Angin
berhembus sepoi-sepoi mengibarkan rambutku yang ku kuncir kuda, sebuah topi
berwarna hitam menutupi bagian atas kepalaku, melindungiku dari panasnya
matahari siang itu. Sebuah face target
terpampang 20 meter dari hadapanku. Aku menarik busurku perlahan, mencoba
merilis anak panah tepat ditengah target. Ada perasaan puas yang memenuhi
relung hatiku saat anak panah itu menancap tepat sasaran.
“Anjani,
terus latih kemampuanmu memanah, jangan sampai mengecewakan Ayah di
pertandingan nanti.” Ayahku salah satu panutanku, tetapi kadang aku merasa
tertekan saat semua yang kulakukan selalu dibawah kendali ayahku. Aku ingin
bebas, aku memang suka panahan, tapi aku tidak suka dituntut.
“Iya
Ayah,” hanya kata ‘iya’ yang kuucapkan jika sudah lelah.
Setelah
Ayahku pergi dengan urusannya, aku mulai bebas melakukan hal sesukaku.
Aku
pergi ke lapangan di kampusku, berlatih panahan bersama teman-teman unit
kegiatan disana. Tanpa Ayahku ketahui, aku ikut bergabung dalam Unit Kegiatan
Mahasiswa Panahan dikampusku. Setiap weekdays
setelah pulang kuliah aku selalu berlatih dilapangan, karena saat weekend aku tidak pernah bisa ikut
latihan. Setiap hari Sabtu dan Minggu Ayah selalu melatihku di tempat latihan
khusus yang ada disamping rumahku.
“Hai
Rama!” aku berlari menghampiri temanku yang sedang berlatih di lapangan.
“Hai
Ani, tumben hari Sabtu latihan di lapangan?” tanya Rama yang kaget saat
melihatku berlari mendekatinya dengan membawa perlengkapan panahan.
“Hari
ini hari keberuntunganku, Ayahku ada urusan mendadak diluar kota, jadi aku
dibiarkan berlatih sendirian. Aku tidak akan pernah menyianyiakan kesempatan
sebagus ini,” aku tersenyum bahagia.
“Haha,
aku bangga pada Ayahmu, Ayahmu orang yang hebat, beliau bisa melatihmu menjadi
sehebat ini. Kamu beruntung punya Ayah seorang atlet,” Rama selalu memuji Ayahku.
“Jujur
ya Ram, menurutku kamu itu lebih hebat dari Ayahku. Kamu telaten mengajariku
yang susah menangkap pelajaran ini. Kamu juga sangat jago memanah, Ayahku
beruntung karena beliau lahir lebih dulu dari kamu. Seandainya kalian lahir di
tahun yang sama dan menjadi atlet dalam waktu yang sama, aku yakin yang menjadi
atlet terhebat itu kamu bukan Ayahku,” aku berkata sejujurnya.
Rama
tertawa mendengar perkataanku. Aku memerhatikan ekspresi wajahnya saat tertawa.
Begitu menenangkan. Hanya mendengar suara tawanya saja sudah bisa membuatku
tenang. Aku selalu bisa fokus saat latihan bersama Rama.
“Hari
ini lapangan ramai ya, banyak anak kecil,” aku memerhatikan lapangan yang
sekarang berubah fungsi menjadi tempat bermain.
“Iya,
setiap weekend memang lapangan ini
banyak dipakai masyarakat, bukan dari kalangan mahasiswa saja. Ada yang bermain
sepakbola, bulu tangkis, atau hanya sekedar lari,” Rama bercerita dengan
pandangan yang masih fokus ke busurnya.
“Ada
yang pacaran juga, haha.” Aku menunjuk sepasang muda-mudi yang sedang berjalan
bergandengan tangan.
“Eh
kok jadi salah fokus, haha.” Rama ikut tertawa.
Aku
memulai latihan. Dua rambahan semua anak panah melesat tepat di target.
Rambahan ketiga aku mencoba fokus. Ketika anak panah sudah siap meluncur,
tiba-tiba dua anak laki-laki berlari di depan face target. Aku terkejut, mencoba membatalkan release, tapi aku tidak bisa. Anak panah itu terlalu cepat meluncur
dan mendarat tepat di lengan salah seorang anak. Anak kecil tersebut berteriak
dan menangis, semua yang ada disana mulai heboh. Aku tidak kalah paniknya. Rama
cepat-cepat menggendong anak itu dan membawanya kerumah sakit menggunakan mobil.
Sepanjang
perjalanan kerumah sakit aku tidak bisa berkata apapun, semuanya terasa kosong.
Anak itu terus menangis kesakitan. Rama mencoba menghubungi orangtua anak
tersebut.
“Dek
kalian pergi ke lapangan hanya berdua?” tanya Rama kepada teman anak laki-laki
yang terkena panah tadi.
“Iya
Kak,” anak itu menjawab disela tangisnya.
“Nama
kalian siapa?” tanya Rama lagi.
“Saya
Arman, dan teman saya ini Rico,” Ia mencoba memperkenalkan diri.
“Cup
jangan menangis, Rico pasti cepat sembuh. Ibu kalian sedang menuju kerumah
sakit juga,” Rama mencoba menenangkan Arman yang sejak tadi tak berhenti
menangis.
Aku
menghela nafas. Seandainya tadi tidak ada Rama mungkin aku sudah menjadi amukan
masa.
Setelah
sampai dirumah sakit, Rico langsung ditangani oleh dokter. Aku beruntung karena
orang tua Rico tidak menyalahkanku.
Ayahku
tiba-tiba datang kerumah sakit, ia langsung menarikku keluar dari rumah sakit.
“Ayah
sakit, jangan tarik-tarik tangan Ani,” Aku kesakitan karena ayahku menarik
lenganku dengan keras.
“Kamu
sekarang sudah berani melawan Ayah ya!” hal yang tak pernah kuduga, tiba-tiba
Ayahku menamparku.
Aku
menangis menahan sakit dan keterkejutanku.
“Om
ini bukan salah Ani Om,” Rama mencoba berbicara pada Ayahku.
“Saya
tahu masalah anak tadi bukan salah Ani, tapi kamu yang jadi masalahnya
sekarang. Kesalahan Ani adalah berteman dengan kamu!” Ayahku memang tidak pernah
suka aku berteman dengan Rama.
“Kenapa
Ayah menyalahkan Rama,” aku tidak mau Rama menjadi sasaran kemarahan Ayah.
“Diam
Ani, sekarang ikut Ayah pulang, tidak ada kata keluar rumah lagi.”
“Ayah
keterlaluan, aku bukan anak kecil lagi,” aku menangis sejadinya.
“Iya
ini salah saya Om, saya minta maaf, tapi jangan hukum Ani seperti ini,” Rama
memandangku dengan tatapan khawatir.
“Diam
kamu! Kalau kamu sadar ini kesalahan kamu seharusnya kamu jauhi anak saya,”
Ayah langsung mendorongku masuk ke mobil dan membawaku pulang.
Rama
terus menatapku hingga mobil Ayahku benar-benar hilang dari pandangannya.
Sesampainya
dirumah aku langsung berlari ke kamar, menangis sejadinya. Ibu yang melihatku
menangis langsung mendekati Ayah.
“Ada
apa ini Mas?” tanya Ibuku khawatir.
“Anakmu
itu sekarang sudah berani melawanku,” Ayah menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Memangnya
Ani melakukan apa?”
“Dia
berani kabur ke lapangan untuk bertemu anak kurang ajar satu itu. Bahkan dia
tadi melukai anak kecil. Aku tahu kalau Ani berteman dengan Rama pasti terjadi
hal yang tidak baik, makanya aku selalu melarangnya bertemu dengan Rama,”
Ayahku tampak sangat kesal.
Ibuku
menghela nafas panjang. Ia tahu aku salah, tapi sikap Ayah menyalahkan Rama
juga bukan hal yang bisa dibenarkan. Ibuku memilih diam untuk sekarang, Ibu
tahu kalau sekarang Ayah belum bisa menerima saran dari siapapun.
Aku
terus terisak diatas tempat tidur. Suara tangisku tak terdengar lagi setelah
aku terlarut dalam tidur.
Mentari
menyapaku pagi itu, mencoba untuk membangunkanku. Aku memegang kepalaku, ada
sehelai kain di dahiku.
“Sayang,
kamu istirahat saja dulu, buburnya dimakan ya, sudah Ibu buatkan bubur udang
kesukaan kamu,” Ibuku membelai rambutku dengan lembut.
“Aku
tidak nafsu makan Bu,” aku mendekat dan memeluk Ibuku.
“Jangan
begitu, nanti Ibu akan bicara pada Ayahmu. Ibu tahu Rama itu anak baik, hanya
Ayahmu saja yang terlalu menghawatirkanmu.” Ibu mencoba menghiburku.
“Aku
ingin pergi kuliah Bu, sayang kan kalau aku melewatkan satu mata kuliah saja,”
aku mencoba membujuk Ibuku.
“Tidak
untuk hari ini sayang, kamu juga masih demam. Istirahat saja dulu.” Ibu
mengecup keningku dan beranjak pergi keluar dari kamarku.
Ponselku
berdering, nomor Rama tertera dilayar ponsel. Aku langsung beranjak menerima
telepon.
“Halo
Rama.”
“Ani
kamu baik-baik saja? aku khawatir karena kamu tidak masuk kuliah hari ini,”
Suara Rama terdengar sangat cemas.
“Aku
baik-baik saja. Maafkan Ayahku Ram, aku tahu Ayah sudah keterlaluan kali ini,”
aku merasa bersalah pada Rama.
“Tidak
An, Ayahmu benar, tidak seharusnya kamu latihan bersamaku kemarin,”
“Tapi
seharusnya aku yang disalahkan, bukan kamu,” aku masih tidak terima jika Rama
yang selalu menjadi sasaran kemarahan Ayah.
“Tidak
usah terlalu dipikirkan Ani, istirahat saja ya, aku baik-baik saja kok,”
Aku
tahu diseberang sana Rama pasti sedang tersenyum, aku rindu senyum itu.
“Ani,
ikut Ayah sekarang,”
Aku
terkejut, tiba-tiba saja Ayahku masuk ke kamarku dan menyuruhku pergi
bersamanya. Aku mengikuti saran Ibu. Kali ini aku tetap diam dan menuruti
perkataan Ayahku.
Di
ruang tamu duduk seorang pemuda sedang berbincang dengan ibuku. Sepertinya dia
sudah kenal dekat dengan keluargaku.
“Reza,
kenalkan ini Anjani, kalian dulu pernah bertemu kan?” Ayahku mengenalkanku pada
pemuda tadi
“Hai
Ani, aku Reza, masih ingat kan?” Reza tersenyum padaku.
Aku
tersenyum pada Reza dan mengangguk.
“Reza
mau ajak kamu pergi, sekarang kamu berangkat bersama Reza,”
“Loh
kok tiba-tiba Yah, Ani kan belum ganti baju,” aku terkejut dengan kata-kata
Ayahku.
“Sudah
tidak usah ganti baju, kelamaan,”
Aku
memasang muka masam, kesal dengan sifat Ayahku yang seenaknya sendiri.
Reza
menarik tanganku dan berpamitan pada kedua orangtuaku.
“An,
kamu ingin pergi kemana?” tanya Reza padaku.
“Lah
bukannya kamu yang mengajakku pergi, kenapa tanya ke aku mau pergi kemana?” aku
masih kesal.
“Oke
oke, maaf,” Reza kembali tersenyum, kali ini nyaris tertawa.
Sepanjang
perjalanan kami hanya diam. Aku sudah kenal lama dengan Reza, dia anak yang
baik, ramah dan tampan. Kami sudah berteman sejak lama, hingga sekarang kami
tetap menjadi teman baik tanpa sepengetahuan Ayahku.
“Yuk
turun,”
Kami
berhenti di tempat latihan memanah. Tempat latihan yang tidak asing bagiku,
sejak kecil aku sering diajak kemari oleh Ayahku. Saat itu juga pertama kali
aku bertemu dengan Reza.
“Kenapa
kesini sih Za? Bosan.”
“Udah
yuk masuk dulu,” Reza menarik tanganku.
Kami
berhenti di equipment line target
nomor 7. Reza mendekati seseorang yang sedang memanah, wajahnya tertutup masker
dan topi.
Orang
itu berjalan mendekatiku dan membuka maskernya.
“Ani,
aku senang kamu baik-baik saja,”
“Rama!”
Aku hampir berteriak saat melihat wajah Rama dibalik masker itu.
“Kok
bisa kamu dan Reza?” aku masih bingung.
“Aku
dan Rama adalah sepupu, aku sudah tau tentang kalian.”
“Kok
kalian tidak pernah cerita padaku?”
“Terlalu
rumit untuk diceritakan An, yang terpenting ada satu hal yang tidak kamu
ketahui,” Reza membuatku makin penasaran.
“Apa?”
“Ayahmu
menantang Rama bertanding di pertandingan Recurve
minggu depan, dan masalahnya aku ikut terlibat,”
“Ikut
terlibat bagaimana?”
“Aku
harus melawan Rama, jika Rama kalah maka aku harus bertunangan denganmu, jika
Rama menang dia harus melawan Ayahmu,” Kata-kata Reza semakin membuatku
terkajut
“Apa?
Kok tidak adil sih? Terus apa-apaan pakai tunangan, Ayah tidak pernah
membicarakan hal ini sedikitpun padaku,” Aku benar-benar tidak terima dengan
keputusan Ayah kali ini.
“Aku
tidak bisa membantah Ayahmu secara langsung, kamu tahu sendiri kan bagaimana
sifat Ayahmu,” Reza pasrah dengan keputusan Ayah.
“Aku
akan berusaha tidak melibatkan kamu Za, kamu jalani saja peranmu sekarang, aku
akan berlatih keras,” Rama mencoba meyakinkan Reza.
“Kamu
mungkin bisa santai Ram, tapi aku tidak. Kamu tahu kan, aku tidak mungkin
menyakiti Sonya.” Reza terlihat khawatir.
“Kalau
kita sama-sama menolak aku yakin Ayah tidak akan bisa berbuat apa-apa Za. Kita
harus berbicara langsung pada Ayahku,” aku mencoba membujuk Reza.
“Tidak
semudah itu membujuk Ayahmu An, apalagi orangtuaku juga setuju dengan keputusan
Ayahmu.” Reza terlihat lesu.
“Kita
butuh strategi untuk mematahkan keputusan Ayahmu An. Percuma kalau kita
berbicara langsung, Ayahmu butuh bukti nyata bukan sekedar kata-kata.” Rama
membicarakan strategi yang akan kami pakai di pertandingan nanti.
Sepanjang
malam aku selalu memikirkan bagaimana pertandingan nanti, aku masih
menghawatirkan Rama, Reza dan Sonya. Aku tidak ingin gara-gara aku hubungan
meraka jadi hancur.
Tepat
di hari ulang tahunku, 01 April, Ayahku dan kedua sahabatku akan bertanding.
Aku masih kesal, kenapa harus aku yang jadi taruhannya.
“Ibu,
apa benar Ayahku itu orang yang baik?” Tanyaku pada Ibuku.
“Kamu
meragukan Ayahmu?” Ibuku terkejut mendengar pertanyaanku.
“Ibu
lihat, Ayah dengan bangga membawa busur ke shooting
line, disini anak gadisnya dipertaruhkan. Ayah baik macam apa yang tega
anak gadisnya menjadi taruhan,” Aku mengungkapkan kekesalanku.
“Sayang,
kamu tahu kan sejak dulu Ayahmu ingin punya menantu yang jago memanah. Ayahmu
sangat mencintai olahraga panahan,” Ibuku tersenyum sambil mengelus rambutku.
“Sepertinya
Ayah lebih mencintai busurnya daripada anaknya,” Aku memasang muka masam.
“Loh,
anak Ibu harusnya bangga dong, kamu itu sekarang seperti tuan putri yang sedang
diperebutkan oleh dua pangeran,”
“Ibuuu,
aku tidak pernah mau menjadi tuan putri yang diperebutkan oleh pangeran. Aku
ingin menjadi pendekar yang berkelana bersama sang ksatria. Ibu tahu, tuan
putri sesungguhnya sedang cemas menantikan pengerannya yang sedang bertempur
demi seorang pendekar. Ibu lihat gadis yang berdiri di belakang Reza itu, dia
kekasih Reza, namanya Sonya. Ibu bayangkan bagaimana perasaan Sonya saat ini,”
Ibuku
memandang kearah Sonya. Gadis cantik itu terlihat gelisah namun tetap mencoba
tersenyum dihadapan Reza. Aku merasa sangat bersalah, mendekati Sonya pun aku
tak sanggup.
Tak
terasa sudah memasuki babak semi final, yang tersisa hanya 4 orang, tiga
diantaranya adalah Ayahku, Rama, dan Reza. Babak kualifikasi dimenangkan oleh
Ayahku, di aduan kali ini aku berharap mereka bertiga kalah. Kali ini di target
1 Reza melawan Rama, dan di target 2 Ayahku melawan peserta lain. Aku tak
bergeming sedikitpun melihat Rama dan Reza, begitupun dengan Sonya yang sangat
serius memerhatikan Reza.
Shoot off terakhir sepertinya do’aku
dikabulkan Tuhan. Target 1 dimenangkan oleh Rama, tapi sayangnya di target 2
dimenangkan oleh Ayahku.
“Yeay!
Rama Saranghae! Yeay yeay!” Aku
terlalu bergembira sampai melompat-lompat dipinggir lapangan.
Raut
bahagia juga tampak jelas diwajah Sonya. Aku terkejut melihat Sonya menangis.
Begitu khawatirkah dia? Aku akui Ayahku orang terjahat kali ini.
Medali
emas aduan diperebutkan oleh Rama dan Ayah. Aku tidak sabar menunggu hasil
akhirnya. Pertandingan terasa sangat lama. Aku berteriak lega saat wasit
mengumumkan bahwa Rama lah pemenang babak aduan.
“Yeay
Ayah kalah! Yeay!”
Semua
orang melihatku dan tertawa, begitu juga Ibuku. Mereka pasti berfikir aku anak
yang tidak waras karena bergembira saat Ayahnya kalah bertanding.
“Jangan
senang dulu sayang, kami seri. Lihat, Ayah pegang medali emas satu, anak itu
juga memegang satu. Pertandingan belum berakhir sampai disini,” Ayahku
tersenyum bangga menepuk pundakku.
Aku
tidak mengerti dengan kata-kata Ayah. Rama dan Ayahku berpindah ke lapangan Horsebow.
“Apa?!
Mereka mau tanding horsebow Bu?” Aku
menatap mereka yang sudah bersiap membawa busur diatas kuda dengan anak panah
di punggungnya.
“Iya,
kalau mereka seri, mereka harus menyelesaikan pertandingan dengan horsebow,” jawab Ibuku.
“Ani,
aku harap Rama bisa menang lagi kali ini,” Sonya tiba-tiba sudah berdiri
disampingku.
“Ah
iya Sonya, aku juga berharap begitu,” aku masih canggung jika harus mengobrol
dengan Sonya.
“Tenang
An, Rama jagonya di horsebow.
Memangnya kamu belum pernah lihat Rama memanah sambil berkuda?” Tanya Reza
padaku.
Aku
hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Aku merasa seperti menyaksikan dua ksatria
yang sedang bertarung. Gerakan mereka sangat lincah, sedikitpun tidak ada raut
kekhawatiran di wajah mereka. Semua penonton ikut terkagum menyaksikannya.
‘Itu
Ayahku dan Ksatriaku’
Tanpa kusadari
aku tertawa sendiri menyaksikan mereka.
“Kereeeeen!”
Hasil
akhir tidak diumumkan, tetapi ditulis di papan pengumuman. Tiba-tiba semua
orang berkumpul maju kearah papan pengumuman. Aku tidak bisa melihat hasil
akhirnya.
‘Hei
aku pemern utamanys disini! Kenapa kalian menghalangiku?’
Ingin rasanya aku
berteriak seperti itu.
Aku terkejut ketika
semua orang menepi dan memberi jalan pada seseorang yang sedang menunggang
kuda.
“Anjani, maukah kau
duduk bersamaku dan menemaniku berkelana untuk selamannya?” Rama mengulurkan
tangannya padaku.
Aku masih tidak mengerti.
Aku melihat kearah Ayah dan Ibuku. Ayahku hanya tersenyum sambil mangangkat
bahunya.
Reza menepuk pundakku.
“Hei! Mau atau tidak?”
Reza menyadarkanku.
Aku tersenyum bahagia,
bahkan nyaris tertawa terbahak-bahak. Aku menyambut uluran tangan Rama dan duduk
diatas kuda. Rama memelukku dan membawaku berkeliling lapangan menggunakan
kuda. Semua yang melihat ikut bersorak bahagia, bahkan ada beberapa yang
memotret kami.
Aku menatap wajah Rama.
Jantungku berdetak kencang, tak kusangka aku bisa berada sedekat ini dengan
Rama. Perasaanku selama ini tak pernah salah.
‘Yes,
that’s rigth, you’re my knight’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar