Senin, 30 April 2018

Memory Dalam Kotak Musik



Senja menyapaku dengan kehangatan yang membawa kadamaian, angin membelai rambutku dengan sejuta kasih sayang, namun gerimis yang datang kembali membuka lukaku yang belum bisa terobati. Rasa ini yang takkan pernah terungkap, rasa ini yang takkan pernah terbalaskan. Rasa ini yang hanya bisa kusimpan dalam hati, kucurahkan dalam do’a, dan ku sembunyikan dalam senyuman.
            Dia, sosok yang membuatku mampu merasakan betapa berharganya hidup ini, mampu membuatku mengerti apa arti dari kebahagiaan, dan membuatku mengerti apa makna dari kata rindu yang terpendam. Mungkin dia tak pernah tahu rasanya menjadi diriku, rasanya mencintainya dalam diam. Dia takkan pernah tahu, bagaimana aku mencoba tersenyum dalam sejuta luka.
            Aku tak bisa menyalahkan dia ataupun orang lain, karena memang rasa ini yang salah, bukan dia, mereka, ataupun aku. Rasa ini, ya, rasa ini mulai tumbuh ketika aku pertama kali melihat sosok dirinya, sosok yang tampan mungkin tak menjadi penilaian utama dalam hidupku, tapi kebaikan hatinya, kelembutan sifatnya membuatku luluh dan jatuh cinta padanya. Rasa ini bermula ketika aku pertama kali mengenalnya di persimpangan jalan itu, persimpangan jalan yang kini menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
            “Sepedaaaaa, kamu kenapa sih? Perasaan kemarin rantaimu baik-baik saja deh,” aku memeriksa rantai sepedaku yang terlepas.
            Aku mencoba memperbaiki rantai sepedaku, namun karena gugup dan cepat-cepat ingin sampai ke kampus, aku tidak berhasil memperbaikinya.
            “Sepedanya kenapa mbak?” tanya seseorang dari arah belakangku.
            Aku menoleh kearahnya, aku melihat seorang pemuda berdiri dibelakangku, ia memakai baju lapang Fakultas Kedokteran Hewan.
            Oh ternyata satu kampus denganku, tapi beda jurusan
            “Rantai sepeda saya lepas kak, tapi saya tidak bisa memperbaikinya,” aku menjawab pertanyaan kakak itu dengan raut wajah bingung dan gugup karena takut terlambat sampai ke kelas.
            “Coba saya perbaiki mbak,” ia jongkok disampingku dan mulai memperbaiki rantai sepedaku.
            Tak lama kemudian dia berdiri dan tersenyum.
            “Beres,” ia berkata padaku sambil mengacungkan jempolnya.
            “Wah kakak hebat,” aku tertawa melihatnya.
Lucu, baik, itu kesan pertamaku bertemu dengannya.
“Oh ya, saya Arandra,” ia mengulurkan tangannya padaku dan memperkenalkan dirinya.
“Saya Aprilia,” jawabku.
“Oh ya, mbak mau kemana? Sudah jam 07.55 WIB,” perkataanya menyadarkanku pada tujuan utamaku.
“Astaga, saya bisa telat ini, saya mau ke Fakultas Perikanan, haduh gimana ini,” aku gugup dan langsung mengambil sepedaku.
“Mbak yakin bisa sampai kesana? Lima menit lagi lo,” ia seolah-olah mengejekku.
“Saya tidak tahu kalau belum mencoba kak, oh ya terimakasih kak sudah membantu memperbaiki sepeda saya,” aku berkata dan langsung beranjak pergi. Tapi ia memegangi sepedaku.
“Mbak, saya boleh ikut mbak naik sepeda?” pertanyaannya membuatku bingung.
“Maksudnya?”
“Saya juga masuk jam 08.00 WIB, saya takut telat juga, jadi bolehkan saya ikut mbak? Nanti saya saja yang bawa sepedanya, saya jago loh mbak naik sepeda,” akhirnya aku pun mengizinkannya membawa sepedaku.
Fakultasnya dan Fakultasku bersebelahan, berkat bantuannya aku tidak telat sampai ke kelas. Wajah itu, nama itu, senyum itu mulai menghantui setiap malamku, hadir di setiap hariku. Awal yang indah, berharap aku juga bisa mendapatkan akhir yang indah.
Pertemenan ini terus berlanjut. Sejak awal sudah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku, tapi aku masih menyimpannya, berharap dia juga memiliki rasa yang sama. Berharap? Ya hanya bisa berharap, akankah terwujud? Entahlah, aku tidak bisa menemukan jawaban itu.
Malam tahun baru, semua orang merayakannya dengan hura-hura, pesta memanggang, bermain kembang api, atau hanya sekedar menikmati suara-suara petasan. Aku tidak termasuk kedalam semua kategori itu, yang kulakukan hanyalah tidur di atas kasurku dengan nyenyak.
“Lia bangun, Lia banguuuuuun!”
Suara Kiky membuyarkan mimpi indahku, ia menarikku keluar rumah. Aku terkejut, terhuyung mengikuti langkah Kiky. Aku marah sekali, kali ini Kiky benar-benar keterlaluan.
“Ki apa-apaan sih, kamu tuh ya nggak bisa lihat orang senang, mengganggu orang tidur saja, gara-gara kamu mimpi indahku jadi berantakan!” aku memarahi Kiky.
“Mimpi indah apa?”
“Mimpi indah bertemu dengan...” kata-kataku terhenti ketika menoleh kearah orang yang bertanya padaku tadi, aku menatapnya lama, tak percaya ia ada disini, apa aku masih berada dalam mimpi?
“Kak Arand? Kok disini kak?” tanyaku masih diselimuti kebingungan.
“Iya, kakak tahu kamu nggak mungkin pergi keluar untuk merayakan tahun baru, jadi kakak kesini saja, bosan di kontrakan sendirian,” Ia tersenyum.
“Oh ya Ki, ini ada ayam, jagung, arang, bumbu panggang, dan perlengkapan lainnya, ajak teman kontrakanmu keluar, kita buat acara manggang-manggang,” Kak Arand memberikan dua kantung besar perlengkapan memanggang ke Kiky.
“Kok kakak nggak kasih tahu saya sih mau kesini?”
“Emang harus ya? Kan kakak sudah bilang ke Kiky,” jawabnya dengan tersenyum dan melangkahkan kaki ke arah teman-temanku yang sibuk mempersiapkan alat memanggang.
Apakah ini yang dinamakan ‘mimpi jadi kenyataan’
Aku tersenyum bahagia, malam tahun baru ini kulalui bersama teman-temanku dan kak Arandra. Terimakasih tuhan sudah mengirimkan kak Arandra padaku. Terimakasih sudah membuatku mengerti bahwa kebersamaan itu adalah hal yang selalu kurindukan.
Tahun baru, awal yang baru, kisah yang baru. Kisah yang baru? Ya kisah baru dalam hidupku, dengan tokoh yang sama, cinta yang sama, namun dengan rasa yang berbeda.
Pagi ini berharap aku bisa bertemu dengannya, menyapanya, dan melihat senyumnya. Namun harapanku tak terwujudkan, mungkin tuhan ingin memberikan kisah yang lebih baik lagi untukku.  Aku hanya bisa berdo’a, semoga ia bahagia dan tersenyum walau aku tak melihatnya.
“Liaaaa, gila, ini kabar gila,” Kiky berlari kearahku dengan tergea-gesa.
“Gila kenapa Ki?” tanyaku tak mengerti.
“Kak Arand Li, kak Arand,” Kiky berkata terbata-bata karena kelelahan berlari.
“Iya kak Arand kenapa?” jujur aku mulai gugup mendengar nama itu disebut, jantugku mulai berdegup kencang.
“Kak Arand hari ini bertunangan, tunangannya kak Sheila, Mapres Fakultas kita yang cantik itu.
Aku langsung terkejut, terpaku mendengar kata-kata Kiky.
Apa ini? Apa ini bagian dari mimpi burukku?
Aku diam, tidak tahu harus berbuat apa? Haruskah aku sedih karena rasaku tak terbalas? Ataukah aku harus bahagia karena ia telah menemukan orang yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya.
“Li, aku kira dia suka kamu, aku kira kak Arand pacar kamu, ternyata bukan  ya?” pertanyaan Kiky membuyarkan lamunanku.
“Hahaha, kamu ada-ada saja Ki, aku kan tidak mau pacaran, lagian aku dan kak Arand hanya berteman kok, syukur deh kalau kak Arand bertunangan dengan kak Sheila, dia cantik, pintar, baik pula, pasangan yang serasi,” aku mencoba menerima kenyataan, jujur aku sakit hati, tapi aku lega, setidaknya kak Arand bersama dengan orang yang ku kenal baik dan kak Sheila memang pantas bersanding dengan Kak Arand.
Benarkah aku bisa menerima kenyataan ini?
Aku mencoba, ya aku terus mencoba menerimanya, tapi tidak bisa. Lambat laun aku mulai menjauhi kak Arand, aku hanya berani menatapnya dari jauh. Permasalahan kecil pun ku jadikan alasan untuk marah padanya dan tidak mau lagi bertemu dengannya. Jujur aku memang egois, tapi aku merasa inilah jalan terbaik. Setiap kak Arand menatapku, aku pasti langsung pergi. Rasanya ingin menangis melihatnya, melihat tatapannya yang merasa bersalah padaku, tapi aku tidak peduli, mencoba untuk tidak peduli tentangnya, aku tidak mau jatuh terlalu dalam, tidak mau terus larut dalam rasa sakit ini.
“Lia, ada kak Arand diluar,” Kiky membangunkan aku yang pura-pura tidur didalam kamarku.
Aku tidak menjawab, aku berharap Kiky pergi, aku tidak mau bertemu dengan kak Arand. Apa maksudnya ini? Dia sudah bertunangan, kenapa masih mau menemuiku. Aku mulai menciptakan tokoh jahat dalam diri kak Arand, aku mulai mencoba menjadikannya tokoh yang tidak pantas aku sebut “pangeran”.
Kiky pergi meninggalkan kamarku, namun tak lama kemudian ia kembali lagi. Ia meletakkan sesuatu diatas meja belajarku. Aku penasaran, setelah Kiky pergi aku melihat ada sebuah kotak diatas mejaku. Aku meraihnya, membuka kotak itu. Dentingan indah terdengar ketika kotak itu terbuka, kotak musik, ya kotak musik yang cantik. Nada yang indah itu kian menyayat hatiku, aku menutupnya dan menangis. Apa ini yang ia mau? Menyiksaku dengan segala kebaikannya, menyiksaku dengan sejuta harapan yang ia berikan. Aku melempar kotak musik itu kearah pintu, aku menangis meluapkan segala kekesalanku. Aku membawa kesedihanku dalam tidurku, berharap ketika bangun semua kembali normal tanpa hadirnya sosok yang selalu terkenang dalam benakku.
Aku berjalan melewati trotoar, berjalan dibawah payung yang melindungiku dari derasnya hujan. Aku suka hujan, hujan yang mampu menyembunyikan tangisku, hujan yang seakan-akan mengerti kesedihanku. Aku terdiam menikamati suara rintikan itu, mencoba meresapi setiap makna yang disampaikan olehnya melalui sejuta luka.
Aku tersentak ketika sebuah helm terpental kearahku, seolah mencoba menyadarkanku dari kesedihan ini. Entah apa yang terjadi, aku melihat dua orang tergeletak disana dengan bersimbah darah, mobil berderet saling bertabrakan.
“kecelakaan?” aku terkejut, aku mendengar teriakan pilu dan menyayat hati disana, aku mundur selangkah, rasa takut ini mulai menyelimutiku.
Orang-orang mulai berhamburan, mobil ambulans dan polisi mulai berdatangan. Aku masih tidak bergerak dari tempatku, aku masih terpaku dengan kejadian yang tiba-tiba ini.
Ada apa ini? Kenapa harus terjadi didepan mataku
Aku tersadar dan mencoba pergi dari sana, aku tidak mau lagi melihat kesedihan, sudah cukup rasa ini yang membunuhku. Tapi, Tuhan bekehendak lain, entah ini takdir, atau... ah entahlah, aku tidak bisa berkata-kata lagi, ketika aku melihat sosok itu terbaring lemah dan bersimbah darah.
“Kak Sheila?” jantungku kembali berdetak kencang.
Aku mengejar sosok itu, memandangnya tak percaya. Aku melihat sosok lain di sampingnya. Akal sehatku mulai goyah, kesadaranku mulai menghilang, dan.. entah aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu, yang kuingat aku tebangun dirumah sakit, disampingku kulihat ada Kiky yang menangis.
“Ki kenapa menangis? Apa yang terjadi?” tanyaku pada Kiky.
“Kamu tadi pingsan Li, aku takut,” Kiky masih menangis.
“Aku tidak apa-apa Ki, lihat aku, aku sudah bangun, ya kan?”
Kiky menatapku sendu, ia memelukku erat, menangis dipelukanku.
“Kenapa orang baik selalu cepat pergi ya? Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya, padahal baru kemarin dia datang ke kontrakan untuk  menemuimu, tapi sekarang, dia... dia sudah pergi jauh,” Kiky menangis tersedu-sedu.
Aku menatapnya nanar, siapa yang kemarin menemuiku? Aku masih sulit untuk berfikir. Aku tidak percaya, tidak percaya, tidak percayaaa dengan semua ini. Apa ini lelucon?
Aku menggoncang tubuh Kiky
“Apa maksudmu Ki? Siapa yang pergi?” aku berharap jawaban yang Kiky berikan tidak seperti yang aku fikirkan.
“Kak Arand, Kak Arand dan kak Sheila sudah tidak bersama kita lagi Li,”
Jawaban itu, jawaban yang tidak kuinginkan. Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Kiky memelukku, kami saling bersandar, mencoba mengurangi luka ini.
Ku tatap tanah merah itu, tanah yang kini menjadi rumah mereka.
“Aku iri dengan kalian, aku iri dengan kak Sheila,” aku mencurahkan sejuta lukaku disana.
“Kak maafkan aku, maafkan aku, aku tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir aku mendengar kakak datang untuk menemuiku, maafkan keegoisan rasa ini, maafkan aku,”
Aku terpaku menatap foto kedua orang itu, mungkin ini cara Tuhan memberikan kebahagiaan kepada mereka, mungkin Tuhan ingin mereka bersama di surga, mungkin Tuhan ingin tak ada yang mengganggu mereka. Ya tak akan ada lagi orang sepertiku di surga sana, seandainya kak Arand disini, ia akan tetap merasa bersalah padaku. Walau ia telah bersama kak Sheila, ia tak akan bahagia karena ada bayang-bayangku yang akan terus memburunya.
Biar, biarlah aku saja yang merasakan luka ini, biar aku saja yang membawa luka ini hingga nanti. Aku menatap kotak musik itu, kotak musik yang telah ku hancurkan. Penyesalan mulai menyelimuti benakku. Aku mencoba memperbaiki kotak musik itu, namun sesuatu yang hancur tak akan mungkin bisa kembali seperti semula, ya seperti rasa ini yang telah terkoyak oleh sejuta luka, walau bisa diobati namun akan tetap meninggalkan bekas.
Kak maafkan aku karena telah menjadikan kalian tokoh yang jahat dalam hidupku, maafkan aku karena egois dengan rasa ini, maafkan aku... maafkan aku yang tak bisa menerima kenyataan ini, dan maafkan aku karena sampai kapanpun aku tidak bisa melupakanmu, mungkin kenangan ini akan menyakitkan bila kuingat, tapi aku tidak pernah menyesal pernah mencintai kakak, karena berkat kakak aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana rasanya cemburu, bagaimana rasanya terluka, dan bagaimana sulitnya berjuang untuk menerima kenyataan. Kotak musik ini menjadi saksi kisah kita yang tak mungkin berlanjut lagi. Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya kak.
            Kini aku mengerti bahwa cinta tak selamanya bisa dimiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...