Senja menyapaku
dengan kehangatan yang membawa kadamaian, angin membelai rambutku dengan sejuta
kasih sayang, namun gerimis yang datang kembali membuka lukaku yang belum bisa
terobati. Rasa ini yang takkan pernah terungkap, rasa ini yang takkan pernah terbalaskan.
Rasa ini yang hanya bisa kusimpan dalam hati, kucurahkan dalam do’a, dan ku
sembunyikan dalam senyuman.
Dia,
sosok yang membuatku mampu merasakan betapa berharganya hidup ini, mampu
membuatku mengerti apa arti dari kebahagiaan, dan membuatku mengerti apa makna
dari kata rindu yang terpendam. Mungkin dia tak pernah tahu rasanya menjadi
diriku, rasanya mencintainya dalam diam. Dia takkan pernah tahu, bagaimana aku
mencoba tersenyum dalam sejuta luka.
Aku
tak bisa menyalahkan dia ataupun orang lain, karena memang rasa ini yang salah,
bukan dia, mereka, ataupun aku. Rasa ini, ya, rasa ini mulai tumbuh ketika aku
pertama kali melihat sosok dirinya, sosok yang tampan mungkin tak menjadi penilaian
utama dalam hidupku, tapi kebaikan hatinya, kelembutan sifatnya membuatku luluh
dan jatuh cinta padanya. Rasa ini bermula ketika aku pertama kali mengenalnya
di persimpangan jalan itu, persimpangan jalan yang kini menjadi kenangan
terindah dalam hidupku.
“Sepedaaaaa,
kamu kenapa sih? Perasaan kemarin rantaimu baik-baik saja deh,” aku memeriksa
rantai sepedaku yang terlepas.
Aku
mencoba memperbaiki rantai sepedaku, namun karena gugup dan cepat-cepat ingin
sampai ke kampus, aku tidak berhasil memperbaikinya.
“Sepedanya
kenapa mbak?” tanya seseorang dari arah belakangku.
Aku
menoleh kearahnya, aku melihat seorang pemuda berdiri dibelakangku, ia memakai
baju lapang Fakultas Kedokteran Hewan.
Oh ternyata satu kampus denganku, tapi beda
jurusan
“Rantai
sepeda saya lepas kak, tapi saya tidak bisa memperbaikinya,” aku menjawab
pertanyaan kakak itu dengan raut wajah bingung dan gugup karena takut terlambat
sampai ke kelas.
“Coba
saya perbaiki mbak,” ia jongkok disampingku dan mulai memperbaiki rantai
sepedaku.
Tak
lama kemudian dia berdiri dan tersenyum.
“Beres,”
ia berkata padaku sambil mengacungkan jempolnya.
“Wah
kakak hebat,” aku tertawa melihatnya.
Lucu, baik, itu
kesan pertamaku bertemu dengannya.
“Oh ya, saya
Arandra,” ia mengulurkan tangannya padaku dan memperkenalkan dirinya.
“Saya Aprilia,”
jawabku.
“Oh ya, mbak mau
kemana? Sudah jam 07.55 WIB,” perkataanya menyadarkanku pada tujuan utamaku.
“Astaga, saya
bisa telat ini, saya mau ke Fakultas Perikanan, haduh gimana ini,” aku gugup
dan langsung mengambil sepedaku.
“Mbak yakin bisa
sampai kesana? Lima menit lagi lo,” ia seolah-olah mengejekku.
“Saya tidak tahu
kalau belum mencoba kak, oh ya terimakasih kak sudah membantu memperbaiki
sepeda saya,” aku berkata dan langsung beranjak pergi. Tapi ia memegangi
sepedaku.
“Mbak, saya
boleh ikut mbak naik sepeda?” pertanyaannya membuatku bingung.
“Maksudnya?”
“Saya juga masuk
jam 08.00 WIB, saya takut telat juga, jadi bolehkan saya ikut mbak? Nanti saya
saja yang bawa sepedanya, saya jago loh mbak naik sepeda,” akhirnya aku pun
mengizinkannya membawa sepedaku.
Fakultasnya dan
Fakultasku bersebelahan, berkat bantuannya aku tidak telat sampai ke kelas.
Wajah itu, nama itu, senyum itu mulai menghantui setiap malamku, hadir di
setiap hariku. Awal yang indah, berharap aku juga bisa mendapatkan akhir yang
indah.
Pertemenan ini
terus berlanjut. Sejak awal sudah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku, tapi
aku masih menyimpannya, berharap dia juga memiliki rasa yang sama. Berharap? Ya
hanya bisa berharap, akankah terwujud? Entahlah, aku tidak bisa menemukan
jawaban itu.
Malam tahun
baru, semua orang merayakannya dengan hura-hura, pesta memanggang, bermain
kembang api, atau hanya sekedar menikmati suara-suara petasan. Aku tidak
termasuk kedalam semua kategori itu, yang kulakukan hanyalah tidur di atas
kasurku dengan nyenyak.
“Lia bangun, Lia
banguuuuuun!”
Suara Kiky
membuyarkan mimpi indahku, ia menarikku keluar rumah. Aku terkejut, terhuyung
mengikuti langkah Kiky. Aku marah sekali, kali ini Kiky benar-benar
keterlaluan.
“Ki apa-apaan
sih, kamu tuh ya nggak bisa lihat orang senang, mengganggu orang tidur saja,
gara-gara kamu mimpi indahku jadi berantakan!” aku memarahi Kiky.
“Mimpi indah
apa?”
“Mimpi indah
bertemu dengan...” kata-kataku terhenti ketika menoleh kearah orang yang
bertanya padaku tadi, aku menatapnya lama, tak percaya ia ada disini, apa aku
masih berada dalam mimpi?
“Kak Arand? Kok
disini kak?” tanyaku masih diselimuti kebingungan.
“Iya, kakak tahu
kamu nggak mungkin pergi keluar untuk merayakan tahun baru, jadi kakak kesini
saja, bosan di kontrakan sendirian,” Ia tersenyum.
“Oh ya Ki, ini
ada ayam, jagung, arang, bumbu panggang, dan perlengkapan lainnya, ajak teman
kontrakanmu keluar, kita buat acara manggang-manggang,” Kak Arand memberikan
dua kantung besar perlengkapan memanggang ke Kiky.
“Kok kakak nggak
kasih tahu saya sih mau kesini?”
“Emang harus ya?
Kan kakak sudah bilang ke Kiky,” jawabnya dengan tersenyum dan melangkahkan
kaki ke arah teman-temanku yang sibuk mempersiapkan alat memanggang.
Apakah ini yang dinamakan ‘mimpi jadi kenyataan’
Aku tersenyum
bahagia, malam tahun baru ini kulalui bersama teman-temanku dan kak Arandra.
Terimakasih tuhan sudah mengirimkan kak Arandra padaku. Terimakasih sudah
membuatku mengerti bahwa kebersamaan itu adalah hal yang selalu kurindukan.
Tahun baru, awal
yang baru, kisah yang baru. Kisah yang baru? Ya kisah baru dalam hidupku,
dengan tokoh yang sama, cinta yang sama, namun dengan rasa yang berbeda.
Pagi ini
berharap aku bisa bertemu dengannya, menyapanya, dan melihat senyumnya. Namun
harapanku tak terwujudkan, mungkin tuhan ingin memberikan kisah yang lebih baik
lagi untukku. Aku hanya bisa berdo’a,
semoga ia bahagia dan tersenyum walau aku tak melihatnya.
“Liaaaa, gila,
ini kabar gila,” Kiky berlari kearahku dengan tergea-gesa.
“Gila kenapa
Ki?” tanyaku tak mengerti.
“Kak Arand Li,
kak Arand,” Kiky berkata terbata-bata karena kelelahan berlari.
“Iya kak Arand
kenapa?” jujur aku mulai gugup mendengar nama itu disebut, jantugku mulai
berdegup kencang.
“Kak Arand hari
ini bertunangan, tunangannya kak Sheila, Mapres Fakultas kita yang cantik itu.
Aku langsung
terkejut, terpaku mendengar kata-kata Kiky.
Apa ini? Apa ini bagian dari mimpi burukku?
Aku diam, tidak
tahu harus berbuat apa? Haruskah aku sedih karena rasaku tak terbalas? Ataukah
aku harus bahagia karena ia telah menemukan orang yang mungkin akan menjadi pendamping
hidupnya.
“Li, aku kira
dia suka kamu, aku kira kak Arand pacar kamu, ternyata bukan ya?” pertanyaan Kiky membuyarkan lamunanku.
“Hahaha, kamu
ada-ada saja Ki, aku kan tidak mau pacaran, lagian aku dan kak Arand hanya
berteman kok, syukur deh kalau kak Arand bertunangan dengan kak Sheila, dia
cantik, pintar, baik pula, pasangan yang serasi,” aku mencoba menerima
kenyataan, jujur aku sakit hati, tapi aku lega, setidaknya kak Arand bersama
dengan orang yang ku kenal baik dan kak Sheila memang pantas bersanding dengan
Kak Arand.
Benarkah aku bisa menerima kenyataan ini?
Aku mencoba, ya
aku terus mencoba menerimanya, tapi tidak bisa. Lambat laun aku mulai menjauhi
kak Arand, aku hanya berani menatapnya dari jauh. Permasalahan kecil pun ku
jadikan alasan untuk marah padanya dan tidak mau lagi bertemu dengannya. Jujur
aku memang egois, tapi aku merasa inilah jalan terbaik. Setiap kak Arand
menatapku, aku pasti langsung pergi. Rasanya ingin menangis melihatnya, melihat
tatapannya yang merasa bersalah padaku, tapi aku tidak peduli, mencoba untuk
tidak peduli tentangnya, aku tidak mau jatuh terlalu dalam, tidak mau terus
larut dalam rasa sakit ini.
“Lia, ada kak
Arand diluar,” Kiky membangunkan aku yang pura-pura tidur didalam kamarku.
Aku tidak
menjawab, aku berharap Kiky pergi, aku tidak mau bertemu dengan kak Arand. Apa
maksudnya ini? Dia sudah bertunangan, kenapa masih mau menemuiku. Aku mulai
menciptakan tokoh jahat dalam diri kak Arand, aku mulai mencoba menjadikannya
tokoh yang tidak pantas aku sebut “pangeran”.
Kiky pergi
meninggalkan kamarku, namun tak lama kemudian ia kembali lagi. Ia meletakkan
sesuatu diatas meja belajarku. Aku penasaran, setelah Kiky pergi aku melihat
ada sebuah kotak diatas mejaku. Aku meraihnya, membuka kotak itu. Dentingan
indah terdengar ketika kotak itu terbuka, kotak musik, ya kotak musik yang cantik.
Nada yang indah itu kian menyayat hatiku, aku menutupnya dan menangis. Apa ini
yang ia mau? Menyiksaku dengan segala kebaikannya, menyiksaku dengan sejuta
harapan yang ia berikan. Aku melempar kotak musik itu kearah pintu, aku
menangis meluapkan segala kekesalanku. Aku membawa kesedihanku dalam tidurku,
berharap ketika bangun semua kembali normal tanpa hadirnya sosok yang selalu
terkenang dalam benakku.
Aku berjalan
melewati trotoar, berjalan dibawah payung yang melindungiku dari derasnya
hujan. Aku suka hujan, hujan yang mampu menyembunyikan tangisku, hujan yang
seakan-akan mengerti kesedihanku. Aku terdiam menikamati suara rintikan itu,
mencoba meresapi setiap makna yang disampaikan olehnya melalui sejuta luka.
Aku tersentak
ketika sebuah helm terpental kearahku, seolah mencoba menyadarkanku dari
kesedihan ini. Entah apa yang terjadi, aku melihat dua orang tergeletak disana
dengan bersimbah darah, mobil berderet saling bertabrakan.
“kecelakaan?”
aku terkejut, aku mendengar teriakan pilu dan menyayat hati disana, aku mundur
selangkah, rasa takut ini mulai menyelimutiku.
Orang-orang
mulai berhamburan, mobil ambulans dan polisi mulai
berdatangan. Aku masih tidak bergerak dari tempatku, aku masih terpaku dengan
kejadian yang tiba-tiba ini.
Ada apa ini? Kenapa harus terjadi didepan mataku
Aku tersadar dan
mencoba pergi dari sana, aku tidak mau lagi melihat kesedihan, sudah cukup rasa
ini yang membunuhku. Tapi, Tuhan bekehendak lain, entah ini takdir, atau... ah
entahlah, aku tidak bisa berkata-kata lagi, ketika aku melihat sosok itu
terbaring lemah dan bersimbah darah.
“Kak Sheila?”
jantungku kembali berdetak kencang.
Aku mengejar
sosok itu, memandangnya tak percaya. Aku melihat sosok lain di sampingnya. Akal
sehatku mulai goyah, kesadaranku mulai menghilang, dan.. entah aku tak ingat
lagi apa yang terjadi setelah itu, yang kuingat aku tebangun dirumah sakit,
disampingku kulihat ada Kiky yang menangis.
“Ki kenapa
menangis? Apa yang terjadi?” tanyaku pada Kiky.
“Kamu tadi
pingsan Li, aku takut,” Kiky masih menangis.
“Aku tidak
apa-apa Ki, lihat aku, aku sudah bangun, ya kan?”
Kiky menatapku
sendu, ia memelukku erat, menangis dipelukanku.
“Kenapa orang
baik selalu cepat pergi ya? Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya, padahal
baru kemarin dia datang ke kontrakan untuk
menemuimu, tapi sekarang, dia... dia sudah pergi jauh,” Kiky menangis
tersedu-sedu.
Aku menatapnya
nanar, siapa yang kemarin menemuiku? Aku masih sulit untuk berfikir. Aku tidak
percaya, tidak percaya, tidak percayaaa dengan semua ini. Apa ini lelucon?
Aku menggoncang
tubuh Kiky
“Apa maksudmu
Ki? Siapa yang pergi?” aku berharap jawaban yang Kiky berikan tidak seperti
yang aku fikirkan.
“Kak Arand, Kak
Arand dan kak Sheila sudah tidak bersama kita lagi Li,”
Jawaban itu,
jawaban yang tidak kuinginkan. Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku
menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Kiky memelukku, kami saling bersandar,
mencoba mengurangi luka ini.
Ku tatap tanah
merah itu, tanah yang kini menjadi rumah mereka.
“Aku iri dengan
kalian, aku iri dengan kak Sheila,” aku mencurahkan sejuta lukaku disana.
“Kak maafkan
aku, maafkan aku, aku tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir aku
mendengar kakak datang untuk menemuiku, maafkan keegoisan rasa ini, maafkan
aku,”
Aku terpaku
menatap foto kedua orang itu, mungkin ini cara Tuhan memberikan kebahagiaan
kepada mereka, mungkin Tuhan ingin mereka bersama di surga, mungkin Tuhan ingin
tak ada yang mengganggu mereka. Ya tak akan ada lagi orang sepertiku di surga
sana, seandainya kak Arand disini, ia akan tetap merasa bersalah padaku. Walau
ia telah bersama kak Sheila, ia tak akan bahagia karena ada bayang-bayangku
yang akan terus memburunya.
Biar, biarlah
aku saja yang merasakan luka ini, biar aku saja yang membawa luka ini hingga
nanti. Aku menatap kotak musik itu, kotak musik yang telah ku hancurkan.
Penyesalan mulai menyelimuti benakku. Aku mencoba memperbaiki kotak musik itu,
namun sesuatu yang hancur tak akan mungkin bisa kembali seperti semula, ya
seperti rasa ini yang telah terkoyak oleh sejuta luka, walau bisa diobati namun
akan tetap meninggalkan bekas.
Kak maafkan aku
karena telah menjadikan kalian tokoh yang jahat dalam hidupku, maafkan aku
karena egois dengan rasa ini, maafkan aku... maafkan aku yang tak bisa menerima
kenyataan ini, dan maafkan aku karena sampai kapanpun aku tidak bisa
melupakanmu, mungkin kenangan ini akan menyakitkan bila kuingat, tapi aku tidak
pernah menyesal pernah mencintai kakak, karena berkat kakak aku tahu bagaimana
rasanya jatuh cinta, bagaimana rasanya cemburu, bagaimana rasanya terluka, dan
bagaimana sulitnya berjuang untuk menerima kenyataan. Kotak musik ini menjadi
saksi kisah kita yang tak mungkin berlanjut lagi. Sampai jumpa dikehidupan
selanjutnya kak.
Kini aku mengerti bahwa cinta tak
selamanya bisa dimiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar