Tik!
tok! tik! tok!
Aku
memandang jam dinding dikamarku yang tak henti-hentinya menghitung waktu. Ku
tatap lekat jarum yang bergerak memutar, aku terus menghitungnya hingga
perlahan aku mulai memejamkan mataku dan larut mengikuti suara dentangan jam yang
terdengar semakin menjauh.
Aku
menatap sekitarku, semuanya gelap seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku
terpaku menatap kedepan, dihadapanku terdapat sebuah lorong yang gelap, namun
samar-samar diujung lorong terlihat ada sesuatu duduk menatapku. Aku sangat
takut, suara nafasku terdengar jelas memecah kesunyian. Aku tidak mau
meneruskan langkahku menuju lorong itu, aku berbalik dan mencoba untuk berlari,
namun aku terhenti karena seseorang memegang tanganku. Tangannya terasa amat
dingin dan basah, aku tidak berani menoleh kebelakang. Samar-samar aku merasa
ia mendekatkan wajahnya kearahku dan aku mendengar ia menyebut namaku.
“Inef...”
“Tidaaaaaaaaak!”
Aku berteriak sekeras mungkin.
“Inef
bangun woi! Kamu kenapa sih? Bikin orang kaget aja” Addini membangunkanku.
“Hah
Dini? Ternyata aku hanya mimpi,” aku menghela nafas lega.
“Kamu
mimpi apa?” tanya Addini penasaran.
“Aku
mimpi melihat hantu, dia memegang tanganku, tangannya basah dan dingin,
kemudian dia memanggil namaku, Inef...” Aku menceritakan mimpiku tadi.
“Hahaha, itu akibat tidur tidak
baca do’a dulu, yang megang kamu itu aku tadi, aku panggil nama kamu buat
bangunin kamu,” Addini tertawa terbahak-bahak.
Aku menatap Addini dengan raut
wajah kesal. Ku lihat tangan Addini memegang ice cream, pantas saja tangannya
dingin dan basah. Aku menghela nafas sekali lagi, kesal namun lega.
Aku
dan Addini bersiap-siap pergi ke sekolah. Kami berjalan sambil bercanda.
Sesampainya di sekolah kami langsung berlari menuju kelas. Addini berlari
mendahuluiku dan meninggalkanku. Aku mengejar Addini, namun langkahku terhenti
didepan lorong kelasku.
“Inikan
lorong didalam mimpiku semalam, kok rasanya seperti de javu,” aku kembali teringat mimpiku semalam.
Aku
menatap ujung lorong itu, terlihat seorang anak lelaki duduk di sebuah bangku
sambil membaca buku. Aku memperhatikannya dengan seksama, dia terlihat biasa
saja, namun aura yang terpancar darinya sangat seram. Dia anak satu kelasku,
tapi namanya pun aku tidak tahu, dia seperti hantu yang ikut belajar di kelas,
semua anak dikelasku seperti tak pernah menganggapnya ada. Tiba-tiba saja anak
itu menatapku, aku terkejut dan langsung berlari masuk ke kelas.
“In
kamu lama banget sih masuk kelasnya, ngapain diluar?” tanya Addini.
“Aku
tadi bertemu makhluk menyeramkan,” aku berkata sambil mengeluarkan buku-buku
pelajaranku.
“Bodo
amat In,” Addini sudah biasa mendengarkan cerita-cerita imajinasiku, sampai
terkadang dia kesal mendengarnya.
Aku
tertawa melihat reaksi Addini. Temanku satu ini sangat baik dan pintar, punya
banyak teman dan disukai banyak orang. Cantik dan anggun, itu kata yang pas
untuknya. Berbeda denganku yang punya teman banyak hanya karena mereka berteman
dengan Addini, jika tidak ada Addini mereka tidak akan mau berteman denganku.
Aku selalu sibuk dengan duniaku sendiri, dengan dunia-dunia dalam imajinasiku.
Saat
jam istirahat tiba, aku dan Addini pergi ke kantin. Aku lihat hari ini ada yang
berbeda dengan Addini, ia terlihat bahagia.
“Ada
yang aneh nih hari ini, kamu kenapa sih?” tanyaku pada Addini
“Kita
lagi taruhan nih, haha” jawab Addini.
“Taruhan
apaan?” aku mulai penasaran.
“Sekarang
lagi ada novel baru, kami pengen banget beli novel itu, tapi mahal, jadi kami
buat kesepakatan, siapa yang duluan disapa oleh Nashki dia akan dibelikan novel
itu dan tidak bayar, haha,” Addini menceritakan kekonyolannya bersama
teman-temannya.
“Nashki
itu siapa?” Aku belum pernah mendengar nama itu.
“Itu
loh, anak misterius di kelas kita, yang tidak pernah bicara, setiap hari selalu
membaca buku,” Addini menjelaskan padaku.
“Oh
anak itu namanya Nashki, baru tahu aku,” Akhirnya aku tahu kalau namanya
Nashki.
Padahal
setiap hari guru selalu mengabsen kami, tapi entah kenapa aku tidak tahu kalau
namanya adalah Nashki. Sebenarnya mengetahui namanya tidaklah penting untukku,
tapi entah kenapa aku mulai penasaran. Sifat Nashki cocok dengan tokoh
imajinasiku, aku ingin tahu tentangnya lebih jauh lagi.
Aku
tidak tertarik sama sekali dengan permainan taruhan mereka. Addini pergi
bersama teman-temannya, aku memilih untuk pulang saja melanjutkan naskah
ceritaku yang belum selesai kutulis. Di perjalanan pulang aku mendengar suara
seekor anak kucing, aku mencarinya kemana-mana tapi tidak kutemukan.
“Dimana
anak kucingnya? Kok tidak ada, padahal suaranya sangat dekat,” aku bergumam
sendiri, kemudian aku menengok ke atas pohon.
“Wah
kok anak kucingnya bisa ada diatas pohon?” aku melihat anak kucing itu berada
diatas pohon dengan ketakutan.
Aku
ingin menyelamatkan kucing kecil itu, tapi aku tidak bisa memanjat pohon. Aku
berpikir keras bagaimana cara menyelamatkannya, aku mencoba memanjat pohon itu,
tapi na’as aku malah terjatuh, tangan kanan dan kaki kiriku terluka.
“Aduh,
aku memang payah, hanya memanjat pohon saja aku tidak bisa,” aku menyalahkan
diriku sendiri.
Tiba-tiba
ada seseorang melangkahkan kaki didekatku, dia meletakkan tasnya dan memanjat
pohon itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata anak itu adalah Nashki. Aku bengong
menatapnya.
“Hei
kau tidak mau membantuku menurunkan kucing ini?” dia mengulurkan kucing kecil
itu kepadaku dari atas pohon.
Kata-katanya
membuyarkan keherananku. Aku mengambil kucing itu dari tangannya. Aku memeluk
kucing itu dan mengelus tubuhnya.
“Terimakasih
karena sudah membantuku menurunkan kucing ini?” aku tersenyum kearah Nashki.
Nashki
hanya menatapku dengan tanpa ekspresi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia
pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi dan mengangkat bahu
tanda tak mengerti dengan sikap Nashki.
“Dasar
orang aneh, setidaknya tanya kek bagaimana keadaanku, dasar tidak peka,” aku
menggerutu sendiri karena kesal pada Nashki.
“Eh
tapi tadi dia berbicara padaku, kalau aku ikut taruhan aku sudah menang, tapi
sudahlah itu bukan hal yang penting,” aku melanjutkan perjalananku untuk pulang
kerumah.
Sesampinya
dirumah aku langsung mengobati lukaku dan memandikan anak kucing itu. Anak
kucing itu sangat lucu, aku suka sekali.
“Anak
kucing dari mana In?” tanya Addini.
“Tadi
aku lihat anak kucing ini diatas pohon, dia tidak bisa turun, jadi aku tolongin
deh, dan aku bawa pulang,” aku memeluk kucing kecil itu.
“Aku
tidak yakin kamu yang menyelamatkan anak kucing itu, kamu kan tidak bisa
memanjat pohon,” Addini tidak percaya padaku.
“Iya
sih, bukan aku yang menurunkan kucing ini dari atas pohon, tapi kan setidaknya
aku sudah membawanya pulang dan merawatnya, berarti aku termasuk orang yang
menyelamatkan dia dong,” aku tidak mau kalah jika berdebat dengan Addini.
Addini
hanya mengangguk-anggukkan kepala, bukan berarti setuju, tapi dia hanya tidak
mau berdebat denganku. Addini menatap layar ponselnya, kemudian ia menoleh
kearahku.
“In,
bagaimana ya agar aku bisa dekat dengan Nashki?” Addini masih memikirkan
taruhannya tadi.
“Ya
kamu deketin dulu lah dianya,” aku menjawab sebisaku.
“Tapi
aku tidak berani,” Addini menatapku.
“Ya
sudah, kalau begitu menyerah saja, terus belikan temanmu itu novel,” aku tidak
tertarik sama sekali dengan topik yang dibicarakan Addini.
“Ih
kamu nyebelin banget sih In, orang lagi serius juga,” Addini kesal dan
meninggalkanku.
Pagi
kembali menjelang, aku tak pernah bosan menjalankan rutinitasku satu ini,
sekolah. Hari ini aku dan Addini datang pagi, kami duduk dibangku dan saling
diam. Bukan berarti kami sedang bermusuhan, tapi kami sedang larut dengan
masalah kami masing-masing.
“Bagaimana
kucingnya?”
Aku
terkejut ada yang menyapaku, aku menoleh kearah suara itu. Ternyata orang itu
tak lain adalah Nashki.
“Ada
dirumahku, sudah aku mandikan dan aku beri makan,” jawabku singkat, karena aku
masih tidak yakin dia akan mendengarkan ceritaku.
“Baguslah
kalau begitu,” dia kemudian melangkah pergi keluar kelas menuju bangku diujung
lorong.
Aku
menatapnya tak percaya. Apalagi Addini, dia benar-benar heran melihat Nashki
menyapaku.
“Kok
dia tahu kamu punya anak kucing?” Addini menatapku curiga.
“Yaiyalah,
kan Nashki yang menurunkan kucing itu dari pohon,” aku berbalik menatap Addini
dengan tersenyum.
“Kok
kamu tidak cerita padaku In, kamu kok jahat,” lagi lagi Addini kesal padaku.
“Aku
mau cerita ke kamu, tapi kan kemarin kamu marah, jadi aku batalkan deh
ceritanya,” Aku membela diri.
Addini
tidak menjawab kata-kataku, dia hanya diam. Aku menatap Addini, aku sadar dari
kemarin aku selalu membuat Addini kesal, aku ingin membuatnya senang walau
hanya sekali. Mungkin aku ini memang teman yang menyebalkan, tapi setidaknya
aku masih sayang pada teman-temanku.
Tak
terasa waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, bel tanda sekolah telah usai
pun berbunyi, semua anak berhamburan keluar sekolah menuju rumahnya
masing-masing. Aku melihat Nashki mengambil sepedanya yang terparkir, aku
berjalan mendekatinya.
“Hai
Nashki,” aku menyapanya.
Nashki
menoleh kearahku.
“Ada
apa In?” tanyanya.
Aku
terkejut mendengar pertanyaannya.
“Kamu
tahu namaku?” aku balik bertanya padanya.
“Kita
kan satu kelas,” jawabnya singkat.
Aku
menganggukkan kepala, memang masuk akal sih.
“Ki,
aku mau minta tolong,” aku meraih tangan Nashki dan memberinya buku matematika
Addini, kemudian aku berlari meninggalkan Nashki.
“Tolong
berikan buku itu pada Addini ya!” aku berteriak pada Nashki dengan tetap
berlari meninggalkannya.
Nashki
heran melihat tingkahku, ia menatap buku yang ada ditangannya. Ia mengangkat
bahu dan menggelengkan kepala. Tapi ia tetap memenuhi permintaanku, ia mencari
Addini untuk memberikan buku matematika itu. Akhirnya ia melihat Addini.
“Hai,
kamu Addini kan?” Nashki menyapa Addini.
“Iya
ada apa?” Addini menoleh dan terkejut melihat ternyata Nashki yang menyapanya.
Nashki
menyerahkan buku itu dan langsung pergi meninggalkan Addini dan teman-temannya.
Addini menyadari sesuatu, dan ia langsung melompat bahagia.
“Nashki
menyapaku, yeay aku menang, haha,” Addini menatap teman-temannya yang masih
bengong karena tidak percaya.
Tapi
hal tersebut memang terjadi, dan janji harus ditepati. Akhirnya Addini
mendapatkan novel yang ia inginkan. Addini tahu kalau aku yang telah membuat
Nashki mengembalikan buku matematika itu padanya, ia sangat senang sekali.
Sementara
aku berjalan sendirian menuju kerumah.
“Hei
bukunya sudah ku kembalikan,”
Aku
menoleh dan melihat Nashki sudah berada dibelakangku.
“Terimakasih,”
aku tersenyum kearahnya.
“Ayo
naik,” aku tidak percaya ia mengajakku naik sepeda dengannya.
Aku
hanya diam mendengar kata-katanya, aku mencoba meyakinkan diriku kalau aku
tidak salah dengar.
“Yasudah,
kalau tidak mau naik, aku pulang duluan,” Nashki mengayuh sepedanya.
“Eh
aku ikut,” aku tersadar dan langsung menarik sepeda Nashki.
Sepanjang
perjalanan aku tak henti-hentinya mengajak Nashki berbicara. Aku senang
walaupun dia kadang menjawabnya dengan singkat.
“Kamu
tahu novel terbaru yang banyak dibicarakan anak-anak di kelas?” aku bertanya
pada Nashki.
“Ya
aku tahu,” jawab Nashki singkat.
“Apakah
novel itu benar-benar bagus, katanya harganya sangat mahal?” aku penasaran
dengan novel tersebut.
Nashki
tidak langsung menjawabku karena kami sudah sampai didepan rumahku.
“Oke
terimakasih atas tumpangannya,” aku tersenyum pada Nashki dan melangkah menuju
rumah.
“Inef,
kalau kamu penasaran dengan novel itu, besok pagi ayo kita baca novelnya
bersama, aku sudah beli novel itu tapi aku belum membacanya,” Nashki mengajakku
membaca bersamanya, tentu saja aku terkejut.
Aku
mengangguk dan tersenyum. Nashki membalas senyumku sebelum ia pergi. Aku
menatap Nashki sampai ia hilang diujung persimpangan jalan. Aku senang ia mau
mengajakku membaca bersama dengannya. Sejak hari itu, setiap pagi aku selalu
membaca buku bersama Nashki, pulang bersama Nashki, dan terkadang ia
mengajariku tugas yang tidak aku mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar