih? Bikin orang kaget aja” Addini membangunkanku.
            “Hah Dini? Ternyata aku hanya mimpi,” aku menghela nafas lega.
            “Kamu mimpi apa?” tanya Addini penasaran.
            “Aku mimpi melihat hantu, dia memegang tanganku, tangannya basah dan dingin, kemudian dia memanggil namaku, Inef...” Aku menceritakan mimpiku tadi.
“Hahaha, itu akibat tidur tidak baca do’a dulu, yang megang kamu itu aku tadi, aku panggil nama kamu buat bangunin kamu,” Addini tertawa terbahak-bahak.
Aku menatap Addini dengan raut wajah kesal. Ku lihat tangan Addini memegang ice cream, pantas saja tangannya dingin dan basah. Aku menghela nafas sekali lagi, kesal namun lega.
            Aku dan Addini bersiap-siap pergi ke sekolah. Kami berjalan sambil bercanda. Sesampainya di sekolah kami langsung berlari menuju kelas. Addini berlari mendahuluiku dan meninggalkanku. Aku mengejar Addini, namun langkahku terhenti didepan lorong kelasku.
            “Inikan lorong didalam mimpiku semalam, kok rasanya seperti de javu,” aku kembali teringat mimpiku semalam.
            Aku menatap ujung lorong itu, terlihat seorang anak lelaki duduk di sebuah bangku sambil membaca buku. Aku memperhatikannya dengan seksama, dia terlihat biasa saja, namun aura yang terpancar darinya sangat seram. Dia anak satu kelasku, tapi namanya pun aku tidak tahu, dia seperti hantu yang ikut belajar di kelas, semua anak dikelasku seperti tak pernah menganggapnya ada. Tiba-tiba saja anak itu menatapku, aku terkejut dan langsung berlari masuk ke kelas.
            “In kamu lama banget sih masuk kelasnya, ngapain diluar?” tanya Addini.
            “Aku tadi bertemu makhluk menyeramkan,” aku berkata sambil mengeluarkan buku-buku pelajaranku.
            “Bodo amat In,” Addini sudah biasa mendengarkan cerita-cerita imajinasiku, sampai terkadang dia kesal mendengarnya.
            Aku tertawa melihat reaksi Addini. Temanku satu ini sangat baik dan pintar, punya banyak teman dan disukai banyak orang. Cantik dan anggun, itu kata yang pas untuknya. Berbeda denganku yang punya teman banyak hanya karena mereka berteman dengan Addini, jika tidak ada Addini mereka tidak akan mau berteman denganku. Aku selalu sibuk dengan duniaku sendiri, dengan dunia-dunia dalam imajinasiku.
            Saat jam istirahat tiba, aku dan Addini pergi ke kantin. Aku lihat hari ini ada yang berbeda dengan Addini, ia terlihat bahagia.
            “Ada yang aneh nih hari ini, kamu kenapa sih?” tanyaku pada Addini
            “Kita lagi taruhan nih, haha” jawab Addini.
            “Taruhan apaan?” aku mulai penasaran.
            “Sekarang lagi ada novel baru, kami pengen banget beli novel itu, tapi mahal, jadi kami buat kesepakatan, siapa yang duluan disapa oleh Nashki dia akan dibelikan novel itu dan tidak bayar, haha,” Addini menceritakan kekonyolannya bersama teman-temannya.
            “Nashki itu siapa?” Aku belum pernah mendengar nama itu.
            “Itu loh, anak misterius di kelas kita, yang tidak pernah bicara, setiap hari selalu membaca buku,” Addini menjelaskan padaku.
            “Oh anak itu namanya Nashki, baru tahu aku,” Akhirnya aku tahu kalau namanya Nashki.
            Padahal setiap hari guru selalu mengabsen kami, tapi entah kenapa aku tidak tahu kalau namanya adalah Nashki. Sebenarnya mengetahui namanya tidaklah penting untukku, tapi entah kenapa aku mulai penasaran. Sifat Nashki cocok dengan tokoh imajinasiku, aku ingin tahu tentangnya lebih jauh lagi.
            Aku tidak tertarik sama sekali dengan permainan taruhan mereka. Addini pergi bersama teman-temannya, aku memilih untuk pulang saja melanjutkan naskah ceritaku yang belum selesai kutulis. Di perjalanan pulang aku mendengar suara seekor anak kucing, aku mencarinya kemana-mana tapi tidak kutemukan.
            “Dimana anak kucingnya? Kok tidak ada, padahal suaranya sangat dekat,” aku bergumam sendiri, kemudian aku menengok ke atas pohon.
            “Wah kok anak kucingnya bisa ada diatas pohon?” aku melihat anak kucing itu berada diatas pohon dengan ketakutan.
            Aku ingin menyelamatkan kucing kecil itu, tapi aku tidak bisa memanjat pohon. Aku berpikir keras bagaimana cara menyelamatkannya, aku mencoba memanjat pohon itu, tapi na’as aku malah terjatuh, tangan kanan dan kaki kiriku terluka.
            “Aduh, aku memang payah, hanya memanjat pohon saja aku tidak bisa,” aku menyalahkan diriku sendiri.
            Tiba-tiba ada seseorang melangkahkan kaki didekatku, dia meletakkan tasnya dan memanjat pohon itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata anak itu adalah Nashki. Aku bengong menatapnya.
            “Hei kau tidak mau membantuku menurunkan kucing ini?” dia mengulurkan kucing kecil itu kepadaku dari atas pohon.
            Kata-katanya membuyarkan keherananku. Aku mengambil kucing itu dari tangannya. Aku memeluk kucing itu dan mengelus tubuhnya.
            “Terimakasih karena sudah membantuku menurunkan kucing ini?” aku tersenyum kearah Nashki.
            Nashki hanya menatapku dengan tanpa ekspresi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi dan mengangkat bahu tanda tak mengerti dengan sikap Nashki.
            “Dasar orang aneh, setidaknya tanya kek bagaimana keadaanku, dasar tidak peka,” aku menggerutu sendiri karena kesal pada Nashki.
            “Eh tapi tadi dia berbicara padaku, kalau aku ikut taruhan aku sudah menang, tapi sudahlah itu bukan hal yang penting,” aku melanjutkan perjalananku untuk pulang kerumah.
            Sesampinya dirumah aku langsung mengobati lukaku dan memandikan anak kucing itu. Anak kucing itu sangat lucu, aku suka sekali.
            “Anak kucing dari mana In?” tanya Addini.
            “Tadi aku lihat anak kucing ini diatas pohon, dia tidak bisa turun, jadi aku tolongin deh, dan aku bawa pulang,” aku memeluk kucing kecil itu.
            “Aku tidak yakin kamu yang menyelamatkan anak kucing itu, kamu kan tidak bisa memanjat pohon,” Addini tidak percaya padaku.
            “Iya sih, bukan aku yang menurunkan kucing ini dari atas pohon, tapi kan setidaknya aku sudah membawanya pulang dan merawatnya, berarti aku termasuk orang yang menyelamatkan dia dong,” aku tidak mau kalah jika berdebat dengan Addini.
            Addini hanya mengangguk-anggukkan kepala, bukan berarti setuju, tapi dia hanya tidak mau berdebat denganku. Addini menatap layar ponselnya, kemudian ia menoleh kearahku.
            “In, bagaimana ya agar aku bisa dekat dengan Nashki?” Addini masih memikirkan taruhannya tadi.
            “Ya kamu deketin dulu lah dianya,” aku menjawab sebisaku.
            “Tapi aku tidak berani,” Addini menatapku.
            “Ya sudah, kalau begitu menyerah saja, terus belikan temanmu itu novel,” aku tidak tertarik sama sekali dengan topik yang dibicarakan Addini.
            “Ih kamu nyebelin banget sih In, orang lagi serius juga,” Addini kesal dan meninggalkanku.
            Pagi kembali menjelang, aku tak pernah bosan menjalankan rutinitasku satu ini, sekolah. Hari ini aku dan Addini datang pagi, kami duduk dibangku dan saling diam. Bukan berarti kami sedang bermusuhan, tapi kami sedang larut dengan masalah kami masing-masing.
            “Bagaimana kucingnya?”
            Aku terkejut ada yang menyapaku, aku menoleh kearah suara itu. Ternyata orang itu tak lain adalah Nashki.
            “Ada dirumahku, sudah aku mandikan dan aku beri makan,” jawabku singkat, karena aku masih tidak yakin dia akan mendengarkan ceritaku.
            “Baguslah kalau begitu,” dia kemudian melangkah pergi keluar kelas menuju bangku diujung lorong.
            Aku menatapnya tak percaya. Apalagi Addini, dia benar-benar heran melihat Nashki menyapaku.
            “Kok dia tahu kamu punya anak kucing?” Addini menatapku curiga.
            “Yaiyalah, kan Nashki yang menurunkan kucing itu dari pohon,” aku berbalik menatap Addini dengan tersenyum.
            “Kok kamu tidak cerita padaku In, kamu kok jahat,” lagi lagi Addini kesal padaku.
            “Aku mau cerita ke kamu, tapi kan kemarin kamu marah, jadi aku batalkan deh ceritanya,” Aku membela diri.
            Addini tidak menjawab kata-kataku, dia hanya diam. Aku menatap Addini, aku sadar dari kemarin aku selalu membuat Addini kesal, aku ingin membuatnya senang walau hanya sekali. Mungkin aku ini memang teman yang menyebalkan, tapi setidaknya aku masih sayang pada teman-temanku.
            Tak terasa waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, bel tanda sekolah telah usai pun berbunyi, semua anak berhamburan keluar sekolah menuju rumahnya masing-masing. Aku melihat Nashki mengambil sepedanya yang terparkir, aku berjalan mendekatinya.
            “Hai Nashki,” aku menyapanya.
            Nashki menoleh kearahku.
            “Ada apa In?” tanyanya.
            Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
            “Kamu tahu namaku?” aku balik bertanya padanya.
            “Kita kan satu kelas,” jawabnya singkat.
            Aku menganggukkan kepala, memang masuk akal sih.
            “Ki, aku mau minta tolong,” aku meraih tangan Nashki dan memberinya buku matematika Addini, kemudian aku berlari meninggalkan Nashki.
            “Tolong berikan buku itu pada Addini ya!” aku berteriak pada Nashki dengan tetap berlari meninggalkannya.
            Nashki heran melihat tingkahku, ia menatap buku yang ada ditangannya. Ia mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Tapi ia tetap memenuhi permintaanku, ia mencari Addini untuk memberikan buku matematika itu. Akhirnya ia melihat Addini.
            “Hai, kamu Addini kan?” Nashki menyapa Addini.
            “Iya ada apa?” Addini menoleh dan terkejut melihat ternyata Nashki yang menyapanya.
            Nashki menyerahkan buku itu dan langsung pergi meninggalkan Addini dan teman-temannya. Addini menyadari sesuatu, dan ia langsung melompat bahagia.
            “Nashki menyapaku, yeay aku menang, haha,” Addini menatap teman-temannya yang masih bengong karena tidak percaya.
            Tapi hal tersebut memang terjadi, dan janji harus ditepati. Akhirnya Addini mendapatkan novel yang ia inginkan. Addini tahu kalau aku yang telah membuat Nashki mengembalikan buku matematika itu padanya, ia sangat senang sekali.
            Sementara aku berjalan sendirian menuju kerumah.
            “Hei bukunya sudah ku kembalikan,”
            Aku menoleh dan melihat Nashki sudah berada dibelakangku.
            “Terimakasih,” aku tersenyum kearahnya.
            “Ayo naik,” aku tidak percaya ia mengajakku naik sepeda dengannya.
            Aku hanya diam mendengar kata-katanya, aku mencoba meyakinkan diriku kalau aku tidak salah dengar.
            “Yasudah, kalau tidak mau naik, aku pulang duluan,” Nashki mengayuh sepedanya.
            “Eh aku ikut,” aku tersadar dan langsung menarik sepeda Nashki.
            Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya mengajak Nashki berbicara. Aku senang walaupun dia kadang menjawabnya dengan singkat.
            “Kamu tahu novel terbaru yang banyak dibicarakan anak-anak di kelas?” aku bertanya pada Nashki.
            “Ya aku tahu,” jawab Nashki singkat.
            “Apakah novel itu benar-benar bagus, katanya harganya sangat mahal?” aku penasaran dengan novel tersebut.
            Nashki tidak langsung menjawabku karena kami sudah sampai didepan rumahku.
            “Oke terimakasih atas tumpangannya,” aku tersenyum pada Nashki dan melangkah menuju rumah.
            “Inef, kalau kamu penasaran dengan novel itu, besok pagi ayo kita baca novelnya bersama, aku sudah beli novel itu tapi aku belum membacanya,” Nashki mengajakku membaca bersamanya, tentu saja aku terkejut.
            Aku mengangguk dan tersenyum. Nashki membalas senyumku sebelum ia pergi. Aku menatap Nashki sampai ia hilang diujung persimpangan jalan. Aku senang ia mau mengajakku membaca bersama dengannya. Sejak hari itu, setiap pagi aku selalu membaca buku bersama Nashki, pulang bersama Nashki, dan terkadang ia mengajariku tugas yang tidak aku mengerti.

Kini bangku diujung lorong itu tak pernah sendiri lagi, ada aku dan dia disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...