Minggu, 30 Desember 2018

CINTA DIUJUNG PANAH


            Angin berhembus sepoi-sepoi mengibarkan rambutku yang ku kuncir kuda, sebuah topi berwarna hitam menutupi bagian atas kepalaku, melindungiku dari panasnya matahari siang itu. Sebuah face target terpampang 20 meter dari hadapanku. Aku menarik busurku perlahan, mencoba merilis anak panah tepat ditengah target. Ada perasaan puas yang memenuhi relung hatiku saat anak panah itu menancap tepat sasaran.
         “Anjani, terus latih kemampuanmu memanah, jangan sampai mengecewakan Ayah di pertandingan nanti.” Ayahku salah satu panutanku, tetapi kadang aku merasa tertekan saat semua yang kulakukan selalu dibawah kendali ayahku. Aku ingin bebas, aku memang suka panahan, tapi aku tidak suka dituntut.
              “Iya Ayah,” hanya kata ‘iya’ yang kuucapkan jika sudah lelah.
               Setelah Ayahku pergi dengan urusannya, aku mulai bebas melakukan hal sesukaku.
             Aku pergi ke lapangan di kampusku, berlatih panahan bersama teman-teman unit kegiatan disana. Tanpa Ayahku ketahui, aku ikut bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Panahan dikampusku. Setiap weekdays setelah pulang kuliah aku selalu berlatih dilapangan, karena saat weekend aku tidak pernah bisa ikut latihan. Setiap hari Sabtu dan Minggu Ayah selalu melatihku di tempat latihan khusus yang ada disamping rumahku.
              “Hai Rama!” aku berlari menghampiri temanku yang sedang berlatih di lapangan.
            “Hai Ani, tumben hari Sabtu latihan di lapangan?” tanya Rama yang kaget saat melihatku berlari mendekatinya dengan membawa perlengkapan panahan.
              “Hari ini hari keberuntunganku, Ayahku ada urusan mendadak diluar kota, jadi aku dibiarkan berlatih sendirian. Aku tidak akan pernah menyianyiakan kesempatan sebagus ini,” aku tersenyum bahagia.
              “Haha, aku bangga pada Ayahmu, Ayahmu orang yang hebat, beliau bisa melatihmu menjadi sehebat ini. Kamu beruntung punya Ayah seorang atlet,” Rama selalu memuji Ayahku.
             “Jujur ya Ram, menurutku kamu itu lebih hebat dari Ayahku. Kamu telaten mengajariku yang susah menangkap pelajaran ini. Kamu juga sangat jago memanah, Ayahku beruntung karena beliau lahir lebih dulu dari kamu. Seandainya kalian lahir di tahun yang sama dan menjadi atlet dalam waktu yang sama, aku yakin yang menjadi atlet terhebat itu kamu bukan Ayahku,” aku berkata sejujurnya.
            Rama tertawa mendengar perkataanku. Aku memerhatikan ekspresi wajahnya saat tertawa. Begitu menenangkan. Hanya mendengar suara tawanya saja sudah bisa membuatku tenang. Aku selalu bisa fokus saat latihan bersama Rama.
            “Hari ini lapangan ramai ya, banyak anak kecil,” aku memerhatikan lapangan yang sekarang berubah fungsi menjadi tempat bermain.
            “Iya, setiap weekend memang lapangan ini banyak dipakai masyarakat, bukan dari kalangan mahasiswa saja. Ada yang bermain sepakbola, bulu tangkis, atau hanya sekedar lari,” Rama bercerita dengan pandangan yang masih fokus ke busurnya.
            “Ada yang pacaran juga, haha.” Aku menunjuk sepasang muda-mudi yang sedang berjalan bergandengan tangan.
              “Eh kok jadi salah fokus, haha.” Rama ikut tertawa.
            Aku memulai latihan. Dua rambahan semua anak panah melesat tepat di target. Rambahan ketiga aku mencoba fokus. Ketika anak panah sudah siap meluncur, tiba-tiba dua anak laki-laki berlari di depan face target. Aku terkejut, mencoba membatalkan release, tapi aku tidak bisa. Anak panah itu terlalu cepat meluncur dan mendarat tepat di lengan salah seorang anak. Anak kecil tersebut berteriak dan menangis, semua yang ada disana mulai heboh. Aku tidak kalah paniknya. Rama cepat-cepat menggendong anak itu dan membawanya kerumah sakit menggunakan mobil.
            Sepanjang perjalanan kerumah sakit aku tidak bisa berkata apapun, semuanya terasa kosong. Anak itu terus menangis kesakitan. Rama mencoba menghubungi orangtua anak tersebut.
            “Dek kalian pergi ke lapangan hanya berdua?” tanya Rama kepada teman anak laki-laki yang terkena panah tadi.
            “Iya Kak,” anak itu menjawab disela tangisnya.
            “Nama kalian siapa?” tanya Rama lagi.
            “Saya Arman, dan teman saya ini Rico,” Ia mencoba memperkenalkan diri.
            “Cup jangan menangis, Rico pasti cepat sembuh. Ibu kalian sedang menuju kerumah sakit juga,” Rama mencoba menenangkan Arman yang sejak tadi tak berhenti menangis.
            Aku menghela nafas. Seandainya tadi tidak ada Rama mungkin aku sudah menjadi amukan masa.
            Setelah sampai dirumah sakit, Rico langsung ditangani oleh dokter. Aku beruntung karena orang tua Rico tidak menyalahkanku.
             Ayahku tiba-tiba datang kerumah sakit, ia langsung menarikku keluar dari rumah sakit.
            “Ayah sakit, jangan tarik-tarik tangan Ani,” Aku kesakitan karena ayahku menarik lenganku dengan keras.
          “Kamu sekarang sudah berani melawan Ayah ya!” hal yang tak pernah kuduga, tiba-tiba Ayahku menamparku.
             Aku menangis menahan sakit dan keterkejutanku.
             “Om ini bukan salah Ani Om,” Rama mencoba berbicara pada Ayahku.
           “Saya tahu masalah anak tadi bukan salah Ani, tapi kamu yang jadi masalahnya sekarang. Kesalahan Ani adalah berteman dengan kamu!” Ayahku memang tidak pernah suka aku berteman dengan Rama.
             “Kenapa Ayah menyalahkan Rama,” aku tidak mau Rama menjadi sasaran kemarahan Ayah.
            “Diam Ani, sekarang ikut Ayah pulang, tidak ada kata keluar rumah lagi.”
            “Ayah keterlaluan, aku bukan anak kecil lagi,” aku menangis sejadinya.
        “Iya ini salah saya Om, saya minta maaf, tapi jangan hukum Ani seperti ini,” Rama memandangku dengan tatapan khawatir.
            “Diam kamu! Kalau kamu sadar ini kesalahan kamu seharusnya kamu jauhi anak saya,” Ayah langsung mendorongku masuk ke mobil dan membawaku pulang.
            Rama terus menatapku hingga mobil Ayahku benar-benar hilang dari pandangannya.
           Sesampainya dirumah aku langsung berlari ke kamar, menangis sejadinya. Ibu yang melihatku menangis langsung mendekati Ayah.
            “Ada apa ini Mas?” tanya Ibuku khawatir.
            “Anakmu itu sekarang sudah berani melawanku,” Ayah menghempaskan tubuhnya di sofa.
            “Memangnya Ani melakukan apa?”
         “Dia berani kabur ke lapangan untuk bertemu anak kurang ajar satu itu. Bahkan dia tadi melukai anak kecil. Aku tahu kalau Ani berteman dengan Rama pasti terjadi hal yang tidak baik, makanya aku selalu melarangnya bertemu dengan Rama,” Ayahku tampak sangat kesal.
            Ibuku menghela nafas panjang. Ia tahu aku salah, tapi sikap Ayah menyalahkan Rama juga bukan hal yang bisa dibenarkan. Ibuku memilih diam untuk sekarang, Ibu tahu kalau sekarang Ayah belum bisa menerima saran dari siapapun.
            Aku terus terisak diatas tempat tidur. Suara tangisku tak terdengar lagi setelah aku terlarut dalam tidur.
            Mentari menyapaku pagi itu, mencoba untuk membangunkanku. Aku memegang kepalaku, ada sehelai kain di dahiku.
          “Sayang, kamu istirahat saja dulu, buburnya dimakan ya, sudah Ibu buatkan bubur udang kesukaan kamu,” Ibuku membelai rambutku dengan lembut.
             “Aku tidak nafsu makan Bu,” aku mendekat dan memeluk Ibuku.
          “Jangan begitu, nanti Ibu akan bicara pada Ayahmu. Ibu tahu Rama itu anak baik, hanya Ayahmu saja yang terlalu menghawatirkanmu.” Ibu mencoba menghiburku.
            “Aku ingin pergi kuliah Bu, sayang kan kalau aku melewatkan satu mata kuliah saja,” aku mencoba membujuk Ibuku.
            “Tidak untuk hari ini sayang, kamu juga masih demam. Istirahat saja dulu.” Ibu mengecup keningku dan beranjak pergi keluar dari kamarku.
            Ponselku berdering, nomor Rama tertera dilayar ponsel. Aku langsung beranjak menerima telepon.
              “Halo Rama.”
           “Ani kamu baik-baik saja? aku khawatir karena kamu tidak masuk kuliah hari ini,” Suara Rama terdengar sangat cemas.
            “Aku baik-baik saja. Maafkan Ayahku Ram, aku tahu Ayah sudah keterlaluan kali ini,” aku merasa bersalah pada Rama.
            “Tidak An, Ayahmu benar, tidak seharusnya kamu latihan bersamaku kemarin,”
            “Tapi seharusnya aku yang disalahkan, bukan kamu,” aku masih tidak terima jika Rama yang selalu menjadi sasaran kemarahan Ayah.
            “Tidak usah terlalu dipikirkan Ani, istirahat saja ya, aku baik-baik saja kok,”
            Aku tahu diseberang sana Rama pasti sedang tersenyum, aku rindu senyum itu.
            “Ani, ikut Ayah sekarang,”
           Aku terkejut, tiba-tiba saja Ayahku masuk ke kamarku dan menyuruhku pergi bersamanya. Aku mengikuti saran Ibu. Kali ini aku tetap diam dan menuruti perkataan Ayahku.
            Di ruang tamu duduk seorang pemuda sedang berbincang dengan ibuku. Sepertinya dia sudah kenal dekat dengan keluargaku.
            “Reza, kenalkan ini Anjani, kalian dulu pernah bertemu kan?” Ayahku mengenalkanku pada pemuda tadi
            “Hai Ani, aku Reza, masih ingat kan?” Reza tersenyum padaku.
             Aku tersenyum pada Reza dan mengangguk.
            “Reza mau ajak kamu pergi, sekarang kamu berangkat bersama Reza,”
            “Loh kok tiba-tiba Yah, Ani kan belum ganti baju,” aku terkejut dengan kata-kata Ayahku.
            “Sudah tidak usah ganti baju, kelamaan,”
             Aku memasang muka masam, kesal dengan sifat Ayahku yang seenaknya sendiri.
             Reza menarik tanganku dan berpamitan pada kedua orangtuaku.
            “An, kamu ingin pergi kemana?” tanya Reza padaku.
            “Lah bukannya kamu yang mengajakku pergi, kenapa tanya ke aku mau pergi kemana?” aku masih kesal.
            “Oke oke, maaf,” Reza kembali tersenyum, kali ini nyaris tertawa.
            Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku sudah kenal lama dengan Reza, dia anak yang baik, ramah dan tampan. Kami sudah berteman sejak lama, hingga sekarang kami tetap menjadi teman baik tanpa sepengetahuan Ayahku.
            “Yuk turun,”
            Kami berhenti di tempat latihan memanah. Tempat latihan yang tidak asing bagiku, sejak kecil aku sering diajak kemari oleh Ayahku. Saat itu juga pertama kali aku bertemu dengan Reza.
            “Kenapa kesini sih Za? Bosan.”
            “Udah yuk masuk dulu,” Reza menarik tanganku.
           Kami berhenti di equipment line target nomor 7. Reza mendekati seseorang yang sedang memanah, wajahnya tertutup masker dan topi.
             Orang itu berjalan mendekatiku dan membuka maskernya.
            “Ani, aku senang kamu baik-baik saja,”
            “Rama!” Aku hampir berteriak saat melihat wajah Rama dibalik masker itu.
            “Kok bisa kamu dan Reza?” aku masih bingung.
            “Aku dan Rama adalah sepupu, aku sudah tau tentang kalian.”
            “Kok kalian tidak pernah cerita padaku?”
            “Terlalu rumit untuk diceritakan An, yang terpenting ada satu hal yang tidak kamu ketahui,” Reza membuatku makin penasaran.
             “Apa?”
          “Ayahmu menantang Rama bertanding di pertandingan Recurve minggu depan, dan masalahnya aku ikut terlibat,”
              “Ikut terlibat bagaimana?”
            “Aku harus melawan Rama, jika Rama kalah maka aku harus bertunangan denganmu, jika Rama menang dia harus melawan Ayahmu,” Kata-kata Reza semakin membuatku terkajut
             “Apa? Kok tidak adil sih? Terus apa-apaan pakai tunangan, Ayah tidak pernah membicarakan hal ini sedikitpun padaku,” Aku benar-benar tidak terima dengan keputusan Ayah kali ini.
             “Aku tidak bisa membantah Ayahmu secara langsung, kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat Ayahmu,” Reza pasrah dengan keputusan Ayah.
             “Aku akan berusaha tidak melibatkan kamu Za, kamu jalani saja peranmu sekarang, aku akan berlatih keras,” Rama mencoba meyakinkan Reza.
           “Kamu mungkin bisa santai Ram, tapi aku tidak. Kamu tahu kan, aku tidak mungkin menyakiti Sonya.” Reza terlihat khawatir.
             “Kalau kita sama-sama menolak aku yakin Ayah tidak akan bisa berbuat apa-apa Za. Kita harus berbicara langsung pada Ayahku,” aku mencoba membujuk Reza.
            “Tidak semudah itu membujuk Ayahmu An, apalagi orangtuaku juga setuju dengan keputusan Ayahmu.” Reza terlihat lesu.
            “Kita butuh strategi untuk mematahkan keputusan Ayahmu An. Percuma kalau kita berbicara langsung, Ayahmu butuh bukti nyata bukan sekedar kata-kata.” Rama membicarakan strategi yang akan kami pakai di pertandingan nanti.
         Sepanjang malam aku selalu memikirkan bagaimana pertandingan nanti, aku masih menghawatirkan Rama, Reza dan Sonya. Aku tidak ingin gara-gara aku hubungan meraka jadi hancur.
            Tepat di hari ulang tahunku, 01 April, Ayahku dan kedua sahabatku akan bertanding. Aku masih kesal, kenapa harus aku yang jadi taruhannya.
            “Ibu, apa benar Ayahku itu orang yang baik?” Tanyaku pada Ibuku.
            “Kamu meragukan Ayahmu?” Ibuku terkejut mendengar pertanyaanku.
         “Ibu lihat, Ayah dengan bangga membawa busur ke shooting line, disini anak gadisnya dipertaruhkan. Ayah baik macam apa yang tega anak gadisnya menjadi taruhan,” Aku mengungkapkan kekesalanku.
          “Sayang, kamu tahu kan sejak dulu Ayahmu ingin punya menantu yang jago memanah. Ayahmu sangat mencintai olahraga panahan,” Ibuku tersenyum sambil mengelus rambutku.
            “Sepertinya Ayah lebih mencintai busurnya daripada anaknya,” Aku memasang muka masam.
          “Loh, anak Ibu harusnya bangga dong, kamu itu sekarang seperti tuan putri yang sedang diperebutkan oleh dua pangeran,”
            “Ibuuu, aku tidak pernah mau menjadi tuan putri yang diperebutkan oleh pangeran. Aku ingin menjadi pendekar yang berkelana bersama sang ksatria. Ibu tahu, tuan putri sesungguhnya sedang cemas menantikan pengerannya yang sedang bertempur demi seorang pendekar. Ibu lihat gadis yang berdiri di belakang Reza itu, dia kekasih Reza, namanya Sonya. Ibu bayangkan bagaimana perasaan Sonya saat ini,”
            Ibuku memandang kearah Sonya. Gadis cantik itu terlihat gelisah namun tetap mencoba tersenyum dihadapan Reza. Aku merasa sangat bersalah, mendekati Sonya pun aku tak sanggup.
            Tak terasa sudah memasuki babak semi final, yang tersisa hanya 4 orang, tiga diantaranya adalah Ayahku, Rama, dan Reza. Babak kualifikasi dimenangkan oleh Ayahku, di aduan kali ini aku berharap mereka bertiga kalah. Kali ini di target 1 Reza melawan Rama, dan di target 2 Ayahku melawan peserta lain. Aku tak bergeming sedikitpun melihat Rama dan Reza, begitupun dengan Sonya yang sangat serius memerhatikan Reza.
             Shoot off terakhir sepertinya do’aku dikabulkan Tuhan. Target 1 dimenangkan oleh Rama, tapi sayangnya di target 2 dimenangkan oleh Ayahku.
            “Yeay! Rama Saranghae! Yeay yeay!” Aku terlalu bergembira sampai melompat-lompat dipinggir lapangan.
             Raut bahagia juga tampak jelas diwajah Sonya. Aku terkejut melihat Sonya menangis. Begitu khawatirkah dia? Aku akui Ayahku orang terjahat kali ini.
            Medali emas aduan diperebutkan oleh Rama dan Ayah. Aku tidak sabar menunggu hasil akhirnya. Pertandingan terasa sangat lama. Aku berteriak lega saat wasit mengumumkan bahwa Rama lah pemenang babak aduan.
            “Yeay Ayah kalah! Yeay!”
            Semua orang melihatku dan tertawa, begitu juga Ibuku. Mereka pasti berfikir aku anak yang tidak waras karena bergembira saat Ayahnya kalah bertanding.
            “Jangan senang dulu sayang, kami seri. Lihat, Ayah pegang medali emas satu, anak itu juga memegang satu. Pertandingan belum berakhir sampai disini,” Ayahku tersenyum bangga menepuk pundakku.
          Aku tidak mengerti dengan kata-kata Ayah. Rama dan Ayahku berpindah ke lapangan Horsebow.
          “Apa?! Mereka mau tanding horsebow Bu?” Aku menatap mereka yang sudah bersiap membawa busur diatas kuda dengan anak panah di punggungnya.
            “Iya, kalau mereka seri, mereka harus menyelesaikan pertandingan dengan horsebow,” jawab Ibuku.
            “Ani, aku harap Rama bisa menang lagi kali ini,” Sonya tiba-tiba sudah berdiri disampingku.
            “Ah iya Sonya, aku juga berharap begitu,” aku masih canggung jika harus mengobrol dengan Sonya.
         “Tenang An, Rama jagonya di horsebow. Memangnya kamu belum pernah lihat Rama memanah sambil berkuda?” Tanya Reza padaku.
            Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
           Aku merasa seperti menyaksikan dua ksatria yang sedang bertarung. Gerakan mereka sangat lincah, sedikitpun tidak ada raut kekhawatiran di wajah mereka. Semua penonton ikut terkagum menyaksikannya.
            ‘Itu Ayahku dan Ksatriaku’
             Tanpa kusadari aku tertawa sendiri menyaksikan mereka.
            “Kereeeeen!”
           Hasil akhir tidak diumumkan, tetapi ditulis di papan pengumuman. Tiba-tiba semua orang berkumpul maju kearah papan pengumuman. Aku tidak bisa melihat hasil akhirnya.
‘Hei aku pemern utamanys disini! Kenapa kalian menghalangiku?’
Ingin rasanya aku berteriak seperti itu.
Aku terkejut ketika semua orang menepi dan memberi jalan pada seseorang yang sedang menunggang kuda.
“Anjani, maukah kau duduk bersamaku dan menemaniku berkelana untuk selamannya?” Rama mengulurkan tangannya padaku.
Aku masih tidak mengerti. Aku melihat kearah Ayah dan Ibuku. Ayahku hanya tersenyum sambil mangangkat bahunya.
Reza menepuk pundakku.
“Hei! Mau atau tidak?” Reza menyadarkanku.
Aku tersenyum bahagia, bahkan nyaris tertawa terbahak-bahak. Aku menyambut uluran tangan Rama dan duduk diatas kuda. Rama memelukku dan membawaku berkeliling lapangan menggunakan kuda. Semua yang melihat ikut bersorak bahagia, bahkan ada beberapa yang memotret kami.
Aku menatap wajah Rama. Jantungku berdetak kencang, tak kusangka aku bisa berada sedekat ini dengan Rama. Perasaanku selama ini tak pernah salah.
‘Yes, that’s rigth, you’re my knight’

MONOKROM

Seperti kata Tulus
Hitam putih meninggalkan banyak cerita
Tentang bagaimana aku mengenalmu
Tentang awal aku mengagumimu

Hitam putih selalu terhubung denganmu
Menjadi warna yang sulit kulupakan

Hitam dan putih adalah kamu
Hitam putih adalah candu

Setiap aku melihatnya pasti teringat tentangmu
Ketika aku teringat dirimu
Hitam dan putih menjadi tujuanku

Kau tahu, 
Dulu aku membenci warna putih
Sejak mengenalmu, 
Putih menjadi salah satu kesukaanku 

Aku tak pernah memiliki baju putih
Tapi kini,
Baju putih menjadi baju kesayanganku

Tetapi, ternyata tak selamanya hitam putih itu indah
Seperti jarak antara aku dan kamu 
Bagaikan warna hitam dan putih
Begitu terlihat jelas berbeda

Tapi hubungan kita,
Bagaikan warna hitam dicampur putih

Jumat, 14 Desember 2018

KATAKAN!

Langit mendung meraung
Melontarkan amarah pada gunung
Melempar hujan pada bumi
Membakar amarah dengan api

Hatikupun meraung
Laksana langit yang murka
Terbakar cemburu yang menggulung
Laksana ombak yang menerpa

Ah!
Kau begitu acuh
Tak pernah mengerti atau pura-pura tak peduli
Tingkahmu semakin menjadi

Aku lelah terus mengikutimu
Aku bosan terus menunggu
Aku tahu kau merasa
Tapi mengapa tiada kata 

Kau bodoh!
Jika menganggap aku akan terus bertahan
Aku juga butuh kepastian
Aku tak mau terlarut dalam harap semu 

Kau tersenyum padaku
Memberikan perhatian dan kasih sayang
Basi!
Tak usah berpura-pura
Jika akhirnya meninggalkan luka

Aku tak ingin kau benci
Aku juga tak ingin bergantung pada perhatian semu
Katakan!
Jangan hanya diam

Jika kau tak suka 
Aku akan berhenti
Jika ingin aku menunggu
Aku kan setia menunggu

Sabtu, 03 November 2018

SENDU MATAHARI DILANGIT BROMO


            “Kringggg! Kringg!”
Bunyi alarm membangunkanku di pagi hari. Aku masih enggan bangkit dari tempat tidurku. Air Conditioner dikamarku masih ku biarkan hidup dengan suhu 18ºC.
            “Lia, bangun nak sudah jam 07.00, kamu ada kuliah jam 08.00 kan?” ibuku menghampiri kamarku dan mengetuk pintu kamar.
            “Iya bu, Lia sudah bangun kok, ini lagi mau mandi,” aku menjawab dengan masih malas-malasan diatas kasur.
            “Ibu tahu kamu pasti masih tiduran diatas kasur, ayo cepat bangun,”
            Ibuku memang seperti peramal, ia selalu tahu kapan aku berbohong dan kapan aku jujur. Tanpa berpikir lama aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
            Selesai menyiapkan semua perlengkapan yang kubawa aku langsung berpamitan pergi pada ibuku.
            “Bu, Lia berangkat dulu ya,” aku mencium tangan ibuku.
            “Loh kamu tidak sarapan?” tanya ibuku.
            “Sudah jam 07.30 bu, bisa terlambat kalau aku sarapan dulu,”
            Aku pergi menuju kampus menggunakan sepeda. Hal yang aku tahu dari ibu kota adalah kemacetan yang tak henti di sepanjang jalan, asap kendaraan yang menyesakkan, bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga dan terik matahari yang menyengat kulit. Inilah alasan kenapa aku enggan untuk keluar rumah.
            Sesampainya di kampus aku langsung memarkirkan sepedaku dan berjalan menuju kelas.
            “Lia!” seseorang memanggilku dari kejauhan.
            Suara yang berat dan kaki yang jenjang, aku sangat mengenal orang itu.
            “Baru datang juga? tumben,” Rastra adalah sahabatku sejak kecil.
            “Iya nih, bangun kesiangan, hehe,”
            “Oh ya Li, besok ada acara camping, kamu ikut kan?” tanya Rastra padaku.
            “Malas ah,” jawabku singkat.
            “Yah kok gitu,” Rastra kecewa dengan jawabanku.
            “Kamu kan tahu dari dulu aku paling tidak suka pergi keluar rumah, kuliah saja kalau bukan karena kewajiban aku malas pergi,”
          “Justru itu Li, kamu harus coba hal baru, banyak hal yang belum kamu lihat diluar sana,” Rastra mencoba meyakinkanku.
           “Apa sih yang mau dilihat diluar sana? paling ya cuma macet, polusi, banjir dan sampah, tidak ada yang spesial,” aku mulai kesal dan berjalan cepat meninggalkan Rastra.
            Rastra masih menatapku yang pergi meninggalkannya. Rastra merasa kecewa dengan sikapku.
          Pukul 16.00 WIB aku sudah kembali dari kampus. Aku termasuk mahasiswa yang pasif di kampus, sejak semester 1 hingga semester 5 sekarang aku tidak pernah ikut organisasi atau kepanitiaan. Menurutku semua itu hanya hal sia-sia.
            Aku kembali sibuk dengan gitar kesayanganku. Membuat lagu adalah salah satu kesukaanku. Ibuku sangat memanjakanku, ia senang aku suka musik, semua alat musik tertata rapi dikamarku.
         “Lia kamu sedang apa? Keluar sini, kamu coba dulu perlengkapan naik gunungmu,” ibu memanggilku dari ruang tamu.
            “Hah perlengkapan apa bu?” aku terkejut mendengar perkataan ibuku.
           Aku lebih terkejut lagi ketika sampai di ruang tamu. Ibuku sibuk merapikan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki. Semua perlengkapan sudah dibeli, mulai dari carrier, sepatu, mantel, syal, topi, sampai perlengkapan kecil seperti obat-obatan pun sudah ibu persiapkan. Aku hanya bisa menghela nafas.
            “Bu ini semua untuk apa?” tanyaku.
           “Kamu kan besok akan pergi ke Bromo dengan Rastra, ibu sengaja membelikan semua ini agar kamu tidak perlu belanja lagi, ibu juga sudah menyiapkan semuanya. Ibu sangat bangga padamu, ternyata keinginan ibu selama ini bisa terwujud, ibu sangat ingin kamu melihat dunia luar, tidak hanya terpaku dengan duniamu sendiri,” ibu memelukku dengan lembut, aku merasakan kehangatan dan kebahagiaan ibuku.
            Aku sangat marah pada Rastra karena mengambil keputusan sepihak, tapi aku juga tidak tega membuat ibuku kecewa. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama Rastra.
          Keesokan harinya, pukul 04.00 WIB, Rastra datang kerumahku dengan raut wajah kemenangan. Aku menyambutnya dengan tatapan dingin. Ku tarik ia menuju kamarku.
            “Ras, kamu apa-apaan sih, aku kan sudah bilang aku tidak mau ikut camping,” aku sangat kesal pada Rastra.
            “Kita tidak ikut camping kok, ini perjalanan spesial aku dan kamu. Sudah tidak usah protes, aku jamin kamu bakal ketagihan,” Rastra tidak mau mendengar alasanku lagi, ia langsung membawa carrier milikku ke mobilnya.
            “Loh kamu mau kemana Li?” ayahku terkejut melihat aku akan pergi bersama Rastra.
            “Pergi ke gunung yah,” jawabku tak bersemangat.
            “Wah anak ayah mau jadi pendaki rupanya, ayah bangga padamu, Rastra ayah titip foto Lia ketika di kawah ya,” ayahku bahagia sekali.
            “Ayah tidak khawatir melihat anak perempuan ayah satu-satunya ini pergi ke gunung bersama laki-laki?” aku berharap ayahku memarahi Rastra dan kami batal pergi.
            “Kenapa ayah harus khawatir, ayah sudah kenal lama dengan Rastra, Rastra sudah seperti anak ayah sendiri,” jawab ayahku dengan tersenyum, ia menepuk pundak Rastra dengan bangga.
            Baik, kali ini aku benar-benar kalah telak dari Rastra.
            “Kenapa sih kita harus berangkat sepagi ini?” tanyaku pada Rastra.
            “Karena perjalanan kita jauh, kita tidak boleh membuang-buang waktu,”
            “Emang Bromo dimana sih?” tanyaku dengan polosnya.
            Ayahku tersedak kopi saat mendengar pertanyaanku.
            “Lia kamu tidak tahu Bromo itu dimana?” tanya ibuku tak percaya.
            Aku menggelengkan kepalaku.
            “Bagaimana kamu bisa mendapat juara 1 di Sekolah Dasar, Gunung Bromo saja kamu tidak tahu, ayah malu pada Rastra,” ayah mengutarakan kalimat kekecewaannya.
            “Bromo itu di Malang,” ibu memberitahuku.
            “Oh, Malang, Jawa Tengah,” jawabku dengan mantap.
            “Hahaha!” Semua yang ada diruangan tertawa.
            “Kok tertawa sih?” aku heran melihat mereka.
            “Sejak kapan Malang ada di Jawa tengah, Malang itu di Jawa Timur sayang,” ayahku terus menertawakanku.
            Aku malu sekali. Ku lihat Rastra mencoba menahan tawanya.
            “Sudah ah ayo kita berangkat, ayah ibu aku pergi dulu,” aku mencium tangan mereka.
            Perjalanan kami memang agak jauh. Rastra memilih rute yang cukup jauh, yaitu Jakarta-Semarang-Pantura ke Surabaya-Batu Malang, alasannya  adalah safety. Melalui jalur Pantura memang jaraknya jauh, namun jalannya lebar dan lurus, serta lebih banyak bengkel jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh menjadi alasan utama Rastra memilih jalur ini. Kami melakukan perjalanan nonstop selama 16 jam 30 menit.
            Kami sampai dikamar penginapan pukul 21.00 WIB. Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Perjalanan ini sangat melelahkan.
            “Kamu istirahat saja Li, biar aku yang bawa barang-barang ke kamar, jangan lupa mandi, aku mau cari makanan dulu untuk makan malam,” Rastra pergi meninggalkan kamar.
            Kami hanya menyewa satu kamar dengan dua ranjang. Aku bergegas mandi, tak kusangka air disini sangat dingin, sangat berbeda dengan di Jakarta. Aku membuka tirai jendela, berharap bisa melihat pemandangan diluar sana, tapi gelapnya malam menyembunyikan semuanya.
            “Li aku beli nasi goreng nih, yuk dimakan mumpung masih hangat, ini ada teh hangat juga,” Rastra kembali dengan membawa kantung plastik berisi makanan dan minuman.
            Aku meraih kantung itu dan langsung membukanya. Bau sedap nasi goreng itu memanjakan hidungku. Aku memakannya dengan sangat lahap, sepertinya aku kelaparan.
            “Disini cukup dingin,” aku mulai membuka pembicaraan.
            “Iya, karena disini daerah pegunungan, udaranya masih sangat bersih jauh dari polusi, besok kita akan ke kawah Bromo, malam ini istirahat yang cukup ya, karena perjalanan kita masih berlanjut besok,” Rastra membereskan bekas bungkus nasi dan membuangnya ke kotak sampah.
          Selesai makan Rastra langsung tertidur lelap, mungkin karena lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Aku memandang takjub pada Rastra, temanku satu ini memang anak yang keras kepala. Aku tidak pernah sekalipun mendengar ia mengeluh.
            Sinar matahari pagi menembus jendela membuatku terbangun dari tidurku.
           “Selamat pagi tuan putri, ayo bangun dan mandi, setelah ini kita akan berangkat ke Gunung Bromo,” Rastra sudah menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa, bahkan milikku pun sudah ia persiapkan.
           Kami keluar dari penginapan tepat jam 08.00 WIB. Kami sarapan di warung yang terletak tidak jauh dari penginapan.
            “Kita jalan kaki ke Gunungnya?” tanyaku pada Rastra.
           “Tidak, aku sudah sewa jeep, kalau jalan kaki aku yakin kamu tidak akan sanggup,” Rastra ternyata sudah menyiapkan semuanya.
             Kami tidak buang-buang waktu, selesai makan kami langsung menuju tempat penyewaan jeep. Ada seorang pemandu yang menghantarkan perjalanan kami. Sepanjang jalan aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya terpaku menatap pemandangan disana.
            Kami berhenti di area padang pasir. Padang pasirnya sangat luas.
          “Dimana kawahnya?” tanyaku penasaran.
         “Hei, perjalanan belum berakhir nona, kita baru sampai di Pasir Berbisik,” Rastra mengeluarkan masker dan kacamata. Ia memakaikannya padaku.
           “Kenapa namanya pasir berbisik?” tanyaku.
            Rastra menutup mataku dengan kedua telapak tangannya.
           “Dengarkan baik-baik, maka kamu akan mengerti,”
          Aku merasakan sentuhan lembut pasir yang beterbangan tertiup angin, gesekan angin yang menyentuh pasir tersebut membuat suara-suara indah, seolah mereka sedang berbisik. Jantungku berdetak cepat, aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
            Rastra membuka kedua telapak tangannya dan tersenyum padaku.
           “Kudanya sudah datang, sekarang kita lanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda,” Rastra menunjuk kearah dua ekor kuda yang dibawa oleh penduduk asli Gunung Bromo, atau yang biasa disebut dengan Suku Tengger.
           “Aku tidak mau naik kuda, aku takut kuda,” aku bersembunyi dibalik punggung Rastra saat kuda-kuda tersebut makin mendekati kami.
         “Jangan takut, kamu harus berani mencoba,” Rastra menarik tanganku, ia membantuku berinteraksi dengan kuda tersebut. Aku tak menyangka kalau suatu saat aku bisa naik kuda, hewan yang sejak dulu aku takuti.
            Kawah Bromo, baru kali ini aku melihat kawah secara langsung. Aku begitu takjub. Beberapa saat aku sampai lupa pada Rastra, aku asik mengabadikan keindahan Kawah Bromo menggunakan kamera.
          “Sekarang kita berfoto dan kembali ke penginapan,” Rastra mengambil kamera dan berfoto bersama denganku.
            “Aku masih ingin disini,” aku belum puas melihat-lihat pemandangan.
           “Besok pagi kita akan mendaki Gunung Penanjakan, kamu tidak boleh terlalu lelah,” Rastra bergegas mengajakku kembali.
       Malam harinya aku tidur dengan nyenyak di penginapan. Pukul 01.30 WIB Rastra membangunkanku, kami bersiap untuk mendaki gunung. Kami tidak sendiri, kali ini banyak sekali turis dan wisatawan yang berangkat mendaki.
          “Wah ternyata Gunung Bromo populer juga ya,” aku takjub melihat banyaknya turis yang antusias datang ke Bromo.
          “Semua orang tahu itu, hanya kamu yang tidak tahu,” Rastra menepuk kepalaku dan mengacak-acak rambutku.
            Perjalanan menuju puncak memang sangat melelahkan, namun semua itu terbayarkan ketika kami sampai. Aku terpaku menatap kearah timur. Aku tak pernah menyangka, matahari yang selama ini kuanggap sebagai benda yang panas dan merusak kulit bisa hadir secantik ini dipagi hari. Kehangatan sinarnya menenangkan hatiku. Aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena menyesali keangkuhanku, kemana aku selama ini? aku seperti katak yang baru keluar dari tempurung.
            “Bagaimana menurutmu Lia? Apa sekarang kamu sudah menyadarinya, Negeri kita ini Negeri yang indah. Bromo hanya salah satu keindahan yang ada di Indonesia, dibalik gunung ini dan diseberang lautan sana masih banyak keindahan yang menanti kita,” Rastra tersenyum dan menepuk pundakku.
            Kali ini aku sangat setuju dengan Rastra. Aku sangat berterimakasih pada Rastra karena telah membantuku melihat keindahan yang tak ternilai harganya.
          “Terimakasih Rastra karena telah membuatku menyadari bahwa selama ini aku hidup di Negeri yang indah,” aku tersenyum bahagia.
         Aku makin ingin mengenal Indonesia. Selama ini aku merasa sudah sangat mengenal Negeriku, ternyata aku salah. Aku bak burung didalam penangkaran, merasa tahu segalanya, padahal aku hanya tahu apa yang ada dihadapanku tanpa mau melihat apa yang ada diluar sana.
           Aku bangga pada Negeriku, Indonesia.

COPYWRITING (Perbesar Omset Jualan dengan Kata-kata)

 KULWA (Kuliah WahatsApp) Kelas Mahir Jualan Online (HaiBolu) Rabu, 25 Mei 2022 Copywriting adalah teknik membujuk pembaca melalui tulisan u...